Day 4: Midweek Vacation to the Temple

Day 4: Midweek Vacation to the Temple

Grand Palace di siang hari yang panas

Kamis, 18 November 2015

Membiarkan Diri Ditipu

Pagi pertama di kota Bangkok. Tidurku malam sebelumnya nyenyak sekali. Saking nyenyaknya nggak mau pisahan sama tempat tidurnya. Kami saling mencintai! Jangan pisahkan kami! #SadarWoy :P. Oke, stay focus! Untung aku segera sadar. Aku langsung beranjak untuk bersiap-siap. Tak lupa sarapan dengan roti dan susu yang dibeli di 7-11 kemarin malam.

7-11 di depan Lucky House

Pagi ini outfit-nya agak sedikit beda dari biasanya. Biasanya sih pilih jeans karena bisa bebas berlari, naik turun tangga, berjungkir balik, rol depan rol belakang, kayang dan joget pantura. Hari ini kami pakai rok karena kami mau mengunjungi kuil-kuil. Aku nggak tahu pakai celana jeans boleh atau tidak. Yang kutahu hanya berpakaian sopan, pakaian yang tidak terlalu memperlihatkan banyak bagian kulit. Untuk amannya kami memakai rok.

Sesuai dengan itinerary yang kubuat, rencana hari ini kami akan keliling mengunjungi kuil-kuil yang letaknya berdekatan dengan Khaosan Road. Selain Wat Canasongkram yang memang satu lokasi, ada Grand Palace, Wat Pho dan Wat Arun. Kami keluar guest house dengan energi penuh. Saatnya turun dari kamar. Kulihat bapak resepsionisnya yang kemarin nggak ada. Digantikan oleh Lady Boy. Ini pertama kalinya kau melihat Lady Boy Made In Thailand.hihihi..

Suasana Khaosan Road di pagi hari

Jalan kaki ke Grand Palace lewat sini~

Melewati Patung Gajah Putih juga

Katanya Grand Palace itu dekat dengan Khaosan Road kami memutuskan jalan kaki. Soalnya masih pagi jadinya cuaca belum terlalu panas. Di jalan kami malah disapa dengan ramah sama pria yang mengaku dosen di Thammasat University. Pakaian ya rapi sepertinya memang mau mengajar. Sekalian kami bertanya kalau mau ke Grand Palace itu lewat mana. Dia malah menjelaskan kalau Grand Palace belum buka dan baru buka nanti jam 12. Dia menyarankan kami untuk naik boat dulu. Kemudian dia menggambarkan denah ke Grand Palace dan Wat Pho di kertas yang kubawa. Terus dengan semangatnya dia mengatakan kalau nanti malam ada perayaan di lapangan yang ada di samping kami. Perayaan apa ya aku lupa. Mendengar penjelasannya kami hanya mengangguk-angguk saja. Btw, beneran tutup nggak ya Grand Palace-nya. Haruskah kami mengikuti saran Pak Dosen ini. Aku pernah baca juga sih di blog kalau di Thailand sering banget ada orang nipu turis bahkan ada yang maksa minta duit. Entah itu biksu jadi-jadian atau tukang Tuk Tuk yang membawa ke berbagai tempat yang diinginkan kemudian meminta bayaran lebih. Bau-baunya mau ditipu tapi nggak apa-apalah. Nggak ada salahnya juga nyobain naik boat. Kan mumpung di Bangkok. Pak Dosen kemudian memberhentikan salah satu tuk-tuk untuk kami tumpangi. Tuk-tuk inilah yang akan mengantarkan kami di pangkalan boat. Sepertinya sopirnya udah kenal sama Pak Dosen. Jangan-jangan bener  Pak Dosen ini kerjaan sampingannya mencari mangsa bantuin biar boat temennya laris.haha… Ah biarin aja deh. Pengalaman nggak bisa dibeli dengan uang kan. Lagian dengan begitu kami jadi bisa naik tuk-tuk.

Naik tuk-tuk. Yeeay!

Mas sopirnya ramah banget dan Bahasa Inggrisnya lancar. Begitu kami duduk di belakang, dia langsung menyapa “Assalamualaikum.” Haha… ada-ada aja. Karena melihatku yang pakai jilbab dia kemudian bertanya, “Are you Malaysian?” No! Untuk ke sekian kalinya aku disangka orang Malaysia di sini. Indonesia mah nggak familier ya.

Naik tuk-tuk asyik juga, dengan kecepatan penuh nyampai juga di pangkalan boat. Kami langsung diantar oleh Mas tuk-tuk ke boat temennya. Begitu dibayar boat langsung berangkat tanpa menunggu ada penumpang lain. Jadi berasa boat pribadi gitu ceritanya. Kami menggunakan Chaophraya Express Boat ke Chang Pier (Tha Chang).

Pemandangan dari boat

Menikmati pemandangan dari dalam boat

Di sepanjang sungai yang kami lewati, kami bisa melihat rumah-rumah penduduk, kuil-kuil mini, bahkan kami bisa melihat aktivitas para biksu di pagi hari. Sesekali boat yang kami tumpangi berhenti di Floating Market yang menawarkan souvenir. Dan berhenti juga di sejenis dam atau apa. Menunggu pintunya terbuka. Ternyata banyak boat juga yang antre disitu. Boat lainnya kok penuh orang ya.hahaha.. Perjalanan menggunakan boat sekitar 1 jam. Hmm, not bad. Sesampainya di Chang Pier kami turun dari boat dan disuruh membayar 20 baht. Biaya apa ya itu.

Floating Market. Penjual sedang menawarkan souvenir.

Nunggu pintunya terbuka

Turun di sini

Jualan Thai Fruit

Temple #1: Grand Palace

Dilapisi Emas

Pemberhentian boat tersebut berada di dalam pasar. Grand Palace berada di seberang jalan pasar tersebut. Kuil itu besar sekali dan di kelilingi tembok putih yang kokoh menjulang tinggi. Meskipun kami sudah sampai di kompleks Grand Palace tapi rasanya mencari pintu masuknya jauh. Mana cuacanya luar biasa panas lagi. Pintu masuknya berada di gerbang kedua. Udah banyak orang yang berdatangan.

Kompleks Grand Palace dibangun pada tahun 1872 dan bangunannya nggak cuma terdiri dari kediaman raja tapi juga kantor pemerintahan yang dikenal dengan Temple of Emerald Buddha. Areanya sendiri 218,000 meter persegi dan dikelilingi oleh empat tembok seringgi 1,900 meter. Sebagian besar bangunannya dilapisi oleh emas jadi siang hari berasa silau men. Total ada sekitar 35 tempat menarik di dalam Grand Plaace termasuk Queen Sirikit Museum of Textiles, Temple of the Emerald Buddha, model of Angor Wat dan the Royal Thai Decorations and Coins Pavilion. Lebih lengkapnya bisa mengunjungi http://www.palaces.thai.net.

Patung di Grand Palace

Bangunan di Grand Palace Part 1

Bangunan di Grand Palace Part 2

Masih di Kawasan Grand Palace

Aturan berpakaian di Grand Palace cukup ketat. Nggak boleh pakai sandal, berpakaian mini, nggak pakai lengan atau celana pendek. Yang sudah terlanjur datan tapi pakaiannya tidak dianggap sopan maka bisa pinjam baju dengan deposit 200 baht di dekat Museum Queen Sirikit.

Pengumuman di Grand Palace

Tiket Masuk Grand Palace

Sedangkan biaya masuk Grand Palace 500 baht. Kami diberi 3 jenis karcis sekaligus. Karena 500 baht itu sepaket dan bisa buat mengunjungi Vimanmek Mansion Museum, Support Museum Abhisek Dusit Throne Hall, Sanam Chandra Palace, Arts of the Kingdom Exhibition di Ananta Samakhom Throne Hall, The Pavilion of Regalia Royal Decoration and Coins. Hanya berlaku satu kali kunjungan dan valid sampai 7 hari dari pembelian. Kami tak seluruhnya mengunjungi tempat-tempat menarik di sana. Karena cuaca panas dan mengingat waktu. Aku sampai pakai payung lho. #GayaAmatYa

Temple #2: Wat Pho

Wat Pho

Puas mengunjungi Grand Palace, kami selanjutnya jalan kaki ke Wat Pho yang letaknya tak jauh dari situ. Wat Pho atau Wat Phra Chetuphon Vimolmangklararm Rajwaramahaviharn beralamat di 2 Sanamchai Road, Grand Palace Subdistdict, Pranakorn District. Beroperasi dari jam 08.00 hingga jam 18.30. Wat Pho juga luas lho, ada 18 tempat yang ada di dalam kompleksnya termasuk Wat Buddha Saiyas, Wat Pho Giants, Wat Pho Elementary School dan Wat Lho Massage. Sama seperti Grand Palace turis harus berpakaian sopan. Lebih detail bisa kunjungi http://www.watpho.com. Tiket masuknya 100 baht itu aja udah dapat air mineral 350 ml bergambar Wat Pho.

Tiket Masuk Wat Pho

Dapet air mineral

Yang paling terkenal dari Wat Pho adalah The Reclining Buddha, Buddha tidurnya. The Reclining Buddha atau Phra Buddha Saiyas terletak di Barat Daya dari komples Wat Pho dan menjadi ikon Thailand. Buddha yang sedang tidur itu mempunyai panjang 46 meter dan tinggi 15 meter. Kakinya memiliki panjang 5 meter dan lebar 3 meter. Dan image-nya sendiri diambil dari postur “Sihasaiyas.”

Buddha Tidur

Bangunan di Wat Pho

Kamipun pose di depan Buddha tidur, tapi mau foto aja harus ngantri. Di depan sang Buddha ada wadah mirip mangkuk berderet rapi. Tukarkan 20 baht dengan uang receh lalu dimasukkan ke dalam wadah tersebut sambil berdoa. Nah, koin habis saat wadah terakhir niscaya doa akan terkabul. Oh ya kalau masuk ke situ sepatunya wajib dilepas ya.

Wadah koin yang berjejer rapi

Selama kami di Wat Pho, kami sering menjumpai turis asal Indonesia. Biasalah sibuk foto-foto. Bisa ketahuan dengan jelas kalau itu turis Indonesia lewat soalnya kalau foto tapi hasilnya kena bayangan mesti bilangnya, “Black light! Black light!

Temple #3: Wat Arun

Wat Arun under construction

Wat Arun ini letaknya agak jauh dari dua wat yang telah kami kunjungi. Jika mau kesana harus menyeberangi sungai Chao Praya memakain kapal. Karena udah sore maka kami berencana tak akan lama di Wat Arun. Wat Arun saat kami kesana masih dalam tahap renovasi sehingga kami memutuskan untuk tidak masuk. Cuma berkeliling dan foto-foto di bagian luarnya saja.

Menyeberang ke Wat Arun

Wat Arun dikenal dengan Kuil Fajar atau the Temple of Dawn. Letaknya di barat hulu sungai Chao Phraya. Nama panjang dari candi ini adalah Wat Arunratchawararam Ratchaworamahavihara. Bisa kunjungi http://www.watarun.net untuk lebih lengkapnya.

Going Nowhere

Semangat Latihan

Kami kembali ke menyeberang sungai Chao Praya menggunakan boat yang sama. Dan memutuskan pulang dengan jalan kaki. Meskipun lelah sudah menggelayut, kami tetap memaksakan diri jalan kaki. Hitung-hitung sambil menikmati sore hari di Bangkok. Kami melewati lapangan dan jalan yang sama seperti saat kami berangkat. Terlihat sekelompok orang sedang gladi bersih, mereka melakukan formasi-formasi. Mungkin mau ditampilkan di festival yang diceritakan Pak Dosen tadi pagi ya. Meskipun udah menjelang petang tapi rasanya tambah ramai saja jalanan.

Malam itu kami menghabiskan waktu masih di daerah yang sama, Khaosan Road. Tapi kali ini kami mencoba menyusuri jalan yang mungkin tak terekspos. Gang-gang kecil yang jarang dilalui pelancong. Tapi banyak toko yang berderet. Terutama panti pijat Thai massage. Nggak ada rencana mau mengunjungi mana lagi hari itu soalnya waktu juga sudah menjelang malam. Melihat pedagang dan turis-turis berbaur saja sudah sangat merupakan hiburan tersendiri. Menikmati liburan di tengah pekan itu sangat menyenangkan. Di saat orang-orang pada umumnya tenggelam dalam kesibukan pekerjaan, kami jalan-jalan menikmati eksotisnya kuil-kuil di Bangkok yang mempesona.

Day 4 Budget

  • Naik tuk-tuk : THB 10 (Dibagi dua)
  • Naik boat : THB 810
  • Tiket Masuk Grand Palace : THB 500
  • Tiket Masuk Wat Pho : THB 100
  • Nasi : THB 10
  • Melon : THB 10 (Dibagi dua)
  • Susu botol : THB 7 (Dibagi dua)
  • Roti : THB 14 (Dibagi dua)
  • Total dalam Rupiah : Rp 561,009

Read Complete Story of “Jelajah 3 Negara”

Advertisements

10 thoughts on “Day 4: Midweek Vacation to the Temple

  1. Pingback: Day 9: Bangun Pagi Buta Demi Mengejar Pesawat | Summer Ballads

  2. Pingback: Day 8: Twin Tower di Luar Bingkai Kamera | Summer Ballads

  3. Pingback: Day 7: Ketemu Orang Indon | Summer Ballads

  4. Pingback: Day 6: Saturday Night in Kuala Lumpur | Summer Ballads

  5. Pingback: Day 5: Daycation to the Mall in Bangkok | Summer Ballads

  6. Pingback: Day 3: Antara Bahasa Tarzan, Macet dan Guest House yang Nyempil | Summer Ballads

  7. Pingback: Day 2: Membeku di Dalam MRT | Summer Ballads

  8. Pingback: Packing For 9D8N | Summer Ballads

  9. Pingback: My New Trip, My New Adventure | Summer Ballads

  10. Pingback: Day 1: Hello Again, Singapore! | Summer Ballads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s