Online Passport and the Story Behind

Online Passport and the Story Behind
Paspor sudah dalam genggaman

Paspor sudah dalam genggaman

Bikin paspor itu sebenarnya nggak ribet cuma kalau ada yang kelupaan nggak di bawa ya harus bolak balik kayak setrikaan. Sekarang sistemnya dipermudah dengan online. Setelah isi data dan bayar ke bank, kita tinggal ke kantor imigrasi dengan bawa surat-surat yang dibutuhkan untuk wawancara dan foto. Voila, paspor langsung jadi dalam 3 hari kerja.

Berhubung aku makhluk pagi, dan berstatus Bu Guru *jadi-jadian* maka nggak bisa sembarangan izin hanya untuk bikin paspor. Lagipula, aku malas kalau bikin heboh sekantor gara-gara bikin dokumen negara bersampul hijau ini. Guru-guru di sekolahku itu cukup kepo dan nggak mungkin juga aku jawab, “Mau ke Singapura buat jalan-jalan, Bu.” #SekolahLangsungGempa. Tenang, karena timing-nya bagus pas akhir semester ada libur 2 minggu. Lumayan bisa dimanfaatkan buat diam-diam bikin paspor. Mbak Aan sudah duluan jadi, aku nyusul bikin sendiri. Waktu itu aku mendaftar online hari Sabtu tanggal 14 Desember 2015.

Cukup mudah mendaftar pembuatan paspor via online. Kunjungi website imigrasi lalu pilih jenis paspor dan isi data lengkap. Jangan lupa memilih tempat pengurusan dan tanggal pengurusan. Berikut detilnya:

  1. Kunjungi website imigrasi.go.id
  2. Pilih Layanan Publik > Layanan Online > Layanan Paspor Online
  3. Klik “Pra Permohonan Personal”
  4. Pilih paspor sesuai kebutuhan. Kalau mau jalan-jalan biasa yang dipilih “48H Perorangan”. Sedangkan yang bekerja sebagai TKI dan yang ingin menunaikan ibadah Umrah dan Haji bisa pakai “24H Perorangan”. Untuk jenis paspor yang terakhir ini hanya berlaku selama 3 tahun saja.
  5. Seletah klik “lanjut”, tinggal mengisi data lengkap dan benar. Nanti kalau tidak benar jadinya salah. 😀
  6. Selanjutnya memilih imigrasi tempat mengurus pasor dan tanggal pengurusannya. Usahakan memilih lokasi yang dekat dengan tempat tinggal kecuali kalau ingin mencoba yang anti-mainstream.
  7. Next, kita akan dipertemukan dengan halaman verivikasi. Tidak usah grogi cuma isi capthca saja yang benar. Lalu klik OK.
  8. Sudah beres? Oh belum. Masih ada selangkah lagi. Klik link “Bukti Permohonan”, nanti akan muncul “Tanda Terima Pra Pemohonan”. Nah, tanda terima ini tinggal diprint dan dijadiin bukti pembayaran ke bank.
Bukti Pengantar Bank

Bukti Pengantar Bank

Daftar online sudah, langkah selanjutnya bayar ke bank. Bank yang ditunjuk untuk tempat membayar yang syah oleh kantor imigrasi adalah BNI46. Aku pergi kesana hari Rabu setelah pulang dari mengajar. Hari Senin dan Selasa langsung dicoret dari daftar karena dua hari itu aku pakai seragam, takut diciduk sama satpol PP. Maklum pulangku jam 12.00, masih jam kerja sebenarnya.

Mau membayar juga berliku ceritanya. Aku mengendarai motor dengan pelan, kejauhan aku sudah melihat logo BNI46 yang berwarna oranye dan hijau mencolok. Setelah terlanjur menyebrang jalan eh, ternyata cuma ATM. Aku tertipu #DasarBodoh. Karena malas memutar jalur maka akhirnya aku mencari BNI46 terdekat. Tibalah aku di sebuah bank, BNI Syariah sih sebenarnya. Aku pikir yang namanya sama-sama BNI ya nggak masalah bayar di manapun. Tapi prediksiku salah, dari depan pintu saja sudah ditolak sama Pak Satpam karena Syariah belum bisa menerima pembayaran paspor. Lalu Pak Satpam yang ramah itu mengarahkan aku untuk membayar di BNI46 yang sesungguhnya yakni di Jl. Slamet Riyadi. Tanpa pikir panjang aku langsung menluncur ke TKP. Ke bank ini hati-hati kalau parkir, agak aneh tempat parkirnya. Haha…cuma ngasih tahu aja.

Setelah basa basi dengan Pak Satpam dan mengutarakan maskud dan tujuan, aku segera mendapatkan nomor antrian. Belum juga dua menit duduk sudah dipanggil Mbak Teller-nya. Oh ya, biaya pembuatan paspornya Rp 355.000 tapi ditambah biaya administrasi Rp 5.000 oleh bank.

Sembari menunggu Mbak Teller memproses pembayaran. Aku yang mengganggur ini, matanya jelalatan kemana-mana, lihat TV yang menggantung di temboklah, menatap model bajunya Mbak Teller sampai mataku terpana oleh sebuah papan nama yang menempel di booth sebelah kiriku. Bukan nama buronan atau nama selebriti terkenal, hanya nama salah satu teman SMA-ku, namanya Willy.

Kaget juga, karena dulu (dulu sekali) dia pernah bilang kalau kerja di Wonogiri. Nggak nyangka bakal ketemu di Solo setelah sekian tahun lamanya. Tapi dia sedang istirahat. Aku ingin cepat-cepat beranjak pulang ketika dia tiba-tiba muncul ke permukaan, maksudnya dari balik pintu. Dia sepertinya sedikit kaget juga melihatku. Begini cuplikan percakapannya yang sudah di-translate ke dalam Bahasa Indonesia.

Dia    : “Hei.” (Pas lihat aku kayak lihat cacing–kaget)
Aku    : “Hei.” (Kaget juga kayak lihat gajah)
Dia    : “Sekarang kamu dimana?”
Aku    : “Aku balik SD lagi kok. Di daerah xxx.”
Dia    : (Lirik sebelah) “Bikin pasor mau kemana?”
Aku    : “Ke Singapura. Mau ikut?”
Dia    :” Ya, Oke.” (mata berbinar)
Aku    : “Pinmu berapa?”
Dia    : “Nanti aja ya. Hapeku ketinggalan.”
Aku    : “Oke, nanti lewat FB aja ya.”

Setelah transaksi selesai, aku langsung ngacir. Kupikir yah, paling juga iseng doank. Nggak kusangka dia sungguhan mau ikut. Oke, personil bertambah satu.

Urusan transfer uang sudah. Langkah beriukutnya pergi ke kantor imigrasi. Let’s Go!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s