Day 2: Membeku di Dalam MRT

Day 2: Membeku di Dalam MRT

Welcome to Esplanande

Selasa, 17 November 2015

Gigih Menolak Tawaran 

Sampai hari kedua, kamar yang kami tempati masih menjadi kamar pribadi lho. Hanya ditempati kami berdua. Sepetinya bulan November bener-bener low season. Ini juga terlihat ketika kami beranjak ke dapur hostel buat sarapan. Hanya segelintir orang yang kami jumpai termasuk

Mr. Jamal yang menyapa ramah di meja makan. Kulihat  dia menikmati secangkir kopinya. Aku dan Mbak Aan memilih roti tawar dengan selai rasa buah dan secangkir susu sebagai sarapan. Kami duduk semeja dengan Mr. Jamal. Dia bercerita banyak tentang pekerjaannya dan keluarganya. Sayangnya aku lupa nama perusahaannya apa. Sudah pernah menikah dua kali dan anaknya empat. Wow!

Pukul 8 pagi, kami keluar hostel. Tanpa disangka Mr. Jamal mau mengantarkan kami ke Mustafa Centre. Cukup dekat ternyata. Mustafa Centre adalah pusat perbelanjaan yang terletak di 145 Syed Alwi Road Mustafa Center, Little India. Tempatnya luas banget, isinya komplit segala macam barang ada. Souvenir, kebutuhan sehari-hari, elektronik, kecantikan, baju dll. Tempat ini menjadi tujuan para pelancong yang pengen beli souvenir dengan harga murah. Lagipula Mustafa Center buka 24 jam dalam seminggu. Mau belanja jam berapapun bisa.

Pose di depan Mustafa Centre. Kok jadi salah fokus sama Pak Polisinya ya 😛

Sambil berjalan menyusuri lorong Mustafa Center, kami melanjutkan perbincangan dengan Mr. Jamal. Dia terkejut karena kami bercerita kalau akan melanjutkan perjalanan ke Thailand dan Malaysia setelah ini. Berdua pula. Dia juga sempat menawarkan apakah mau dibelikan tiket pesawatnya. Waduh tajir bener mau bayarin orang yang baru dikenal. Dengan sopan kami menjawab kalau semua sudah beres dari Indonesia mulai dari tiket pesawat dan tempat menginap. Begitu mendengar jawaban kami, Mr. Jamal nggak menyerah. Dia menawarkan barang-barang mulai dari universal adapter, sampo sampai sikat gigi. Kami tolak. Tak hilang akal, dia mulai menawarkan diri untuk mentraktir masakan India di daerah situ. Kami tolak secara halus. Selain nggak enak hati, lagian tadi habis sarapan jadi masih kenyang. Nraktirrnya entar siang aja gimana, Om? Pas perut lagi rame-ramenya bikin orkes keroncong.hahaha…. Sejujurnya aku nggak tahu hal-hal tersebut (menawarkan bantuan kepada orang yang baru dikenal) termasuk budaya dari negaranya atau memang ada modus lain. Pikiranku saat itu cuma, “Oh, Om ini baik.” Oh iya, sebelum melanjutkan perjalanan dia menawarkan lagi lho. Mau menemani kami ke Sentosa Island atau bayari taksi sampai ke sana. Untuk kesekian kami menolak dengan senyuman. Kemudian langsung ngaciiirrr..

Bermain-main ke Sentosa Island

Pintu Masuk Sentosa. Banyak brousr yang bisa diambi buat koleksi~

Kami langsung pergi ke Sentosa Island menggunakan MRT. Dari stasiun Farrer Park menuju stasiun Harbor Front dengan jalur ungu. Keluar dari stasiun lewat Vivo City mall. Seperti traveling Februari lalu, kami memutuskan untuk jalan kaki melewati Sentosa Broadwalk. Ternyata masuk kawasan Sentosa Island udah gratis lho. Tak lupa kami mengisi air minum di depan pintu masuk Sentosa Island. Di situ air kerannya bisa diminum.

Keran air minum di pintu masuk Sentosa Island

Masih di kawasan Pintu masuk Sentosa

Sentosa Boardwalk

Yang kami lakukan di sana adalah jalan-jalan terus lihat-lihat terus foto-foto terus udah gitu doank.haha.. Yaelah kirain banyak kegiatan. -__- Kami tertarik foto bareng Monalisa yang lagi selfie dengan pakaian nyentrik, sama bapak-bapak yang tenggelam di lubang. Patung-patung tersebut ada untuk mempromosikan Singapore Trick Eye Museum.

Mbak Monalisa lagi selfie

Bapaknya: “Tolongin saya, Mbak! Saya terjebak di dalam masa lalu.” Aku: “Bertahanlah Pak! Saya tidak akan membiarkan Bapak tenggelam di sana.” #MulaiNgawur

Sentosa Merlion

Siloso Beach

candylicious

Nggak afdol ya kalau ke Sentosa Island tuh nggak foto di depan bola dunianya Universal Studios, mengunjungi Sentosa Merlion dan ke Siloso Beach. Tapi kami merasa lebih asyik foto-foto di daerah candylicious yang banyak patung unyu-unyu berbentuk cokelat dan permen. Terlebih lagi sama pohon permennya. Berasa di negeri dongeng.

Membeku di Dalam MRT 

Esplanande

Puas bermain-main di sentosa Island kami langsung pergi ke Esplanade atau kalau orang menyebutkan gedung duren karena bentuknya yang berduri. Ternyata ke Esplanade nggak semulus pantat bayi. Gara-gara kemampuan baca peta kami yang nol besar, kami jadi salah menafsirkan jalur MRT mana yang harus diambil. Awalnya sih dengan pedenya kami menunjuk menggunakan jalur ungu untuk ke stasiun Esplanade. Nanti bisa interchange ke jalur kuning. Tapi setelah masuk MRT kok rasanya ada yang aneh. Kami melewati statiun-stasiun yang beda. Jangan-jangan tadi salah baca peta. Lha? Kok jadi begini ya. Memang kami tetap bisa sampai di statiun Esplanade tapi jadinya nggak nyampe-nyampe. Ternyata kami memilih jalur kuning. Duh! Padahal rutenya panjang. Naik MRT itu menyenangkan tapi kalau kelamaan nggak nahan sama AC-nya. Mana belum makan pula. Kami cuma bisa memandang penumpang yang silih berganti dan kami masih duduk di posisi yang sama. Membeku. Jadi kami ceritanya mengitari negara dengan MRT. Aku sama Mbak Aan cuma saling pandang dan saling bertelepati, “Kurang berapa stasiun lagi ini ya?”. Total kami melewati 22 stasiun. Gila! Memalukan!

Begitu sampai di stasiun Esplanade rasanya lega banget. Ternyata kami berada di dalam gedung Esplanade. Di dalamnya banyak karya seni lukisan yang berderet di sepanjang dinding. Ruangannya seperti di dalam tanah karena banyak pipa-pipa besar. Eh ini pintu exit-nya sebelah mana ya? Kita tersesat. TIDAAAK! #AlayDetected. Setelah berputar-putar tak tahu arah. Keluarlah kami dari tempat itu. Yang kami lakukan petama kalia adalah berjemur menghangatkan badan sambil nyemil cracker.haha…

Penampakan Esplanade dari samping. Oh, lihat pemirsa! Ada yang sedang berjemur.

Rute jalan kaki kami berkebalikan dari Februari lalu. Sekarang kami jalan dari gedung Esplanade lewat jembatan baru sampai di patung Merlion. Pada saat itu Merlion baru dalam perbaikan dalam rangka menyambut ulang tahun Singapura yang ke-50. Jadi nggak keluar airnya. Dimana-mana banyak bendera yang tulisannya ‘SG50 Majulah Singapura, Our Golden Jubilee’. Selain itu, Singapura bulan November juga suasana Natalnya udah terasa. Banyak ornamen dan pohon natal super besar yang bisa jadi spot foto-foto cantik.

Gemerlap Malam di Orchard Road

Orchard Road

Pemberhentian selanjutnya Orchard Road. Cara bisa sampai di Orcrad Road yaitu dari Stasiun Raffles Place ke stasiun Orchard melalui jalur biru lalu interchange jalur merah. Karena kelaparan kami memutuskan untuk membeli Soya Sauce Chicken Rice di 7-11. Sambil selonjoran di depan gedung ION.

Suasan malam di Orchard Road berasa gemerlapan. Di Orchard memang terkenal dengan pusat belanja barang-barang bermerk seperti Prada, Luis Vuitton, Dior, Tiffany & Co, Dolce & Gabbana dan sebangsanya. Di sini ornamen Natalnya paling meriah kalau menurutku. Keren deh pokonya. Di Orchard kami sempat membeli Es Krim Uncle seharga 1.80 SGD. sambil menikmati live music dari Mamas kece di jalan. Udah pasang sound system yang bagus dan mampang kertas bertuliskan channel YouTube nya dia. Dia bernyanyi sambil bermain solo akustik.

Es Krim Uncle

Kami jalan lagi menyusuri jalan Orchard Road, melewati Orchard Central sampai di 313 Somerset. Kami pulang dari stasiun Dhoby Ghout ke stasiun Boon Keng dengan jalur ungu.

Orchard Central. Suasana Natalnya sudah terasa.

Pulang ke Kamar Hostel Pribadi

Sesampainya di hostel kami  memberitahu Mas F4 itu kalau kami besok pagi mau check-out sebelum jam 7. Tidak masalah katanya, nanti bisa langsung check-out tanpa menunggu Mas F4-nya ada. Kunci kamar bisa ditinggal di tempat yang telah disediakan. Yang penting urusan pengembalian universal adaptor dan uang deposit udah beres sebelum tidur. selesai urusan mandi, kami makan nasi ayam KFC. Eh perasaan dari kemarin makannya nasi ayam mulu ya.hehe… Ternyata nasi di KFC yang kami beli bukan nasi putih tapi nasi gurih entah rasa apa itu. Nggak biasa di lidah tapi karena kelaparan nasi yang katanya nggak familier di lidah ludes dalam hitungan menit.

Kamar yang masih sepi dan kasur hostel yang empuk bisa membuatku nyaman untuk beristirahat. Merebahkan tubuhku yang lelah dan menyelonjorkan kakiku yang capai. Hari yang melelahkan pikirku tapi setiap detail pengalaman hari itu nggak akan terlupa termasuk bagian membeku di dalam MRT.

Day 2 Budget

  • Tiket MRT Farrer Park → Harbour Front : SGD 2.00
  • Tiket MRT Harbour Front  → Esplanade : SGD 1.90
  • Tiket MRT Raffles Place  → Orchard : SGD 1.70
  • Soya Sauce Chicken Rice : SGD 1.95 (Dibagi dua)
  • Es krim Uncle : SGD 0.90 (Dibagi dua)
  • Tiket MRT Dhoby Ghout  → Boon Keng : SGD 1.50
  • KFC : SGD 2.45 (Dibagi dua)
  • Total dalam Rupiah : Rp 123,922

Read Complete Story of “Jelajah 3 Negara”

Advertisements

10 thoughts on “Day 2: Membeku di Dalam MRT

  1. Pingback: Day 9: Bangun Pagi Buta Demi Mengejar Pesawat | Summer Ballads

  2. Pingback: Day 8: Twin Tower di Luar Bingkai Kamera | Summer Ballads

  3. Pingback: Day 7: Ketemu Orang Indon | Summer Ballads

  4. Pingback: Day 6: Saturday Night in Kuala Lumpur | Summer Ballads

  5. Pingback: Day 5: Daycation to the Mall in Bangkok | Summer Ballads

  6. Pingback: Day 4: Midweek Vacation to the Temple | Summer Ballads

  7. Pingback: Day 3: Antara Bahasa Tarzan, Macet dan Guest House yang Nyempil | Summer Ballads

  8. Pingback: Packing For 9D8N | Summer Ballads

  9. Pingback: My New Trip, My New Adventure | Summer Ballads

  10. Pingback: Day 1: Hello Again, Singapore! | Summer Ballads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s