Day 3: Antara Bahasa Tarzan, Macet dan Guest House yang Nyempil

Day 3: Antara Bahasa Tarzan, Macet dan Guest House yang Nyempil

Duh, macetnya~

Rabu, 18 November 2015

Meninggalkan Singapura Untuk Pindah Negara

Hari Rabu, kami keluar dari hostel pukul setengah 7. Dapur masih sepi dan nggak sempet ketemu sama Mr. Jamal. MRT beroperasi paling pagi jam 05.30, jadi kami sudah bisa menggunakannya. Kalau dipikir-pikir kami termasuk beruntung lho. Tidurnya di hostel tapi rasa hotel. Habisnya sampai kami checkout tak ada satu bule-pun yang nimbrung di kamar kami.

Penampakan Kamar Hostel Rasa Hotel

Masih sepi~ Yuhuu~

Menurutku, agak repot naik MRTnya kalau dari stasiun Book Keng. Soalnya kami harus interchange dua kali. Pertama, naik dari stasiun Boon Keng lewat jalur ungu ke arah Punggol. Kedua, interchange jalur kuning ke arah stasiun Marina Bay. Ketiga, interchange jalur hijau ke arah Bandara Changi. Tapi berhubung penerbangannya masih jam 9 nanti, jadi kami santai-santai saja. Kontras banget sama orang-orang di sekitar kami yang mengawali aktivitas mereka berangkat bekerja atau sekolah. Mereka berjalan setengah berlari. Prinsip mereka waktu adalah uang. Memang beda ya pola pikir orang-orang di negara maju dan berkembang. Kita mah prinsipnya uang adalah duit. #yaiyalah~ -__-

Kegencet di Kabin

Bandara Don Mueang, Bangkok

Penerbangan pagi ke bandara Don Mueang membuatku cuma sempat makan selembar roti dan sebungkus Energen. Perut ini bikin orkes keroncong dadakan di dalam kabin. Mana duduknya pisahan sama Mbak Aan pula. Berasa bosan banget. Aku sebenernya dapet tempat duduk yang dekat aisle. Tapi ada bapak-bapak gendut yang minta tukeran tempat duduk gitu. Karena dia bakalan repot bawa bayi. Sibuk banget nenangin adek bayinya, nyuapin, nina bobo-in. Pokonya krusak krusek gitu. Sementara itu, di samping kananku pria bule. Dari awal terbang sampai mendarat pasang headset dan serius sama laptopnya. Entah ngerjain apaan. Ya ampun, aku kegencet. Pengennya tidur aja. Lumayan pikirku, dua jam buat istirahat bisa bikin badan fresh setibanya di Bangkok. Tapi sumpah, nggak enak banget. Rasanya dua jam berasa setahun. Lamaaa banget. Begitu pesawat mendarat di Bandara Don Mueang, rasanya plong.

Bandara Don Mueang merupakan bandara yang menjadi tempat pemberhentian pesawat low cost carrier macam AirAsia. Sedangkan pesawat komersil yang besar berhenti di Bandara Suvarnabhumi. Don Mueang itu bandaranya kecil dan sederhana.

Kami turun melalui aviobidge dan berusaha mencari konter imigrasi. Biasalah kami bingung dimana letaknya. Setelah tanya sama petugas yang berjaga, kami malah disuruh mengisi kertas embarkasi terlebih dahulu. Kartu tersebut diisi dengan nama, nomor paspor, lama tinggal, alamat tinggal selama di Thailand, keperluan dan masuk Thailand dari negara mana. Tak perlu menuliskan berapa banyak uang yang dibawa. Kecuali membawa uang segunung atau membawa barang-barang yang tak lazim. Nah, kalau itu wajib lapor.

Selesai mengisi TTS kertas embarkasi, kami menuju konter imigrasi. Antrian penumpang dibedakan menjadi dua yaitu ASEAN dan Uni Eropa (kalau nggak salah ingat). Dan kami harus berdiri di belakang garis yang telah disediakan. Tentunya nggak boleh mengintip apa yang sedang diketik dan dikerjakan oleh petugas imigrasinya. Setelah itu kami turun ke lantai satu untuk mengambil bagasi. Kopernya Mbak Aan kan dibungkus pakai sarung yang dibuat oleh Ibuku. Motifnya unik sih sehingga ada beberapa orang yang memandang dengan takjub atau heran atau apa. Entahlah.

Mungkin pikir mereka aneh gitu ya. Lihat koper dibungkus beginian. ;P

Urusan imigrasi dan bagasi beres. Tinggal ngurus masalah perut. Sebelum melanjutkan perjalanan kami membeli makan dan sebotol ocha di dalam bandara. Agak mahal sih namanya juga buka lapak di Bandara.

Bahasa Tarzan dan Macet 

BMTA Bus di depan bandara

Tempat menginap kami ada di daerah Khaosan Road. Sedangkan, jarak antara bandara dengan Khaosan Road cukup jauh. Hanya bisa ditempuh dengan bus atau taksi. MRT dan BST ternyata nggak mencapai bandara. Setelah kenyang, kami mulai keluar dari pintu bandara. Mencari tahu bus apa yang bisa kami tumpangi. Di depan bandara sudah ada pemberhentian bis. Untuk mencapai Khaosan Road, kami harus dua kali naik bus yaitu bus jurusan A1 terus berganti bus jurusan 44. Oh iya, Orang Thailand nggak bisa bahasa Inggris. Jadinya kalau ngomong sama kondektur busnya harus berulang-ulang. Atau cuma ngomong sepatah dua patah kata sederhana. Jadilah bahasa Tarzan.

Bus dan jalanan di Bangkok itu sebelas dua belas sama Jakarta lho. Udah kayak saudara kembar aja. Yang unik, kondektur busnya bawa benda berbentuk tabung panjang yang terbuat dari seng. Tabung tersebut bisa dibuka tutup di bagian tengahnya. Isinya uang kertas maupun uang koin dan karcis bus. Kalau lagi memasukkan uang atau mengambil uang kembalian atau memotong karcis, si kondektur harus bunyi-bunyin tuh tabung. Lucu sih pokonknya. Sayang, nggak kefoto.

Suasana di dalam bus. Sepi~

Cuaca siang itu panas banget. Berasa terpanggang di dalam bus. Jalanan juga semrawut dan macet. Bus sempat berhenti lama ketika di perlintasan kereta api. Entah berapa kereta yang lewat, aku nggak memperhatikan. Saking udah berubah jadi rempeyek di dalam bus. Total perjalanan naik bis sekitar dua jam-an. Ugh!

Guest House yang Nyempil

7 Things To Do In Khaosan Rd

Menurut buku yang kubaca, Khaosan Road terletak di dekat Grand Palace, sekitar 1 kilometer jaraknya. Jadi ketika dari bus udah kelihatan bangunan berwarna emas itu tandanya kami hampir sampai di tempat tujuan. Bus yang kami tumpangi berhenti di Democracy Monument. Untuk mencapai ke Khaosan Road, kami cukup berjalan kaki saja. Saat itu sore sudah menyapa. Pedagang di sepanjang Khaosan Road udah mulai membuka lapaknya.

Democracy Monument sedang dalam tahap renovasi

Kami mulai mencari Lucky House, guest house tempat kami tidur nanti malam. Seperti dugaan, tempatnya nggak langsung ketemu. Kami mengelilingi daerah Khaosan Road dan memperhatikan kalau ada 7-11. Soalnya Lucky House terletak tepat di depan 7-11. Hampir sejam belum ketemu juga. Tanya orangpun tidak ada yang tahu. Ada yang nggak kenal nama itu ada juga yang emang nggak ngerti kami ngomong apa. Duh, kok jadi parno gitu ya. Takut ditipu sama pihak guest house-nya. Aku pernah baca di blog penulisnya pernah cerita pengalaman menyedihkan ketika memesan hostel. Karena jarak antara booking dan berangkatnya yang terlampau lama, pas dicari hostelnya sudah tutup dan pihak hostelnya nggak bisa dihubungi. Buat kemungkinan terburuk, kami bisa mengambil tindakan dari Plan B yaitu booking hostel atau guest house lainnya dan berdoa semoga uang kami cukup untuk melakukan pem-booking-an dadakan. Di sana kan bertebaran banyak sekali penginapan. Daripada mikir yang nggak-nggak lebih baik ngisi perut dulu deh. Mbak Aan membeli Pad Thai dan mangga buat dimakan berdua. Bismillah aja deh makannya. Nggak tahu itu masaknya pakai minyak apa.

Pad Thai

Mangganya kelihatan seger

Cara mencari yang paling efektif adalah bagi tugas. Yang satu nyari alamat yang satu nungguin barang bawaan. Itulah kami lakukan. Setelah seperempat abad kami menyelami daerah Khaosan Road dan menajamkan mata akhirnya ketemu juga. Papan namanya emang kecil jadi nggak terlalu mencolok lagipula Lucky House terletak di lantai dua. Lantai satunya buat apa ya aku nggak tahu. Yah, nyempil begitu meneketehe~ *dari bahasanya kelihatan udah tuwir~*

Log out? Check  Out?

Bagian resepsionisnya juga di atas. Begitu sampai di sana, ternyata ada dua Mas-mas yang diskusi pakai Bahasa Jawa. Kelihatan banget lagi panik nyari kamar kosong. Aku sapa aja mereka dan bertanya lagi ngeributin apa. Usut punya usut ternyata penerbangan mereka itu lewat Bandara Don Mueang tapi booking penginapannya di dekat Bandara Suvarnabhumi. Yaelah mas, jauh amat. Nah, mas-mas yang dari Jogja ini pengen pindah nginep di Khaosan Road. Sedangkan, Lucky House udah full booked saat itu. Mereka kelihatan desperate banget sampai-sampai pas ngelihat bule gendong tas keluar dari Lucky House terus salah satu dari masnya tanya “Mereka udah log out ya?”. Yaelah mas, check-out kali. Log out? Emangnya Facebook log out. Dia terheran juga kenapa kami bisa check-in padahal baru dateng dan meminta kami cepat-cepat check-in. Biar bisa minta password wi-fi. Mau nyari penginapan online katanya. Di antara suasana panik tiba-tiba salah satu dari masnya tanya “Mbak, ngasto teng pundi?” #gubrak. Kirain mau nanya apaan. Katanya udah bosen Pakai Bahasa Inggris terus. Wkwkwkwk.. Aneh-aneh aja.

Aksen Bahasa Inggris orang Thailand itu lucu kadang nggak terdengar kayak ngomong Inggris. Pas resepsionisnya meminta 300 baht buat deposit kunci. Kamilah yang nggak ngerti-ngerti. Maksudnya sih “three hundred baht” tapi di telinga kami kayak ngomong “tihandeba”. Baru ngeh pas dia nunjukin angkat 300 baht di pamflet. Ealah, ngomong donk pak dari tadi. #SayaKanUdahNgomongDariTadiNeng #NggakPekaBanget (╥﹏╥)

Kamar kami di lantai dua pojok. Dekat jalan, berisiknya bukan jalanan tapi suara AC. Ada lift tapi khusus buat koper dan barang-barang bawaan. Di dalam kamar kami dilengkapi kamar mandi dan TV. Bed-nya bersih, tempatnya juga rapi.

Menikmati Malam Hari di Khaosan Road

Aku di Khaosan Road, yang fotonya nggak kayak di Khaosan Road (T___T)

Karena waktu susah malam, kami memutuskan untuk jalan-jalan saja di kawasan Khaosan Road sambil cari makan.

Penampakan Khaosan Road terlihat dari KFC

Khaosan Road atau Khao San Road memiliki panjang 410 meter dan berada di pusat kota Bangkok. Dibangun pada tahun 1892 saat pemerintaha Rama V. Khaosan Road mulai populer menjadi destinasi wisata semenjak tempat itu menjadi lokasi syuting film ‘The Beach’ yang dibintangi oleh Leonardo di Caprio pada tahun 2000 silam. Tempat ini dikenal sebagai surganya para backpacker. Di sana terdapat toko-toko yang menjual kerjinan tangan, lukisan, pakaian, buah lokal, buku bekas, benda-benda yang berguna bagi backpacker, CD dan DVD bajakan, bahkan kartu identitas bajakan. Saat malam tiba, jalanan berubah menjadi cafe, pub, bar dan musik diputar keras-keras. Lalu jualan yang ditawarkan menjadi aneh-aneh seperti kalajengking goreng yang merupakan snack eksotis bagi para turis. Sayang banget, nggak boleh foto kalajengkingnya secara cuma-cuma. Jadi kami hanya melihat-lihat. Ada jasa tukang pijetnya juga. Di tempat itu bule dari berbagi negara tumpah ruah menikmati malam dan sharing pengalaman traveling mereka. Meskipun Khaosan Road banyak bar dan banyak minuman keras yang dijual, tempat itu tetap aman. Dekat dengan kantor polisi Chanasongkram. Selain itu, Khaosan Road juga berada di samping kuil Budha yaitu Wat Chana Songkram di arah Baratnya sesangkan di arah Barat Laut terdapat komunitas Islam dan beberap masjid kecil. Thanks ya Wikipedia ;P

Karena nilai tukar baht cukup murah maka di Thailand kami mencoba memperbaiki gizi dengan membeli susu di 7-11 buat sarapan besok.

Saatnya Istirahat

Kami kembali ke kamar sekitar pukul 9. Nggak langsung tidur, aku mencoba menyalakan TV. Penasaran acara TV di Thailand itu apa. Meskipun Bangkok itu sebelas dua belas dengan dengan Jakarta tentang macetnya dan cuacanya tapi ada beberapa pengalaman unik yang aku dapat di sini yaitu perjuangan kami menemukan guest house yang nyempil dengan bahasa tarzan.

Day 3 Budget:

  • Tiket MRT Boon Keng → Changi : SGD 2.40
  • Makan : THB 30 (Dibagi dua)
  • Minum : THB 22.5 (Dibagi dua)
  • Bus Suttle A1 : THB 30
  • Bus 44 : THB 19
  • KFC Zabbrice : THB 84.5 (Dibagi dua)
  • Teh Botol : THB 13 (Dibagi dua)
  • Air mineral 1 Liter : THB 7 (Dibagi dua)
  • Roti : THB 16 (Dibagi dua)
  • Total dalam Rupiah : Rp 107,735

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s