Day 2: Jalan Kaki Tanpa Henti

Day 2: Jalan Kaki Tanpa Henti

Garden by the Bay .jpg

Garden by the Bay. Bay South.

Rabu, 11 Februari 2015

Jalan Kaki Mencari Merlion

Pagi pertamaku di Singapura. Di kamar bermunculan penghuni baru, bukan baru check in tapi penghuni yang baru pulang setelah larut malam atau malah menjelang sepertiga malam terakhir baru masuk kamar. Maklumlah cowok mah bebas. Karena masih terlalu pagi, sebagian besar mereka masih pada meringkuk di balik selimut. Namun ada cowok India berbadan kekar duduk diam bersila entah lagi ngapain dia. Sambil menanti Willy yang baru prepare, aku dan Mbak Aan memutuskan untuk turun dulu sarapan. Awalnya yang kupikirkan sarapan itu prasmanan dengan berbagai menu dan aku baru nyadar kalau ini hostel bukan hotel.haha… Jadi yang tersedia di dapur ada roti tawar, selai berbagai rasa, sereal, kopi dan teh. Lumayan bisa ambil rotinya buat bekal jalan nanti siang. Tak lupa mengisi air dari keran buat minum. Ngomong-ngomong masalah air keran di Singapura, nggak semuanya bisa diminum lho. Jadi jangan asal minum ya.

Pohon.jpg

Siap jalan-jalan ;D

Hari itu tujuan utama kami adalah pergi ke Merlion tapi ya karena nggak bikin itinerary kami langsung jalan lewat yang paling dekat. Untuk menuju MRT stasiun Marina Bay, dari stasiun Little India pakai jalur biru ke arah Chinatown tapi nanti turun di stasiun Bayfront interchange jalur kuning. Sialnya kartu yang kubeli kemarin malam kutaruh di dalam tas yang kutinggal di kamar. Terpaksa harus membeli lagi padahal yang kartu kemarin baru dipakai sekali. Setelah keluar dari stasiun MRT, kami mencari kira-kira Merlionnya lagi nunggu dimana? Kami memutuskan untuk mengikuti arah Singapore Flyer berada. Dari kejauhan udah kelihatan. Sekitar pukul 09.20, kami sampai di Helix Bridge lalu lewat di The Shopper at Marina Bay Sands. Kemudian sempet juga lewat Garden By the Bay South. Udah hampir jam sebelas tapi tujuan kami belum ketemu.

Singapore Flyer.jpg

Singapore Flyer

Singapore Flyer 1.jpg

Singapore Flyer-nya kelihatan dari kejauhan

Helix Bridge.jpg

Helix Bridge

Marina Bay Sands.jpg

Karena cuacanya cerah, Marina Bay Sands jadi kelihatan bersinar.

Garden by the Bay 1.jpg

Garden by tne Bay. Cuacanya terlalu cerah jadi harus pakai kacamata nih.

Flower Dome.jpg

Numpang lewat, Mbah.hehe….

Perjalanan masih berlanjut. Sekarang kaki kami sudah capek jadi istirahat sebentar sambil makan snack di depan Marina Bay City Gallery, tepatnya di bawah pohon rindang. Wiih, enaknya kaki bisa selonjoran.

Marina Bay City Gallery.jpg

Berteduh di depan Marina Bay City Gallery

Cuaca udah mulai terik, udah waktunya istirahat siang. Jadi banyak berlalu lalang orang-orang kantoran. Diam-diam kami memperhatikan mbak-mbak kantoran yang jalan pakai higheel dengan gesit. Langsing pula. Mantabs. Jadi ini yang dinamakan diet pembakaran lemak secara alamiah #AnggukAngguk. Akhirnya setelah perjalanan mendaki gunung lewati lembah, Merlion Park ketemu pada pukul 11.20 eh kayak anak hilang aja ya. Aku bener-bener penasaran sama Merlion yang terkenal itu. Simbol negara Singapura yang diresmikan oleh Perdana Menterinya, Mr. Lee Kuan Yew pada tanggal 15 September 1972. Dan begitu melihatnya ekspresiku, “Wow, jadi aslinya begitu ya ternyata!”

Merlion.jpg

Hai, Merlion! Ketemu juga kamu ya.

Puas selfie wefie cantik dengan Merlion. Lanjut lagi. Oh iya, kami sempet mampir di BNI46 cabang Singapura. Nggak usah heran soalnya Willy kerjanya di bank itu. Ternyata BNI46 berada di Robinson Rd daerah perbankan. Isinya bank dari berbagai negara.

BNI46.jpg

BNI46 cabang Singapura

Willy kelihatan exited gitu karena udah nemu bank ini. Nyobain masuk udah, nyobain ATMnya juga udah. Tapi asyik juga ya kalau bisa kerja di cabang Singapura.hehe… Selesai dari sana kami bingung sebetulnya mau ke Sentosa Island atau ke Botanic Garden. Namun, akhirnya kami memilih ke Sentosa mengingat jarak dan waktu. Lagian kalau nanti ke Botanic Garden, nggak bisa foto di depang Universal Studio donk ya.

Bersahabat dengan Kaki ke Sentosa Island

Sentosa Broadwalk.jpg

Sentosa Broadwalk

Karena masih sore kami memutuskan pergi ke Sentosa Island dengan naik MRT jurusan Harbor Front. Dari stasiunnya yang terletak di mall Vivo City ada tiga alternatif untuk menuju ke Sentosa Island yaitu

  • Sentosa Express. Dari VivoCity, Lobby L, Level 3. Bisa pakai EZ-link. Harga per orangnya 4 dolar (Februari 2015).
  • Singapore Cable Car Sky Network. Dari Mount Faber atau Harbourfront Tower 2. Harga 29 dolar/dewasa dan 18 dolar/anak-anak
  • Sentosa Broadwalk. Dari VivoCity Lobby F, Level 1. Gratis sampai 31 Desember 2015.

Nggak usah ditanya, kami memilih yang terakhir lagi seneng sama yang gratisan.hehe.. Lewat Sentosa Broadwalk ternyata lumayan jauh. Karena kaki mulai protes maka sesekali kami naik eskalator datar dan sesekali berhenti. Termasuk di depan pintu masuk Sentosa Island. Biasalah selonjoran.

Universal Studio, Sentosa Merlion, Madam Tussauds dan Siloso Beach adalah salah empat tempat populer yang terletak di Sentosa Island. Selain itu tercatat pula 30 atraksi ada di pulau ini. Dulu masuk Sentosa bayar satu dolar.

Kami mengunjungi Universal Studio lho. Sebebernya kami tidak benar-benar masuk ke dalam Universal Studio. Maklumlah pejalan kere lagian kami juga nggak ada niat buat masuk. Foto di depan bola dunianya yang muter-muter aja udah kelihatan kece. Eh tapi ternyata foto di depan benda itu sangatlah membutuhkan kesabaran. Nunggu tulisan ‘Universal Studio’ pas berada di tengah itu lama juga. Giliran udah pas eh gayanya nggak keren atau ada orang yang lewat di belakangnya.huhuhu~ Saking sebelnya jadi foto deket benda itu, sedikit basah nggak apa-apa deh penting oye.

Bola Dunia .jpg

Spot foto paling populer.

Universal Studios Singapore.jpg

Pintu masuk Universal Studios Singapore

Di Sentosa Island terdapat Sentosa Merlion dengan ukuran sangat besar yakni 37 meter. Uniknya, ini adalah satu-satunya Merlion yang badannya bisa kita masuki. Wow! Karena bulan Februari suasana Imlek sangat terasa dari lampion merah yang terpasang di berbagai tempat dan lentunan lagu-lagu Mandarin. Nggak banyak foto yang bisa diambil karena satu per satu baterai kami telah wafat.

Santosa.jpg

Sentosa Merlion. Foto terakhir yang kuambil sebelum hapeku mati.

Lalu di belakang patung itu ada Siloso Beach, pantai buatan yang dimiliki Singapura. Konon katanya pasirnya impor dari Indonesia. Kita patut bersyukur lho, karena punya banyak pantai asli ciptaan Tuhan yang indahnya nggak ketulungan. Singapura aja bela-belain bikin pantai. Tapi meskipun buatan, Siloso Beach itu tempat yang asyik buat liburan terbukti banyak wisatawan memadati kawasan itu. Hiburannya juga nggak kalah seru. Kami di sana nggak sempet renang atau berjemur atau bikin istana pasir atau hunting penjaga pantai ganteng atau…oke yang terakhir agak lebay. Karena waktu sudah semakin sore, kami nggak sempat mengunjungi Palawan Beach. Kami memutuskan untuk keluar dari SentosaIsland menggunakan Sentosa Express. Nggak kuat nih kaki.

Kaki Belum Berhenti Karena Mampir ke Clarke Quay dan Bugis Street Lagi

Karena kelelahan yang amat sangat maka kami pulang dan tidur di hostel. The end. Eh tunggu dulu, ceritanya belum selesai. Ada tempat lain yang direkomendasikan Willy buat dikunjungi. Katanya sih cantik banget kalau malem. Akhirnya kami naik dari stasiun Harborfront ke stasiun Clarke Quay dengan jalur ungu. Ternyata stasiunnya ada di bawah mall. Kami keluar ketika langit sudah tampak gelap. Dan benar juga Clarke Quay itu tempat asyik buat nongkrong. Banyak retaurant cafe, bar dan club. Clarke Quay punya G-Max Reverse Bungee juga, penumpangnya diombang-ambingkan hingga 60 meter ke udara dengan kecepatan 200km/jam. Ih, ngebayangin naik aja udah bikin pingsan. Kami duduk di pinggir sungai sambil mengamati orang-orang terutama yang naik boat. Sayang nggak bisa diabadikan baterai ponsel kami mati. Nggak bawa power bank dan universal adaptor-nya ketinggalan di kamar. Byuuh..

Masih ada sisa waktu sebelum pulang. Enaknya mampir ke Bugis Street lagi nih. Tiba-tiba kok pengen beli tas yang harganya 25 dolar itu lho. Pencarian oleh-oleh terakhir, kami berhasil menggondol 4 buah tas. Nambah beli apa lagi ya aku lupa. Oh mungkin beli jus.

Ketika balik ke kamar ternyata sebagian lampu sudah dimatikan. Dan aku baru sadar kalau jam menunjukkan pukul setengah sebelas. Pantesan udah sepi. Setelah membersihkan diri dalam hitungan detik langsung terlelap saking lelahnya. Udah ya udah malem, selamat tidur.

Petualangan seharian tanpa henti memberikan kesan penuh arti termasuk kaki yang lelah karena setengah berlari.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s