Hari Kartini, Saatnya Mengenakan Kebaya Ibu

Hari Kartini, Saatnya Mengenakan Kebaya Ibu

IMG_20150421_141352.jpg

Happy Kartini’s Day

About My Kartini’s Day

Pertama kali dan satu-satunya pengalamanku merayakan Hari Kartini ketika aku masih menjadi siswi di Taman Kanak-kanak. Biasanya para murid dan guru mengenakan pakaian adat. Kegiatannya adalah foto-foto upacara bendera, lomba dan makan. Waktu itu aku belum terlalu ngerti kenapa harus merayakan Hari Kartini. Boro-boro ngerti kenapa, orang Kartini itu siapa aku nggak kenal. Yang penting tanggal 21 April datang ke sekolah pakai kebaya, sanggul dan riasan wajah yang sudah ditata sejak pagi. Outfit of the Kartini’s Day-ku nggak terlalu heboh sih. Aku memakai kebaya merah yang agak kekecilan. Oke, tanganku nggak tertutup sempurna. Maklum kebayanya pinjaman dari Mbak Aan. Bawahan pakai jarik wiru yang dipinjam sepaket dengan kebayanya. Lalu, sandal selop beludrunya disewa dari salon tempat aku ber-make up. Sanggulku sangat sederhana dan nggak ada ornamen malah. Make up-nya pas buat anak TK, nggak terlalu menor. Waktu itu sih yang dipikir cuma seneng-seneng liat temen pakai bermacam-macam pakaian adat. Kenangan itu terpatri dalan memoriku. Berharap kalau suatu saat nanti bisa merayakan kembali Peringatan Hari Kartini. Setelah dua puluh tahun berikutnya aku baru merasakan hal itu.

Kebaya Penuh Kenangan

kartini in yellow.jpg

Kostum Kartini

Di SD tempatku mengajar jarang sekali mengadakan acara-acara penting seperti merayakan Hari Kartini, Pelepasan Siswa Kelas 6, Darmawisata, Lomba 17-an, Pramuka, Persami, Buka Bersama, Pesantren Kilat dll. Boleh percaya boleh tidak, tapi kenyataannya memang begitu. Mantan kepala sekolahku yang dulu, itu memang jenis kepala sekolah yang langka. Jadi harap maklum kalau sekolahku juga biasa-biasa saja. Nah, mantan kepala sekolahku sudah pensiun per November 2014, otomatis sekolah diampu sementara oleh kepala sekolah SD sebelah. Disitulah tercetus ide untuk mengikuti sekolah sebelah yang memang sejak dulu merayakan Hari Kartini.

Aku begitu excited mendengarnya. Jadi sampai di rumah aku menanyakan kepada Ibu kebaya apa yang bisa kugunakan. Ternyata di dalam almari, Ibu masih menyimpan Kebaya berbahan broklat yang digunakannya saat masih muda. Yang satu berwarna merah muda dengan model kuthu baru, yang satu lagi berwarna kuning terang dengan model kebaya biasa. Keduanya masih bagus dan jauh dari kesan jadul.

Mataku terpaku pada kebaya yang berwarna kuning, hatiku sudah menatapkan pilihannya. Ya, sudah kuputuskan aku akan memakai itu besok pagi. Kebaya kuning itu memiliki kenangan indah di balik motif bunga-bunga besarnya. Ibu, yang kala itu berumur 28 tahun mengenakkannya untuk menikah. Dan kabar baiknya, ukurannya pas di badanku. Oh, ibuku ternyata dulu selangsing aku. Untuk mengenakan kebaya penuh kenangan milik Ibu, rasanya tak sabar sampai menunggu aku menikah. Jadi, bisa digunakan waktu Hari Kartini kan?

Kebaya sudah. Bawahannya tidak mungkin aku memakai jarik wiru seperti waktu TK dulu mengingat aku naik motor. Jadi, cukup rok hijau dengan motif batik sudah bagus dipadupadankan dengan kebaya kuningnya.

Berhubung kalau ke sekolah aku mengenakan jilbab, jadi aku memakai baju dalaman berwarna hitam. Lekuk tubuhku juga nggak terlalu kelihatan. Untuk jilbannya aku memilih warna kuning juga. Aku termasuk orang yang tidak pintar membuat jilbab jadi model-model yang ada di banyak tutorial hijab. Untuk menyiasati agar model jilbab berbeda, aku meminta tolong adikku, Bety. Setidaknya dia tahu satu dua model jilbab selain yang aku gunakan sehari-hari.

Urusan sepatu terbilang mengecawakan. Soalnya, sepatu wedges yang seharusnya aku pakai, yang sudah kupilih karena warnanya pas, ternyata rusak. Jadi, aku memakai flat shoes dengan bahan jeans biru yang aku pakai jalan-jalan ke Singapura. Setidaknya tidak akan ada yang terlalu memperhatikan sepatu kan?

Sebenarnya, aku orang yang tidak pandai dalam hal fashion atau make-up. Nggak kaget juga sih.haha… Paling tidak aku memakai make up dengan urutan: moisturizer – foundation – bedak powder – bedak 2 way cake – lipstik warna coklat – blush on – maskara – selesai. Aku nggak suka yang terlalu menor.

Jangan ditanya berapa jam yang kuhabiskan untuk berdandan. Dari jam 6 sampai aku datang ke sekolah hampir terlambat. Oke, oke, aku juga ada sesi foto selfie-selfie-an sebelum berangkat.

Berbagi Hari Bersama Anak-anak

Selasa, 21 April 2015

P1000687.JPG

Upacara Bendera Memperingati Hari Kartini

Ternyata, yang antusias bukan hanya aku saja. Anak-anak sudah siap mengenakan berbagai macam pakaian adat untuk mengikuti upacara. Ada yang mengenakan kebaya putri solo, ala Madura, Betawi, heboh ala India, baju koko, kaos biasa bahkan ada yang memakai seragam biasa. Aku bertaruh bahwa hari sebelumnya dia tidak masuk sekolah. Mereka berdandan di salon dari pagi lho, sampai ada yang hampir pingsan ketika upacara berlangsung. Benar-benar total.

P1000701.JPG

Lomba Fashion Show

Selain upacara bendera, kegiatan anak-anak adalah makan bekal yang dibawa dari rumah, lomba, pembagian hadiah dan foto bersama. Lombanya juga berbeda di setiap kelas, ada yang fashion show, merangkai bunga, bernyanyi lagu daerah dan pakaian adat terbaik. Jangan dikira aku juga ikut memeriahkan lomba-lomba tersebut. Aku dan beberapa guru mapel lainnya justru sibuk membungkus hadiah di kantor. Serba cekatan karena waktunya yang mepet padahal bukunya kurang. Maklumlah ya, karena baru sekali ini lho ada acara meriah begitu.

IMG_20150421_111350.jpg

Gurur-guru tempatku mengajar lagi nebeng foto di   SD sebelah.hehehe…

Usai acara selesai dan anak-anak pulang. Giliran guru-guru yang foto bersama di depan taman kecil yang ada air mancurnya. Bukan punya sendiri sih, kita ceritanya nebeng foto di depan SD sebelah. Seru-seruan, meski kebanyakan guru sudah berumur tapi kegiatan yang singkat ini membangkitkan semangat perjuangan ya.haha… Rasanya jadi puas, mengenakan Kebaya Ibu yang penuh kenangan di Hari yang penuh kenangan bagi pejuang wanita. Setelah itu aku segera pulang membawa 150 jepretan foto yang akan menjadi kenangan di saat aku menua nanti. #lebay 😛

 

Advertisements

One thought on “Hari Kartini, Saatnya Mengenakan Kebaya Ibu

  1. Pingback: Hari Kartini dan Kebaya Buatan Ibu | Summer Ballads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s