Day 7: Ketemu Orang Indon

Day 7: Ketemu Orang Indon

Sultan Abdul Samad Building

Minggu, 22 November 2015

Ketemu Orang Indon di Batu Caves

Nggak terasa udah seminggu ini aku di negeri seberang. Telinga ini udah mulai terbiasa mendengar bahasa-bahasa asing yang nggak aneh maupun yang terlalu aneh untuk didengarkan. Yaelah padahal baru seminggu doank. Bagiku seminggu itu udah emejing lho.haha… Oh ya, aku pernah cerita kan kalau aku nggak beli SIM lokal untuk menghubungi rumah. Biasanya aku memanfaatkan wifi di penginapan untuk memberikan kabar. Di Oasis Guest House ini wifi-nya kenceng banget. Apa gara-gara deket sama resepsionisnya ya. Aku bahkan bisa YouTube-an dengerin lagu. Ngomong-ngomong masalah lagu, di Malaysia kan memiliki bahasa yang sebelas dua belas sama Indonesia jadi di sini itu band Wali populer banget. Sering banget diputar di guest house dan di Petaling Street juga. Nggak heran sih soalnya banyak kan orang Indonesia yang merantau dan bekerja di sini. Kami sering banget lho ketemu mereka.

Pagi itu, kami nyari makan di lantai 4 menggunakan lift yang ada di guset house. Dapurnya luas, selantai dengan kamar-kamar yang lain. Seperti biasa, ada roti tawar, selai berbagai rasa, sereal, kopi, susu dan teh. Yah, menu standart hostel lah. Sayang pemanggang rotinya nggak berfungsi dengan baik, niatku untuk makan roti dengan gaya berbeda terpaksa harus diurungkan. Soalnya pas aku nyobain manggang satu, tahu-tahu alat pemanggangnya udah berasap dan begitu bunyi ‘ting’ tanda roti siap disantap. Eh, ternyata warna rotinya jadi hitam pekat alias gosong. Yaaach! Ya udah deh terpaksa makan roti selai serti biasanya. Jujur saja, udah semingguan ini roti menjadi alternatif darurat ketika lapar melanda. Jadi agak ilfeel gitu sama roti. Lidah ini udah protes bosen banget katanya.

Ketika kami datang dapur masih sepi, hanya ada beberapa turis yang sekilas lewat dengan penampilan acakadul, baru bangun tidur. Kami sempat bertemu sama mbak penjaga resepsionisnya di dapur. Tanya informasi tentang obyek paling terkenal disitu, tempat hunting oleh-oleh sama tranportasi ke obyek populer seperti Petronas atau Batu Caves. Mbak resepsionisnya kan udah tengah baya, Mbak Aan sering memanggilnya ‘bu’ ternyata dia maunya dipanggil ‘kak’.

Tujuan pertama kami pergi ke Batu Caves. Aksesnya cukup mudah untuk mencapainya. Kami menggunakan Commuter Line (KTM) ke Batu Caves. Untuk praktisnya kami membeli tiket PP sekalian. Di peta jaringan, Batu Caves terletak di bagian paling ujung Utara dengan jalur berwarna ungu. Untuk pergi ke station KTM kami melewati skybridge.

Tiket KTM Ke Batu Caves

Suasana di Dalam KTM

Papan Nama Batu Caves

Sesampainya di Batu Caves kami mencari toilet. Nah, di toilet ada dua orang cewek yang sedang bercakap-cakap menggunakan Bahasa Jawa. Pantesan tadi kok bahasanya familier banget. Langsung deh kami sapa. Kalimat yang terlontar dari mulutnya pertama kali adalah “Mbake orang Indon juga tho?” Indon apaan ya? Tahunya Undon. -__- Ternyata orang Indon itu sebutan orang Indonesia, begitu biasanya orang Malaysia bilangnya. Mereka bekerja di Klang baru satu tahun. Ternyata rumahnya daerah Solo juga lho, katanya sering main ke Manahan.haha… Mereka mengira kami juga TKW. Mungkin mereka melihat wajah-wajah TKW.haha… Terus kami menceritakan bagaimana kami sampai di Malaysia. Mereka kelihatan excited banget. “Wah, kapan-kapan harus nyobain ke Singapura nih,” ajak salah satunya. Ngapain juga nggak ke Singapura, bukannya lebih dekat dan transportasinya lebih murah kalau dari Malaysia ya. Jadi selama setahun itu mereka nggak kemana-mana, bahkan ke kuar kota sekalipun. Oh… Setelah beberapa beberapa menit kami berbincang. Kami berpisah di toilet itu juga. Karena mereka akan pulang sedangkan kami baru datang.

Batu Caves adalah sebuah bukit kapur, yang memiliki serangkaian gua dan kuil gua, yang terletak di distrik Gombak, Selangor. Gua ini merupakan salah satu kuil Hindu di luar India yang paling populer dan didedikasikan untuk Dewa Murugan. Situs ini adalah titik fokus festival Hindu Thaipusam di Malaysia. Gua ini udah berumur 400 juta tahun lho. Wow! Gua terbesar, disebut sebagai Gua Katedral atau Gua Kuil (Temple Caves), memiliki tinggi 100 m dan langit-langit berhiaskan ukiran elemen Hindu. Selain itu ada Cave Villa dan Dark Caves yang berada di bawah Temple Caves.

Patung Dewa Murugan

Di jalan masuk Batu Caves, kami melewati sederatan pedagang yang menjual souvenir dan makanan. Yang semuanya orang India. Banyak juga bunga warna warni yang bisanya dipakai untuk kalung. Dari kejauhan kami sudah bisa melihat patung Dewa Munguran yang berdiri kokoh. Patung ini memiliki tinggi 42.7 meter atau 140 kaki dan merupakan patung dewa Hindu tertinggi di dunia. Patung seharga sekitar 24 juta Rupee, terbuat dari 1550 meter kubik beton, 250 ton bar baja dan 300 liter cat emas yang didatangkan dari Thailand. Kami tentu saja nggak melewatkan untuk foto di depan situ. Berhubung kami pengen foto berdua full body jadi kami meminta tolong mas-mas keturunan India yang kami temui. Lucunya, setelah selesai memotret kami, dia malah meamnggil temannya agar bisa berfoto dengan kami.haha.. dasar berasa turis beneran ya. Udah gitu mereka gantian minta fotonya. Ealah…

Pintu Masuk

272 Anak Tangga

Pemandangan dari Atas

Gua utama berada di atas, jadi untuk mencapainya kami harus menaikik 272 anak tangga. Sensasi aduhai ini kakinya. Tapi pemandangan Kuala Lumpur dari atas gua indah sekali, jadi lupa sama kaki yang capek. Batu Caves memang terkenal dengan flora dan faunanya. Salah satunya monyet ekor panjang yang membaur dengan turis-turis. Ada yang monyet gendong anaknya.. ih lucu banget. Tapi hati-hati kalau bawa sekeresek makananan, bisa-bisanya langsung dirampok sama si monyet.

Monyet Gendong Anaknya

Di dalam gua kapur nan basah ini memaksaku untuk mengganti alas kaki menjadi sendal jepit. Di sana ternyata ada juga jasa buka foto, jasa lukis wajah, jasa apa lagi ya lupa, yang jelas bukan jasa penitipan anak. Begitu masuk di sebelah kanan kami terdapat sejarah patung-patung dan lukisan Hindu. Lebih dalam lagi kami memasuki gua, kami melihat ada beberapa kuil yang digunakan untuk tempat ibadah salah satunya bernama Sri Valli Deivanai Murugan. Mengagumkan sekali. Waktu kami kesana, di dalam Batu Caves masih dalam tahap renovasi jadi harus melangakah dengan hati-hati.

Kuil di Dalam Gua

Ketemu Orang Indon di Dataran Merdeka

Foto Pahlawan di Dataran Merdeka

Kami menyudahi kunjungan di Bagu Caves karena langit udah berwarna pekat. Meski udah bawa payung tapi kok males kehujanan. Jadi kami langsung meluncur dengan KTM yang sama dan berhenti di KL Central. Di daerah situ banyak tempat-tempat menarik termasuk Masjid Jamek. Kami jalan kaki melewati Clock Tower, Old Market Square. Yang aku perhatikan selama berada di jalanan adalah kelakuan orang-orang Malaysia. Mereka itu cuek, jika ditanya arah lebih memilih angkat bahu padahal jarak yang kami tanyakan sangat dekat lho. Dan lagi suka meludah sembarangan dan nyeberang sembarangan. Meski nggak semua ya. Cuma bikin aku heran aja.

Clock Tower

Sempat lewat Kementrian Pelancongan dan Kebudayaan Malaysia juga

Kami nggak masuk ke Masjid Jamek, takut salah kostum soalnya peraturan tentang pakaian yang dikenakan sangat ketat. Masjidnya juga baru direnovasi. Kenapa nasib nya begini ya, dari kemarin-kemarin bangunan yang kami datangi kebanyakan direnovasi. Masjid Jamek sendiri adalah masjid tertua di Kuala Lumpur. Meskipun masjid ternyata masjid Jamek dibangun oleh arsitektur berkebangsaan Inggris, Arthur Benison Hubbock yang terinspirasi oleh masjid Moghul di India.

Masjid Jamek

Perjalanan kami berlanjut ke Dataran Merdeka. Sedikit info dari Dataran Merdeka, ini adalah tempat bersejarahnya orang Malaysia dimana bendera Inggris diturunkan dan bendera Malaysia berkibar untuk pertama kali pada tengah malam tanggal 31 Agustus 1957. Dataran yang sering disebut Merdeka Square sekarang menjadi tempat National Day Parade setiap tahunnya.

Di daerah Dataran Merdeka terdapat gedung megah bernama Sultan Abdul Samad Building yang sudah ada sejak tahun 1957. Ada juga National Textile Museum, Kuala Lumpur City Library, KL City Gallery dan Music Museum. Yang paling menarik perhatian kami adalah tulisan I ❤ KL dengan warna merah menyala. Sayang seribu sayang, belum puas berfoto ria tapi hujan udah turun. Kami berteduh di sebelahnya.

I Love KL

BATIK

Muzium Muzik

Di situpun kami tak luput dari orang Indon. Meskipun nggak kami sapa tapi dari kejauhan samar-samar kami mendengar bahasa yang sangat familier di telinga kami.

Ketemu Orang Indon di Warung Bakso

Bakso

Bosan makan roti, pengen nyari yang seger-seger. Sebelum pulang ke guest house, kami memutuskan belok ke warung bakso. Yang jual ibu-ibu dari Padang. Udah 8 tahun tinggal di Malaysia dan menikah dengan orang lokal. Dulu awalnya juga bekerja menjadi TKW terus punya ide bikin bisnis sendiri. Luamayan sukses karena sudah bisa mempekerjakan orang-orang lokal. Kami memesan bakso dan tea. Kalau di Malaysia pesan teh, bihun, mie kuning dapatnya teh susu, sedangkan pesan teh-O dapatnya teh manis. Baksonya juga di luar ekspektasi. Isinya bakso, kubis dan ketupat dengan porsi yang naudzubilah. Bikin kenyang pake banget.

Di tengah-tengah kegiatan makan bakso, kami ketemu lagi sama orang Indon. Mas-mas yang katanya udah sepuluh tahun nggak pulang ke tanah air. Betah amat ya. Sampai-sampai nggak tahu uang Indonesia tuh wujudnya kayak apa sekarang. Lalu dia meminta uang 20.000-ku sebagai gantinya dia memberi kami 6 ringgit. Lumayan buat nambah bayar baksonya.

Ketemu Orang Indon di Pasar Seni

Pasar Seni

Kami pulang ke guest house sore itu buat mandi, sholat dan wifi-an. Malamnya kami ke Pasar Seni atau Central Market nyari oleh-oleh sejuta umat (baca: gantungan kunci). Rencana pengen beli tas bahu gitu tapi harganya lebih murah yang di Thailand. Akhirnya kaki kami berhenti di tempat jual makanan. Di sini ketemu orang Indon lagi. Dia kerja di bagian kasirnya. Sekalian aja kami tanya snack yang enak apa yang khasnya Malaysia. Malam itu kami membawa pulang kerupuk Lekor, Oat Plus, Muruku Ikan yang gambarnya dedek bayi, permen bungkus kecil dan tas murah buat temenku. Lupa nggak dibeliin di Thailand. Eh jauh-jauh ke Malaysia belinya kerupuk. Nggak aneh ah, soalnya cuma makanan begituan yang Ibuku doyan.haha…

Seharian ini kami udah menjelajah dan ketemu orang Indon lagi, orang Indon lagi. Memang ya orang Indon everywhere!

Day 7 Budget

  • KTM ke Batu Caves : MYR 4
  • Jajan : MYR 1.50
  • Bakso : MYR 3.50
  • 1/2 set gantungan kunci : MYR 15
  • 1 buah tas : MYR 10
  • Kerupuk Lekor : MYR 10
  • 1/2 bungkus Oat Plus : MYR 5
  • 1/2 bungkus Muruku Ikan : MYR 5
  • 2 bungkus permen : MYR 10
  • Total dalam Rupiah : Rp 203,778
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s