Day 1: Serba Pertama

Day 1: Serba Pertama

For the First Time in Forever~

For the First Time in Forever~

Selasa, 10 Februari 2015

Pertama Kali ke Bandara

Setelah dua bulan menunggu, akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba juga. Pengalaman pertamaku dalam 4 hal: pertama kali ke bandara, pertama kali naik pesawat, pertama kali ke luar negeri dan pertama kali nginep di hostel.

Oh iya, penghujung tahun 2014 tepatnya tanggal 28 Desember ada insiden kecelakaan pesawat AirAsia dengan nomor penerbangan QZ8501 jurusan Surabaya – Singapura. Yang merupakan salah satu hal yang ikut mengisi kepalaku. Jujur saja, aku jadi takut naik pesawat. Otomatis perasaan was-was itu ada. Cara untuk mengurangi rasa takutku adalah dengan berusaha tidak menyimak secara detail pemberitaan tentang kecelakaan tersebut. Entah dari media televisi ataupun koran. Kalau tiba-tiba muncul langsung saja pindah chanel. Gampang kan? Mudahnya gini saja, hidup mati kan sudah ada yang atur. Santai sajalah. Tetap berdoa. Dengan begitu perjalanan tetap berlanjut donk.

Sejak pagi, aku sudah berkali-kali mempresensi barang-barang yang harus dibawa. Takut ada yang tertinggal sampai-sampai aku membawa sesuatu yang tidak penting. Simpel saja, aku hanya membawa tas ransel dan tas selempang yang berisi dokumen penting, paspor, voucher hostel dan uang. Pengennya gaya-gayaan dikit gitu tapi nggak punya koper.hehe…

Sekitar pukul sebelas, aku dan Mbak Aan meluncur ke bandara Adi Soemarmo. Dengan diantar naik mobil Kakaknya Mbak Aan beserta ibuku yang penasaran bagaimana bandara itu. Ketika kami sampai bandara ternyata Willy sudah ada di sana. Sebelum masuk ke dalam konter check in, kami berdiskusi tentang destinasi yang akan ditempuh lebih dulu. Karena memang ini yang pertama bagi kami, jadi intinerary-pun tidak dibuat. Jadi kesimpulannya, kami sama-sama nggak tahu. Spontanlah yang kami pilih. Keren kan?

Pertama Kali Terbang

Bandara Adi Sumarmo memang sederhana, konter check in-nya ada di lantai atas dengan melewati sederet butik dan toko oleh-oleh. Sebelum masuk area check in, kami membayar 100.000 untuk pajak bandara dan 25.000 untuk asuransi. Pengecekan dokumen di imigrasi bandara, yang ditanyakan paling tiket berangkat, tiket pulang dan menginap dimana. Pelayanannya nggak terlalu ramah sih. Tapi nggak masalah, namanya mau traveling ke luar negeri pertama kali. Jadi isinya cuma seneng doank. Urusan imigrasi selesai, habis itu lewat metal detector dan pemindaian tas. Tas ranselku sempat dicek, dibuka-buka gitu gara-gara botol minumku masih ada isinya. Kalau udah begitu pilihannya harus diminum sampai habis atau dibuang pihak bandaranya. Aku meminta Mbak Aan buat habisin. Bisa berabe kalau botolnya dibuang. Nggak bisa isi ulang air minum gratis di Singapura donk ya.

Oke, sekarang tinggal menunggu di ruang tunggu. Sekitar dua puluh menit sebelum landing, kami dipersilakan masuk pesawat. Pesawatnya mungil, interiornya bagus dan adem. Willy duduk di samping jendela, aku di tengah dan Mbak Aan di aisle. Tas ranselku masuk kabin, tas selempangku tetap kupakai dan jaketku kubawa karena ternyata bisa menutup kaki pas kena panas matahari yang masuk lewat jendela. Ada rasa deg-degan ketika pesawat mulai bergerak semakin cepat dan mulai terbang. Tapi begitu pesawat sudah mulai terbang dengan kecepatan stabil dan sabuk pengaman sudah boleh dilepas, saat itu juga aku sedikit lebih tenang. Pemandangannya cukup indah dari atas. Bisa melihat awan, teriknya matahari dan kota-kota dari ketinggian. Perjalanan menuju bandara Changi sekitar dua jam. Tapi untuk penerbangan kali ini pesawat mendarat 20 menit lebih cepat.

Pertama Kali Ke Luar Negeri

Tiba di bandara Changi sekitar pukul 18.00 waktu setempat. Singapura memiliki waktu satu jam lebih cepat daripada Indonesia. Waktu itu kami percaya nggak percaya gitu. Ih, beneran udah di Singapura! Singapura itu luar negeri lho. Jadi kita beneran udah ada di luar negeri. Padahal kalo dipikir-pikir Singapura cuma deketnya Batam. Gila, berasa udik gitu. Namanya juga pengalaman pertama jadi agak emejing rasanya.

karpetnya

Suka sama karpetnya.

Begitu turun, jam tangan sudah ku setting sesuai dengan waktu lokal. Lalu kami mengambil bagasi dan mengisi disembarkasion/embarkasion form. Biasalah isinya nama, dari negara mana, tinggal dimana, berapa lama. Padahal dari Indonesia udah dikasih dari Travel Agent, di pesawat juga disuruh ngisi, di bandara juga. Sekali lagi pasti dapet piring cantik -___-; Seharusnya ngisi sekali aja udah cukup, kalau ngisi semua kayak orang linglung aja.hehe..

Tourist Information.jpg

Tourist Information. Free brosur yang lengkap banget.

Kami keluar Terminal 1 menggunakan Skytrain, dari aula check-in keberangkatan Level 2 Pintu 5. Skytrain ini membawa kami ke stasiun MRT Tanah Merah, jalur warna hijau. Di sana ada dua arah yaitu Pasir Ris dan Joo Koon. Karena kami mau ke Stasiun Bugis jadi ikutnya ke arah Joo Koon.

Awalnya kami nggak ngerti cara membeli tiket MRT dan naiknya mengikuti jalur yang mana. Sempet baca dikit dari internet sih. Menurut blog yang kubaca, tiket MRT itu ada 2 yang Standart Ticket dan EZ-link. Mau pilih yang mana ya enaknya. Karena sama-sama nggak ngerti, akhirnya tanya petugasnya. Akhirnya, kami menggunakan yang Standar Ticket dengan 6 kali pemakaian. Penggunaan pertama deposit 10 sen, perjalanan ke tiga dapet kembalian 10 sen sedang penggunaan keenam dapet diskon 10 sen. Tiket ini hanya bisa digunakan selama 30 hari terhitung sejak pembelian.

2015-11-18 06.20.10.jpg

General Ticketing Machine (GTM)

Membeli kartu untuk MRTnya di mesin mirip mesin ATM. Untuk yang belum mempunyai kartu, bisa diklik ’Map’ di bawah tulisan ‘Buy Standart Ticket’. Setelah itu akan muncul peta MRT, tinggal dipilih sesuai dengan tujuan. Langkah selanjutnya memilih ‘single trip’ atau ‘return trip’. Lalu masukkan uang. Voila, kartunya sudah keluar dan bisa dipakai. Untuk yang sudah punya kartunya, lebih mudah lagi. Tinggal letakkan kartunya di atas monitor lalu mengikuti langkah yang sama seperti pertama kali membeli. Pembelian tiket MRT hanya bisa dilakukan dengan nominal uang koin (1 dolar, 50 sen, 20 sen, 10 sen) dan uang kertas (2 dolar dan 5 dolar). Kembaliannyapun paling besar 4 dolar. Penggunaannya cukup mudah tinggal menge-tap kartu MRT ketika masuk stasiun dan keluar dari stasiun.

MRT atau Mass Rapid Trans dibagi menjadi 5 jalur:

  • North South Line (NS) yaitu jalur yang berwarna merah.
  • East West Line (EW), jalur yang berwarna hijau.
  • North East Line (NE), jalur yang berwarna ungu.
  • Circle Line (CC), jalur yang berwarna kuning.
  • Downtown Line (DT), jalur yang berwrna biru.

Jalur MRT menjangkau wilayah di seluruh negeri dengan sistem yang mudah dan tertata sangat rapi. Keretanyapun selalu tepat waktu dan tiba setiap beberapa menit sekali. Peta MRT ada dimana-mana sehingga pengguna yang baru sekali datang ke Singapura tidak kesusahan. Petugasnya juga tanggap ketika ada turis yang keliatan linglung kayak aku.hehe.. Selain warna, ada tanda berbentuk lingkaran yang artinya ‘Interchange Station’ yang maksudnya bisa pindah jalur di dalam satu stasiun.

Peta MRT.jpg

Peta MRT

Alih-alih turun di MRT Little India kami malah berhenti di stasiun Bugis. Karena apa? Karena kalau turun di Little India kok jalur MRTnya nggak simple ribet gitu harus interchange ke jalur biru. Dari stasiun Bugis mau langsung jalan kaki ke hostel tapi kok perut udah dangdutan jadinya cari makan dulu di KFC.

Selesai makan mau kemana ya? Sebagai cewek yang katanya navigasinya jelek itu memang bukan mitos. Aku nggak tau arah. Beneran. Padahal tadi di Changi udah ambil brosur banyak banget salah di antaranya adalah peta. Untunglah ada Willy yang kemampuan spasialnya nggak diragukan.

Di sepanjang jalan ke hostel ternyata melewati Bugis Street yang letaknya di belakang KFC tadi. Sekalian kami beli oleh-oleh dengan harga miring. Biasalah beli oleh-oleh yang mainstream gitu kayak gantungan kunci sepuluh dolar serenteng dapet empat itu lho. Kan orang kantor ada banyak. Jadi pura-puranya ngasih oleh-oleh gitu, padahal murah. Sama beli cokelat Merlion yang sekotak isi 14 biji seharga sepuluh dolar. Selain itu kami muter-muter Bugis penasaran sih. Isinya jualannya baju, tas, gantungan kunci, makanan dll.

Bugis Street.jpg

Belanja di Bugis Street

Puas belanja oleh-oleh, kami langsung ke hostel karena udah lumayan larut ternyata. Nggak sadar ternyata udah pukul 22.25. Footprints Backpacker Hostel bisa ditemukan dengan mudah. Setelah bertanya sama orang tentunya.hehe..

Pertama Menginap di Hostel

Footprints Backpacker Hostel.jpg

Footprints Backpacker Hostel

Ini juga pengalaman pertama nginep di hostel. Waktu check in yang kita kasih ke staf resepsionis voucher hostel dan paspor. Habis itu kami dikasih kunci dan sprei beserta teman-temannya. Kamar kami di lantai 3, lumayan menguras tenaga juga. Begitu masuk (sambil ngos-ngosan) ternyata sebagian penghuninya sudah tertidur. Semuanya cewek. Kamar yang kutempati itu tidak terlalu luas yang isinya berjubel 6 bunk bed dan ada lokernya juga. Begitu selonjoran, ada turis cewek dengan ramahnya menyapa kami. Namanya Yanna, seorang guru dari Filipina tapi mengajar di Thailand. Masih muda dan cantik dengan rambut blonde-nya. Karena mengaku jalan-jalan sering traveling sendirian maka kutawari dia untuk mampir ke Indonesia sekali-kali.

Waktunya memilih bed. Pengen tidur di bed bagian bawah tapi udah penuh. Terpaksa naik-naik ke puncak gunung eh maksudnya ke bed atas. Aku memilih yang jauh dari AC, nggak kuat hawa dingin. Sedangkan Mbak Aan memilih bed yang paling dekat denganku, kalau Willy agak jauh. Sebelum tidur, kita memutuskan mandi. Buka koper dan tas pelan-pelan. Aku baru inget kalo toiletries-nya dibungkus pakai tas plastik. Duh, bikin polusi suara. Krusak krusek.

10612799_1435830020041358_4641962440833973359_n.jpg

Kamar Hoste Part l (by Yanna’s Facebook)

10984261_1435829983374695_113490240959515005_n.jpg

Kamar Hostel Part 2 (by Yanna’s Facebook)

10352889_1435831853374508_6510339260318059559_n.jpg

Loker di Kamar Hostel (by Yanna’s Facebook)

Ada kejadian lucu, waktu habis mandi aku dan Mbak Aan dengan pedenya mau masuk kamar. Namun apa yang terjadi pemirsa. Pintunya nggak bisa dibuka, baru sadar kalo kita butuh kunci buat masuk kamar. Duh, mentang-mentang keluarnya bisa otomatis terbuka tanpa sentuhan kunci. Duh (part 2), tadi kan cuma deposit satu kunci dan dibawa Willy pula. Dengan panik kita mencari cara masuk. Masa iya harus turun dulu dalam keadaan handuk masih dikalung di leher, nggak pake sandal dan bawa baju kotor. Ih nggak banget. Tiba-tiba ada seorang mbak-mbak baru keluar juga dari kamar mandi. Dengan baik hatinya dia bukain pintu dengan kuncinya. Ah syukurlah. Mbaknya tadi orang Jakarta ke Singapura karena urusan kantor. Gara-gara ngobrol sama Mbak Jakarta kita malah diberitahu buat deposit kunci 20 dolar sekalian deposit universal adapter 5 dolar. Fyi, colokan listrik di Singapura itu kaki tiga beda dengan Indonesia. Karena nggak sempet beli dari Indonesia jadi merasa beruntung kalau ternyata di hostel menyediakan. Oke deh, kita langsung cuzz ke bawah.

Malam itu kita tidur dengan lelap. Willy masih belum kembali ke kamar. Katanya mau jalan-jalan. Entah kemana. Entah sampai jam berapa. Ah, sudahlah penting tidur ya. Besok petualangan masih panjang.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s