My Journey with Batara Kresna

My Journey with Batara Kresna

Batara Kresna

Batara Kresna

What is Batara Kresna?

Batara Kresna adalah railbus yang diopersikan oleh PT. Kereta Api Indonesia. Dibuka sejak 5 Agustus 2012 namun karena rangkaian railbus sering rusak maka ditutup setahun kemudian. Atas prakarsa mantan Walikota Solo, Pak Jokowi, railbus ini dibuka kembali pada tanggal 11 Maret 2015 dan mulai beroperasi sehari kemudian.

Railbus ini terdiri dari dua gerbong yang masing-masing berkapasitas 26 penumpang. Tapi jangan khawatir meski tidak dapat tempat duduk, penumpang masih bisa berdiri atau duduk di lantai. Interiornya masih bagus dan sangat terjaga kebersihannya karena di dalam kereta ber-AC ini tersedia 2 buah tempat sampah.

Dengan harga Rp 4.000, penumpang sudah menikmati railbus menawan ini sampai ke Wonogiri. Dan lagi, penumpang juga menikmati kota Solo mengingat railbus ini melewati tengah kota. Rute Batara Kresna: Purwosari – Solo Kota – Sukoharjo – Pasar Nguter – Wonogiri. Tiket bisa dibeli tiga jam sebelum keberangkatan. Maksimal membeli perorang 4 lembar tiket. Untuk anak di atas 3 tahun wajib memiliki tiket sendiri.

Menurut Wikipedia, nama Batara Kresna sendiri diambil dari kisah Mahabarata yaitu Krisna atau Kresna yang bertugas menyelamatkan dunia dan menegakkan kebenaran setelah perang Kurukherta. Jadi, nama ini diharapkan bisa membuat penumpangnya bangga.

The Railbus Schedule

Berikut adalah jadwal berangkat dan kedatangan railbus, Batara Kresna. Aku ambil dari Wikipedia, yang jadwalnya lengkap.

Jadwal Lengkap Batara Kresna

Jadwal Lengkap Batara Kresna

Peta Jaringan Batara Kresna yang terpasang di atas pintu

Peta Jaringan Batara Kresna yang terpasang di atas pintu

My Journey with Batara Kresna

Sudah sekian lama sejak railbus ini resmi diluncurkan, aku kepengen banget naik. Tapi belum kesampaian, keinginan masih mengendap di angan-angan. Dan akhirnya dengan rencana dadakan, akhirnya aku menyetujui naik railbus ini sebelum bulan Ramadhan. Aku pergi hari Minggu, 14 Juni 2015 bersama ibuku, kedua adikku (Bety dan Novi), Mbak Aan dan tiga orang tetanggaku yang dua di antaranya masih anak-anak. Yah, namanya anak-anak pasti seneng juga kalau diajak naik kereta.

Menurut informasi yang kudapat Batara Kresna berangkat paling pagi pukul 6 tepat. Ibuku berangkat duluan bersama tetanggaku untuk membeli tiketnya dulu. Takut kehabisan. Ingat, satu orang hanya boleh membeli maksimal empat tiket tapi pengecualian buat Stasiun Purwosari kayaknya beli banyakpun tidak masalah.

Wujud tiketnya. Btw, pada serius  lihat apa ya *salah fokus*

Wujud tiketnya. Btw, pada serius lihat apa sih *salah fokus*

Pukul 6 kurang lima belas menit aku dan adik-adikku datang menyusul sambil menunggu kereta datang. Karena Stasiun Purwosari adalah stasiun pertama jadi kita bisa memilih tempat duduk dengan bebas, bisa selfie-selfie sepuasnya malah. Bisa pose kayang, break dance, belly dance, dan pokoknya itulah. Dipuas-puasin karena setelah masuk Stasiun Solo Kota, penumpang bertambah banyak, nggak bisa berkutik. Bahkan siap-siap tuh senggol-senggolan sama penumpang lain yang tanpa permisi naruh pantatnya di tempat dudukmu hanya karena kamu bertubuh kecil.

Di dalam Batara Kresna

Di dalam Batara Kresna

Perjalanannya sangat menyenangkan. Berhubung kita naik waktu Minggu dan melewati jalan Slamet Riyadi. Kanan kiri bisa melihat aktivitas Car Free Day, kecepatan raibus ini cukup pelan sekitar 10-13 km/jam. Alon-alon asal kelakon. Nanti ketika sudah tak melewati tengah kota, kecepatannya cukup stabil tapi ya tergolong pelanlah 24-30 km/jam. Dan membutuhkan waktu sekitar 1 jam 45 menit. Tapi, disitulah letak keunikannya, kita bisa menikmati setiap tempat yang dilewati.

Hamparan Sawah di Balik Jendela Batara Kresna Berlogo Dinas Perhubungan

Hamparan Sawah di Balik Jendela Batara Kresna Berlogo Dinas Perhubungan

Jam di pergelangan tanganku menunjukkan pukul delapan kurang lima belaslah kira-kira, kita sudah sampai Stasiun Wonogiri. Stasiun ini sangat minimalis, pun pegawainya. Sementara yang lain sedang berebut antri ke kamar mandi (yang –yah- minimalis juga), aku dan Mbak Aan sibuk berfoto di depan Batara Kresna yang masih diam menunggu waktu keberangkatan berikutnya.

Sudah Sampai di Stasiun Wonogiri

Sudah Sampai di Stasiun Wonogiri

Puas jepret sana jepret sini dan menyelesaikan urusan toilet, kita berbondong-bondong mencari tempat makan. Nyari yang anget-anget akhirnya ada Bakso. Nikmatnya~

Sebelum petualangan dilanjutkan, aku ditugaskan untuk membeli tiket bersama dengan adikku. Takut kehabisan. Tapi, sesampainya di stasiun lagi, loketnya belum dibuka. Kita harus menunggu selama setengah jam untuk membeli tiketnya. Semakin lama orang-orang semakin banyak berjubel di belakangku dan lebih parahnya lagi mereka mulai mengeluh karena loket tak kunjung buka. Dari luar bisa terlihat ada dua petugas berpakaian batik, yang perempuan terlihat sangat menikmati sarapan nasi bungkusnya dan yang laki-laki santai tak mempedulian kerumunan manusia-manusia pemburu tiket ini. Tiba-tiba ada petugas keamanan yang menyuruh kita antri memanjang ke kanan. Ada yang mengikuti da nada yang diam tak bergerak. Aku termasuk golongan yang kedua. Aku dan adikku sudah dapat depan sendiri, ogah ah pindah ke urutan yang kesekian. Lagian, kenapa juga dari awal tidak diberi batas antri atau tulisan sehingga calon penumpang bisa mengikuti jalurnya.

Stasiun Wonogiri

Stasiun Wonogiri

Beres urusan beli tiket, kita langsung meluncur ke Pasar Wonogiri. Pasar ini cukup dekat dengan stasiun, bisa ditempuh dengan jalan kaki. Sebenarnya pengennya ke Waduk Gajah Mungkur, tapi waktunya tidak memungkinkan. Kalau terpaksanya ingin, pulangnya harus menggunakan moda transportasi lain. Berhubung tujuan utamanya cuma naik kereta, ya sudah apa daya kita hanya bisa menghabiskan waktu di Pasar. Pasarnya cukup besar dan terdiri dari dua lantai. Barang dagangannya juga bervariasi, mulai dari sayuran, bumbu dapur, ikan, perlengkapan dapur hingga pakaian.

Di dalam Pasar Wonogiri

Di dalam Pasar Wonogiri

Apa yang kita lakukan di Pasar? Jawabannya belanjalah. Kalau ibuku beli ikan, tempe, pecel. Sedangkan aku cuma sempat membeli rukuh parasit, awalnya nggak niatan beli apa-apa sih. Waktu kita lebur di Pasar doank. Muter sana balik sini, nanti ketemu lagi di jalan yang sama sampai tiga kali! Yah, tersesat itu namanya.

Matahari sudah mulai terik, Batara Kresna juga hampir tiba di stasiun. Tapi kita masih terjebak di dalam Pasar. Pantang menyerah akhirnya kita bertanya dengan salah seorang bapak-bapak yang sedang santai bersama ayam-ayamnya. Ternyata jalannya yang tadi kita lewati. Oh!

Tepat waktu, berselang beberapa menit kita sampai ke stasiun, keretanya datang. Berebutlah penumpang untuk mendapat tempat duduk. Rombonganku santai aja tuh, nggak dapat tempat duduk kan masih ada lantai. Selama nggak ada larangan duduk di lantai, kita nggak keberatan kok. Orang udah kebiasaan naik Prameks yang tempat duduknya limited.

Ternyata banyak yang melakukan hal yang sama. Tapi ada ibu ibu yang katanya nggak kuat duduk di bawah jadi dia menduduki tempat sampah. Lagi setengah perjalanan eh tutupnya penyok. Hah, dasar ibu ini merusak properti.

Perjalanan pulang lancar, bahkan sampai kembali di stasiun Purwosari lebih cepat beberapa menit. Puas sudah naik Batara Kresana. Nggak banyak cerita yang bisa kutulis dari perjalanan-setengah-hari-ku, tapi cukup sudah memberiku sedikit pengalaman dan wawasan baru. Termasuk tersesat di pasar 😛

Hasil Belanja :D

Hasil Belanja 😀

A Half Day Trip Budget

Rincian pengeluaran ke Wonogiri:

  • Tiket Purwosari – Wonogiri : Rp 4,000
  • Sarapan Bakso dan Teh : Rp 12,000
  • Rukuh parasit : Rp 35,000
  • Dawet : Rp 3,000
  • Tiket Wonogiri – Purwosari : Rp  4,000
  • Parkir motor di stasiun : Rp 2,000
  • Total : Rp 60.000

My Review About Batara Kresna

          Menurutku railbus ini sudah lumayan nyaman, interiornya bagus dan kebersihannya terjaga. Ada dua buah tempat sampah di tiap gerbongnya dan ada petugas juga yang bertugas menyapu ketika railbus ini sudah hampir sampai tempat tujuan akhir. Harga tiketnyapun sangat terjangkau semua kalangan. Untuk ukuruan ketepatan waktu, railbus ini cukup baik. Paling kalau telat dua/ tiga menit. Bahkan bisa datang lebih cepat. Yang menarik adalah jalur relnya yang melewati jalan raya tengah kota.

Namun sayangnya, gerbongnya cuma ada dua, coba kalau ada banyak. Bisa muat penumpang lebih banyak dan nggak perlu berebut tiket. Sayangnya lagi, Batara Kresna memiliki jadwal pemberangkatan terakhir pukul 12.00. Jadi, untuk yang berencana One Day Trip ke Wonogiri hanya dengan Batara Kresna, nggak bisa kemana-mana dan kurang puas karena keterbatasan waktu.

Tapi, sesuai dengan namanya, Batara Kresna memang mampu membuatku bangga! Yoshh!! Buat semuanya, enjoy your journey with Solo’s pride railbus!

More Detail

Advertisements

2 thoughts on “My Journey with Batara Kresna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s