Packing For 9D8N

Packing For 9D8N

2017-05-09 02.20.57 1.jpg

Makasih ya, Nak! Kalian sudah menemani saya jalan-jalan. ;D

Hal yang penting untuk dipersiapkan sebelum melakukan perjalanan adalah mental, fisik dan bekal yang akan dibawa. Untuk masalah mental tak perlu diragukan lagi, aku sudah siap. Aku memperbanyak membaca buku dan blog traveling tentang negara tujuan. Aku juga mencatat info pentingnya di buku notes miniku seperti Bahasa Thailand dasar contohnya. Tentu saja yang tak boleh ketinggalan adalah restu dari orang tua. Aku nggak nyangka, ternyata mudah mendapat restu dari ibu. Kirain nggak boleh pergi karena member-nya cuma dua, cewek semua pula.

Persiapan berikutnya adalah fisik, aku yang nggak hobi sama olahraga memang kurang persiapan kalau masalah fisik. Aku hanya menjaga tubuhku agar tidak sakit menjelang hari H keberangkatan tapi aku lupa sama kaki. Kaki ini seharusnya dibiasakan untuk berjalan jauh. Biar dia nggak shock, lakukan latihan seperti jogging atau jalan kaki paling tidak sebulan sebelumnya. Dengan begitu kaki nggak bakal sering minta selonjoran di pinggir jalan.hehe… ;P

Dan yang tak kalah penting adalah bekal yang akan dibawa. Kegiatan packing seharusnya dilakukan jauh-jauh hari biar nanti bisa menambahkan sesuatu ketika ada yang kurang. Berbeda dengan perjalanan pertamaku di Singapura yang hanya tiga hari tapi bawanya sealmari, maklum newbie. ;P Aku harus lebih selekif dalam mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa. Untuk traveling kali ini aku masih menggunakan backpack warna hitamku yang masih kokoh, tas selempang buat isi dokumen penting dan tas mini backpack warna hijau terang yang bisa digunakan untuk wadah makanan dan sejenisnya. Mbak Aan masih menggunakan koper berodanya tapi nggak kayak dulu bawaannya. Beberapa barang yang aku bawa di antaranya:

Paspor dan Dokumen Penting

Sudah pasti paspor menjadi benda wajib yang dibawa ketika berkunjung di luar negeri. Benda ini aku masukkan bersama dokumen penting lainnya seperti tiket pesawat dan voucher penginapan di dalam tas selempang. Selain itu, dompet beserta identitas diri dan kartu debit juga tak lupa di bawa. Sebelum berangkat cek lagi apakah kelengkapan dokumen sudah terbawa atau belum. Tiket pesawat (yang sudah di web check in tentunya) dan voucher penginapan sudah aku print out dari rumah. Meskipun sebenarnya menunjukkan e-mail pemesanan sudah bisa tapi kok rasanya nggak afdol kalau nggak megang wujudnya.haha… Untuk berjaga-jaga, aku juga sudah meng-copy paspor dan menyimpan scan-nya di ponsel. Terus aku juga print out peta jaringan MRT di Singapura dan Thailand serta LRT di Malyasia.

Uang Rupiah, Dolar Singapura, Baht dan Ringgit

Di antara keempat mata uang di atas, aku justru lebih sedikit membawa rupiah, paling-paling cuma buat bayar taksi. Karena biaya di Singapura udah bisa mengira-ira jadinya bawa uangnya juga nggak begitu banyak. Untuk Baht dan Ringgit aku membawa dengan presentase yang sama. Kalau masalah membeli mata uang asing, aku nggak pernah memperhatikan nilai tukarnya lagi naik atau turun. Paling kalau ke Desmonda pas seminggu sebelum keberangkatan.

Itinerary

Itinerary atau rencana perjalanan sangat penting untuk dibuat. Belajar dari kesalahan perjalanan sebelumnya, aku akhirnya bikin nih itinerary. Meski nggak terlalu detail sih tapi yang penting garis besarnya dapet. Pertama yang kulakukan adalah menyiapkan alat dan bahan. Etdah udah kayak mau demo masak aja. ;P Maksudnya ambil bolpoin dan kertas buat nyatet itinerary gitu lho. Habis itu tulis obyek wisata yang mau dikunjungi lalu kelompokkan berdasarkan letak yang saling berdekatan atau sejalur. Jadi obyek yang letaknya berdekatan bisa dikunjungi di hari yang sama. Bikin tabel biar mudah untuk dibuat. Cantumkan juga jamnya berapa lama kira-kira kunjungannya. Lebih bagus lagi kalau diberi ‘how to get there‘-nya.

Baju dan Alas Kaki

Sembilan hari traveling itu tidak harus membawa sembilan baju ganti, sembilan underwear, sembilan jilbab, sembilan celana, sembilan jenis kacamata, sembilan sepatu dan sembilan properti buat foto. No! Aku ke sana bukan buat OOTD cantik biar ngehits di Instagram dan juga bukan selebriti yang udah ada asisten pembawa koper segede gaban. Aku inget kalau aku cuma bawa backback buat naruh baju. Lagipula kan di hostel biasanya ada jasa binatu, bisa tuh dimanfaatkan. Jadi gini, aku bawa 6 baju lengan panjang yang nggak bikin gerah dan nggak terlalu tebal, 2 kaos pendek untuk tidur, 1 celana jeans, 5 jilbab netral yang bisa dipakai di segala warna baju, 1 rok panjang buat mengunjungi Wat, 1 cardigan, 7 underwear, sepasang flat shoes yang dipakai, sepasang sendal, sepasang sepatu karet buat keadaan darurat dan sepasang kaos kaki. Rasa-rasanya kok masih terlalu banyak ya.

Untuk bra dan celana dalam aku tempatkan di dalam tote bag terpisah dari baju-baju yang lain. Supaya gampang mengambilnya. Demi menghemat tempat, kali ini aku nggak bawa jaket. Tapi pashmina tetap menjadi andalan. Bisa buat sarung bantal, bisa buat alas sholat, bisa buat mengahangatkan tubuh kalau di pesawat nggak kuat sama AC-nya #BerasaAnakKampung, bisa juga buat tutup kepala waktu tidur kalau pas butuh ketenangan, bisa buat gaya-gayaan.

Make Up

Sebagai wanita supra natural eh super natural, aku juga butuh make up juga lho. Bawa yang versi mini aja. Yang aku bawa waktu itu foundation cair ukuran 20 ml, bedak two way cake refill, bedak powder daily series, moisturizer 50 gr, blush on dan kuasnya, lipstik dan lipgloss, pembersih dan penyegar,  cermin mini, sisir rambut mini, pita rambut, jepit rambut (yang kecil buat jepitin poni dan yang besar buat jepit rambut yang buat mandi), kapas kecantikan dibungkus pakai plastik es maksudnya nyari yang plastiknya agak kecilan gitu lho. Nggak usah dibawa semuanya. Oh iya nggak lupa bawa peniti juga. Make up-ku semua aku masukkan jadi satu ke dalam pouch biar nggak terkecer dimana-mana.

Toiletries

Urusan barang-barang toilet lebih simple lagi. Aku bawa sikat gigi, pasta gigi versi kecil, facial foam versi kecil juga, sabun mandi cair biar nggak repot bawanya, sampo versi sachet. Nggak perlu lebay bawa yang botolan soalnya aku mikir nggak mungkin tiap hari keramas kan. Terus aku bawa juga pembalut dan pantiliner. Kebetulan pas lagi dapet jadi harus bawa banyak. Bisa beli sih di sana cuma kalau nggak persiapan dari rumah rasanya ketir-ketir. Dan semuanya aku masukkan ke dalam pouch khusus buat toiletries yang anti air. Khusus pembalut aku tempatkan terpisah.

P3K

P3K adalah singkatan dari Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan. Jadi fungsinya buat berjaga-jaga kalau terjadi sesuatu yang membutuhkan pertolongan pertama. Oh oke nggak ada yang nanya. Tempatkan P3K di satu pouch dan bawa sekiranya diperlukan aja. Kalau aku bawa obat sakit kepala, obat mual, obat sakit perut, hansaplas, conterpain, minyak angin aromatherapy yang nggak bau nyong nyong. Yak cuma itu doank. Untung nggak alergian jadi nggak perlu bawa banyak obat. Maklumlah kulit badak.

Smartphone dan Kawan-kawannya

Nggak bisa dipungkiri, ponsel memang benda wajib ada di dalam perjalanan. Selain bisa buat mengabadikan momen, bisa juga buat mencari informasi penting. Jadi kalau aku ponsel tetap dibawa, charger dan headset. Kalau kamera digital aku nebeng Mbak Aan. Untuk universal adapter kami nggak ambil pusing, di hostel atau guest house biasanya menyediakan. Dari ketiga negara yang akan dikunjungi, Thailand-lah satu-satunya yang colokannya samaan dengan Indonesia. Demi menekan biaya, aku nggak beli kartu SIM lokal. Biasalah mengandalkan wifi di penginapan.

Alat Sholat

Bawa mukena parasit aja biar hemat tempat. Aku nggak bawa sajadah, kalau di hostel sholatnya pakai alas pashmina. Di Singapura dan Malaysia kan beda waktu sama di Indonesia jadi sebelumnya aku sudah mengecek jadwal sholat 5 waktu di http://www.muslimpro.com. Arah kiblat bisa dicek lewat aplikasi android. Pokoknya sekarang benar-benar mudah.

Makanan

Membawa makanan dari rumah juga nggak kalah pentingnya lho. Tapi ya nggak usah bawa banyak-banyak. Buat jaga-jaga kalau lagi nunggu dan nggak ada warung atau mini market. Yang kubawa dulu serenteng Energen, Popmie goreng, dan nasi ayam yang dibungkus buat sarapan sebelum terbang. Selain itu nggak lupa bawa tempat makan, sendok dan botol air minum.

Dan Lain-lain

Di hal lain-lain ada barang-barang remeh yang nantinya bakal berguna. Seperti payung lipat. Ini penting lho. Pada kenyataannya di sana tiga hari aku kehujanan dan membutuhkan payung. Kalau pengen yang lebih simpel bawa mantol juga bisa. Terus aku juga bawa beberapa buah tas plastik, tisue basah dan tisue kering, bolpoin dan notes buat nyatet bahan blog, jam tangan dan kacamata.

Semuanya siap untuk di-packing. Oh iya, ada kejadian yang agak menyebalkan sih menurutku. Tapi tak apalah namanya juga manusia yang merencanakan, Tuhan yang menentukan. Traveling tetap harus jalan. Begini ceritanaya, beberapa bulan setelah pembelian tiket pesawat, rute penerbangan Solo – Singapura ditutup karena sepi peminat. Otomatis kami harus mecari rute baru. Akhirnya kami memilih berangkat dari Bandara Adi Sucipto, Jogja dengan membayar tambahan biaya tiket (karena harganya beda) Rp 411.000. Ini merupakan tantangan baru karena flight-nya jam 07.25. Itu berarti kami harus berangkat dari Solo pagi buta. Oh oke challange accepted!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s