Timun Mas Story

Timun Mas Story

Timun Mas by http://static.news.lewatmana.com/

Timun Mas dan Buto Ijo by http://static.news.lewatmana.com/

Once Upon A Time…

Entah kenapa dari dulu aku sudah menyukai cerita-cerita rakyat terutama yang berasal dari Jawa Tengah. Mungkin ini efek dari kegiatan Ibuku yang seneng banget cerita sebelum aku tidur. Meskipun ceritanya sudah diulang-ulang oleh Ibuku, aku selalu ketagihan mendengarnya. Beranjak besar, aku sering berfikir bagaimana ya supaya cerita-cerita rakyat itu masih bisa didengar oleh anak dan cucuku kelak. Aku punya ide untuk membuat cerita, entah itu novel atau komik atau film atau apalah, yang mengandung unsur cerita rakyat yang dipadukan dengan setting masa kini. Jangan ditanya deh hasilnya mana karena itu masih sebatas ide. Kepikiran juga untuk mengemas cerita rakyat menjadi sesuatu yang berbeda.

Maka kutulislah cerita Timun Mas ini. Sebenarnya sih, ini naskah akan kukirim untuk lomba. Tapi karena persyaratannya terlalu rumit dan waktu itu deadline-nya mepet banget akhirnya naskah ini hanya mengendap di dalam laptop. Daripada diumpetin terus lebih baik di-post aja ya! Sori kalau tulisannya banyak yang perlu diperbaiki maklum baru belajar.hehe….

And The Story Goes…

Mbok Srini memandang nanar pantulan wajahnya yang tergambar semu di secangkir teh. Dari sana ia melihat guratan keriput yang semakin rapat, uban yang mulai mencuat dan gigi yang tak lagi kokoh. Lima menit berlalu tanpa gerakan yang berarti. Hanya memandang dan menganalisa wajah rentanya itu. Setetes air yang keluar dari matanya jatuh di dalam cangkir dan sukses membuat tehnya beriak. Seketika itulah dia sadar kalau dia merasa kesepian. Hatinya diliputi kesedihan bisa dibilang perasaannya sedikit rapuh. Ia sangat mendambakan seorang anak yang bisa menemaninya hingga tutup usia. Tapi menurutnya hal itu adalah mustahil. Suaminya meninggal beberapa tahun yang lalu tanpa mewarisi seorang buah hati. Seperti punuk yang merindukan bulan. Sore itu suasana begitu senyap. Hanya suara jangkrik yang mampir ke gendang telinga Mbok Srini. Membuat hatinya semakin kalut.

Ia segera membereskan cangkir yang masih berisi setengah lalu menyetorkannya ke tempat cuci piring. Membiarkannya menganggur hingga pagi menjelang. Mbok Srini mulai mematikan lampu di ruang tengah dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Pikiran yang terlalu berat memang menguras energinya. Tak perlu waktu lama, ia pun segera terlelap.

Tak berselang lama tidurnya mulai terusik dengan kehadiran sesosok raksasa yang menemuinya di alam mimpi. Raksasa ini memiliki kulit bersisik yang berwarna hijau kelam, seluruh giginya berupa taring tajam, matanya merah belo dan rambutnya kusut. Di dalam ketakutannya yang menjadi-jadi, Mbok Srini masih bisa mendengar jelas suara sang raksasa yang bernama Buto Ijo itu. Buto Ijo memberitahukannya bahwa ia harus pergi mengambil bungkusan di bawah pohon besar dimana ia biasa mengumpulkan kayu bakar.

Pagi itu, Mbok Srini bergegas menyusuri hutan demi mencari jawaban atas mimpinya semalam. Dan benar saja, sebuah bungkusan teronggok di bawah pohon jati yang rindang. Sesegera mungkin Mbok Srini meraih bungkusan tersebut dan membukanya dengan tidak sabar. Raut wajahnya berubah. Antusiasmenya luntur seketika. Bukan seorang bayi yang didapatnya namun hanya sebutir biji timun.

“Biji timun? Buat apa?” keluh Mbok Srini putus asa.

Tiba-tiba…

WUUUUUZZZZZ!!!

Angin berhembus dengan kencangnya, menerbangkan daun-daun kering dan hampir merobohkan pohon dengan batang kurus. Mbok Srini menggenggam biji tersebut sembari memperkokoh tubuhnya agar tidak goyah oleh galanknya angin.

“HAHAHAHAHAHA!!!” terdengar suara tawa keras yang membahana. Suara yang itu, Mbok Srini sangat mengenalnya. Iya, masih segar di ingatannya. Suara yang ada di mimpinya semalam.

Betapa terkejutnya ia ketika sesosok raksasa berdiri di hadapannya. Sangat besar dan tinggi menjulang. Penampakan yang disaksikan Mbok Srini sama seperti yang ada di mimpinya.Kulit raksasa itu masih hijau, bersisik dan tidak tebal. Taringnya juga masih setajam belati. Semuanya sama.

Sudah jatuh tertimpa tangga, bayi tak didapat justru ia akan jadi mangsa sang raksasa kelaparan. Begitu pikirnya. Mbok Srini sangat ketakutan.

“Ampun, raksasa. Jangan jadikan aku mangsamu!” teriak Mbok Srini memohon. Ia sadar tak ada waktu untuk melarikan diri.

“Tenang, Perempuan Tua,” kata Buto Ijo itu. “Aku tak sudi memakanmu. Bukankah kau menginginkan seorang anak?”

“Be..betul Tuan Raksasa,” jawab Mbok Srini terbata.

“Segeralah tanam biji timun itu dan kelak kau akan memiliki anak perempuan. Tapi ingat! Saat anakmu nanti berusia tujuh belas tahun, ia akan jadi mangsaku! Hahahaha!” Tak perlu waktu lama, Mbok Srini langsung menyetujui perjanjian tersebut.

Mbok Srini pulang dengan perasaan yang bercampur aduk antara senang akan memiliki anak, bingung dengan terkabulnya doanya selama ini dan takut dengan perjanjiannya tadi. Ia tergopoh-gopoh ke ladang belakang rumahnya yang minimalis. Hanya ada beberapa tumbuhan hidup di sana. Tak banyak buah yang sedang tumbuh hanya segelintir kacang panjang menjulur. Itupun bisa dihitung dengan jari. Tomat masih hijau dan cabaipun masih sebesar upil orang dewasa tapi syukurlah masih ada bunga telapak dara bertengger gagah di tangkainya. Setidaknya bunga itu memberinya warna di ladangnya yang gersang. Mbok Srini menggali tanah kering kerontang dengan tangannya. Lalu memasukkan biji timun itu. Menyiraminya dan memberikan pupuk istimewa setiap hari. Berharap cemas dan menanti.

Beberapa minggu kemudian. Mbok Srini mulai curiga dengan tumbuhan timun yang ia pelihara dengan kasih sayang itu. Ia yakin itu bukan tumbuhan biasa. Sebenarnya tak ada yang beda dengan tumbuhan timun biasa tapi ada yang aneh dengan buahnya. Tumbuhan timunnya hanya berbuah satu, berukuran gigantisme dan berwarna emas. Setelah memeriksa kadar kematangan buahnya, Mbok Srini segera memanen buah timun tersebut.

Diangkatnya dengan susah payah ke dalam rumah saking beratnya. Ia taruh dengan hati-hati, buah itu di atas meja dapur. Dengan perlahan ia membelah timun tersebut. Tepat setelah timun terbagi dua. Suara tangis bayi perempuan pecah memenuhi isi ruangan. Mbok Srini tak percaya apa yang dilihatnya. Seorang bayi yang selama ini ia idam-idamkan. Air dari mata Mbok Srini langsung jatuh. Ia menangis terharu. Sama seperti apa yang dilakukan sang bayi. Bayi itu terlihat begitu cantik, sehat dan masih merah. Kemudia ia menamai bayi itu dengan Timun Mas.

Hari berganti bulan, bulanpun berganti tahun. Mbok Srini merawat Timun Mas dengan penuh kasih sayang layaknya ia merawat tumbuhan timunnya dulu. Timun Maspun kini umbuh menjadi gadis yang cantik dan cerdas.

***

Pagi yang kelabu, matahari tak menampakkan batang hidungnya. Bukan namanya Timun Mas kalau tidak ceria. Ia menatap pantulan wajahnya yang jelita di depan cermin. Merapikan rambut panjang nan hitamnnya dengan sisir bergerigi jarang. Bersiap untuk melakukan aktivitasnya di hari itu. Dengan senandung kecil ia melewati ruang tengah. Langkahnya berhenti mendadak. Ia melihat ibunya termangu menopang dagu dengan pandangan kosong ke luar jendela. Tak bergerak. Tak bersuara.

“Ibu,” panggil Timun Mas. Rupanya Mbok Srini tak mendengar suaranya.

“Ibu,” ulang Timun Mas.

Mbok Srini sedikit kaget. Suara Timun Mas telah membuyarkan lamunannya. “Apa yang sedang ibu pikirkan? Kulihat beberapa hari ini Ibu tampak sedih. Kenapa, Bu?”

“Timun Mas, kemari Nak,” Mbok Srini membuat Timun Mas mendekat dan duduk di hadapnnya. “Ada yang ingin Ibu bicarakan padamu.”

“Tentang apa, Bu?” raut penasaran tergambar jelas di wajah Timun Mas.

“Dengar, Nak,” kata Mbok Srini dengan serius. “Sebentar lagi kau berusia tujuh belas tahun. Ada rahasia yang harus ibu ceritakan padamu.”

Matanya melekat tajam ke wajah Timun Mas. Tangannya yang keriput menggenggam erat tangan Timun Mas.

“Sebenarnya Timun Mas bukanlah anak kandung ibu,” kata Mbok Srini sedih.

“Apa maksud Ibu?” Timun Mas masih tidak percaya apa yang baru saja didengarnya.

“Maafkan Ibumu ini anakku! Karena telah menyimpan rahasia ini”

Kemudian setelahnya, Mbok Srini menceritakan semuanya. Mulai dari pertemuannya dengan Buto Ijo hingga biji timun yang akhirnya berbuah Timun Mas. Mendengar Ibunya berputus asa, Timun Mas menolak untuk menyerah.

“Pasti ada cara untuk mengalahkannya, Ibu.”

“Iya, anakku. Tapi apa?”

Untuk saat itu Mbok Srini tidak tahu bagaimana mengalahkan Buto Ijo tersebut. Untuk sementara Mbok Srini meminta Timun Mas untuk pura-pura sakit di saat Buto Ijo datang meminta anaknya itu.

Tepat tiga hari setelahnya, Timun Mas berbaring di tempat tidur berkelambunya. Menarik selimut hingga sebatas dagu. Berusaha terlihat kurang sehat dengan sengaja tak menyisir rambutnya dan tak memoles apapun di wajah jelitanya. Sedikit akting terbatuk telah ia coba. Ia sudah berjanji tidak akan keluar rumah sebelum Buto Ijo pergi dari rumahnya. Setidaknya itu bisa mengulur waktu.

Sementara itu, Mbok Srini menunggu Buto Ijo dengan penuh kecemasan. Sudah lebih dari satu jam ia berada di beranda rumah. Melakukan beberapa hal seperti duduk di kursi anyaman rotan, berdiri termangu, mondar mandir, menggerakkan kakinya dan bolak balik mengecek jalan setapak dari arah hutan. Kelelahan sudah hampir hinggap di bahunya ketika dedaunan bergerak-gerak tak wajar. Bukan karena angin yang pasti. Mbok Srini memasang badan penuh kewaspadaan.

Perlahan sosok yang ia tunggu muncul juga. Tubuhnya yang hijau mulai menyembul di antara pepohonan lebat. Langkah kakinya menimbulkan gempa bumi berskala kecil. Getaran itu berhenti ketika Buto Ijo sampai di pelataran rumah Mbok Srini.

“Hai perempuan tua! Mana anakmu itu? Aku sudah tak sabar ingin memangsanya.”

“Tunggu dulu Tuan Rakasasa. Timun Mas sedang sakit keras. Pastinya dagingnya tak enak untuk dimakan. Biarkan aku menyembuhkannya dulu. Kemarilah tiga hari lagi.”

Meskipun rona Buto Ijo tak menunjukkan rasa senang namun ia tak bisa berbuat banyak. Buto Ijopun segers berlalu. Beranjak pergi dengan gemuruh serupa dengan gempa termor menyertainya.

Begitu Buto Ijo sudah lenyap dari pandangan mata, Mbok Srini langsung menghambur masuk ke kamar menemui Timun Mas yang sama cemasnya dengan dirinya. Ia memeluk erat anak semata wayangnya itu dan berulang kali mendaratkan kecupannya di dahi Timun Mas.

“Ibu…” ucap Timun Mas lirih. Membuat Mbok Srini melepaskan belenggunya. Kemudian digenggamnya lengan Timun Mas dengan erat.

“Timun Mas anakku, dengarkan.Besok pagi-pagi sekali ibu akan pergi ke gunung mencari bantuan. Jangan keluar sebelum ibu pulang ke rumah. Memgerti?”

Timun Mas mengangguk pasti.

“Kita masih punya waktu tiga hari. Jangan khawatir, Nak. Kita pasti bisa mengalahkan raksasa itu.”

***

Sesuai janjinya, Mbok Srini pergi ke gunung ketika pagi masih buta. Dengan berbekal tekad yang besar, ia menyusuri rimbunnya hutan dan terjalnya medan. Ia tak tahu sudah berapa lama ia berjalan, yang pasti gunung tersebut sudah berada tepat di depan matanya.

Di lereng gunung ada sebuah goa gelap yang sekitarnya ditumbuhi semak belukar hingga hampir menutupi mulutnya. Mbok Srini menyibak beberapa helai dedaunan yang menjuntai untuk memberinya akases masuk. Tak butuh waktu lama, ia sudah disambut oleh petapa tua dengan rambut dan janggut putih. Kulitnya yang legam dan keriput menandakan ia tak dapat cukup asupan vitamin D. Mbok Srini menceritakan maksud ia menemuinya. Setelah mengerti apa yang sedang Mbok Srini bicarakan, kemudian Petapa itu pergi ke belakang untuk mengambil sesuatu.

Sembari menunggu Mbok Srini melayangkan pandangannya di setiap sudut goa. Ia tak begitu paham karena pencahayaannya memang remang-remang meski saat itu pagi hari.

Petapa itu kembali duduk di hadapan Mbok Srini dan menyerahkan sebuah bungkusan. Ia menjelaskan bahwa bungkusan tersebut berisi empat benda yaitu biji timun, jarum, garam dan terasi. Menurut dirinya keempatnya adalah benda sakti yang bisa mengalahkan Buto Ijo.

***

Dua hari setelahnya. Buto Ijo datang ke rumah Mbok Srini untuk mengambil Timun Mas. Sosoknya sudah muncul di pekarangan rumah.

“Timun Mas, keluarlah!” panggil Mbok Srini.

Meski sedikit takut dan dengan langkah gontai, Timun Mas akhirnya keluar. Dilihatnya sosok Buto Ijo yang besar dan menjulang tinggi. Rasa takut semakin menjalar ke seluruh tubuhnya.

“Ambillah bungkusan ini, Nak,” Mbok Srini mengangsur seonggok bungkusan sakti kepada Timun Mas. “Lakukan apa yang sudah ibu beritahu semalam.”

Timun Mas sangat mengerti, tak heran karena ia adalah gadis yang cerdas. Iapun mengangguk.

“Nah, Timun Mas.” kata Mbok Srini. “SEKARANG LARI!”

Timun Mas lari menuju hutan melewati Buto Ijo yang kelaparan. Buto Ijo yang merasa dipermainkan berusaha mengejarnya. Timun Mas mempercepat dan memperlebar langkangnya. Namun sayang langkah Buto Ijo beserta getarannya lebih cepat.

Timun Mas membuka bungkusan yang diberikan oleh ibunya. Diraihnya biji timun lalu ia sebarkan begitu saja. Seketika pula tumbuh ladang timun yang membentang luas. Ini mempersulit gerak Buto Ijo. Hal tersebut dimanfaatkan Timun Mas untuk segera menjauhi sosok raksasa tersebut.

Nafasnya begitu tersengal-sengal. Dalam pelariannya, Timun Mas bisa melihat kemurkaan Buto Ijo. Ia merasa Buto Ijo semakin mendekat, jebakannya tak bekerja dengan baik.

Kembali, Timun Mas merenggut barang kedua dari dalam bungkusannya. Sebuah jarum ia lemparkan ke tanah. Tiba-tiba ribuan batang pohon bambu tinggi dan runcing tumbuh dengan cepat.

Membuat Buto Ijo yang tak sengaja menginjaknya kesakitan. Kakinya berdarah-darah. Ia sempat menjatuhkam tubuhnya sekali. Menghasilkan debuman keras.

Senyum simpul Timun Mas merekah. Sedikit kemenangan ia rasakan. Namun ia tak ingin berhenti berlari. Ia bisa merasakan Buto Ijo masih berhasil lolos dan bergerak mendekat.

Tak tinggal diam, Timun Mas menebar segenggam garam untuk mengalahkan sang Buto Ijo. Hutan yang lebatpun langsung berubah menjadi samudera yang luas dan dalam. Buto Ijo tenggelam untuk sesaat. Akan tetapi dengan susah payah, ia berenang dan mencapai daratan.

Timun Mas hampir saja putus asa karena rasa capek yang mendera. Langkah kakinyapun semakin terseok-seok. Sedangkan Buto Ijo yang tak mempan oleh senjatanya nyaris menggapainya. Ia tak ingin meninggalkan ibunya sendirian. Itulah yang membuatnya memiliki tekad.

Dengan penuh keyakinan, ia meraih senjata pamungkasnya berupa terasi. Dileparkannya terasi itu ke arah Buto Ijo

Seketika itu pula hutan berubah menjadi lautan lumpur yang sama luasnya dengan samudera. Lautan tersebut bersiri lumpur yang mendidih. Buto Ijo tumbang dan tenggelam. Kali ini ia tak berkutik. Tubuhnya tertimbun lumpur. Teriakan penuh kengerian menggelegar. Namun lambat laun suaranya semakin menipis dan menguap hingga tak terdengar sama sekali. Buto Ijo telah tiada.

***

Timun Mas tak bisa mengungkapkan kegembiraannya. Kecemasan dan ketakutannya sirna tak berbekas. Ia berlari secepat yang ia bisa menuju kediamannya.

Di rumah, Mbok Srini yang jauh lebih cemas dari dirinya menunggu ketidakpastian. Pandangannya tak lepas dari hutan tempan Timun Mas dan Buto Ijo kejar-kejaran. Begitu melihat sosok Timun Mas mucul, Mbok Srini segera berlari menangkapnya. Tak peduli betapa liter keringat dan betapa banyak peluh yang menempel di tubuh Timun Mas, ia tetap memeluk dan mengecupnya ribuan kali.

“Aku berhasil, Ibu,” kata Timun Mas ceria. “Aku berhasil.”

“Syukurlah, Nak.” Tak sadar, air mata mengalir di pipi Mbok Srini. Air mata kebahagiaan. Tidak akan ada lagi rakasasa yang datang memangsa Timun Mas. Rasa syukur tak terhingga ia panjatkan karena ia bisa hidup damai dengan ibunya. Mulai sekarang, besok dan seterusnya.

THE END

Source:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s