Fan Fiction Story: Romancing Train

Fan Fiction Story: Romancing Train

Lovely☆Complex (by http://www.myanimeshelf.com)

Once Upon a Time

Sejak SMP, aku tertarik dengan anime-manga dan membaca novel. Yah, karena dulu memang banyak anime yang bertebaran di televisi nasional. Dan saat itu juga lagi booming Harry Potter. Cita-citaku jadi bertambah banyak salah tiganya adalah ingin jadi komikus, penulis novel dan bikin karya dari kombinasi keduanya. Hobiku juga jadi bertambah banyak salah duanya adalah menggambar dan menulis cerita. Dulu pernah memulai menulis cerita namun mangkrak dan sekarang tak tahu entah kemana karya-karyaku itu berada. Menulis cerita original lebih sulit ketimbang menulis dengan tokoh yang sudah ada. Dan kita mengenal istilah fan fiction atau fanfic atau FF. Fan fiction adalah sebuah cerita fiksi yang dibuat oleh penggemar berdasarkan kisah, karakter atau setting yang sudah ada. Entah itu karakter dari anime, manga atau idol di dunia nyata. Wow, bisa dicoba nih. Untuk menyalurkan hobi maksudnya.

Beranjak SMA, di Solo banyak bermunculan event-event bertema Jejepangan. Biasanya ada lomba macam-macam diantaranya lomba doujinshi, makan ramen, character design, cosplay, carbaret dan nulis fanfic. Nah, aku iseng-iseng ikut lomba fanfic. Meskipun nggak menang sih. Mungkin karena karakter yang aku ambil kurang populer. Aku ambil karakter-karakter dari manga Lovely☆Complex oleh Aya Nakahara. Manga ini menceritakan tentang bercerita tentang kisah cinta Risa Koizumi dengan Atsushi Otani yang tidak biasa. Sayangnya kisah cinta mereka nggak semulus kebanyakan orang karena sebuah masalah yang sama-sama mereka hadapi, yaitu tinggi badan. Tapi mereka punya kesamaan yaitu menggemari salah satu penyanyi nyentrik, Umibozu.

And the Story Goes

Aah…pagi hari yang cerah ya…. Tapi nampaknya tak secerah hatiku.  Hari ini, sepuluh menit menjelang bel sekolah berbunyi. Aku berlari marathon dari rumahku mengejar waktu yang larinya lebih cepat dari aku.

Mulai hari ini adalah awal semester. Dan dengan cerobohnya aku bangun kesiangan. Lebih parahnya lagi aku lupa kalau hari ini sekolah sudah dimulai. Meskipun begitu aku, Risa Koizumi akan bersemangat memasuki semester baru. Tapi sebelum itu terjadi aku harus melampaui olahraga atletikku yang sedang aku lakukan tanpa perencanaan.

Aku berlari sekencang yang aku bisa, bahkan dengan mengejutkan aku bisa lari lebih cepat dari sepeda!

Tas kulit yang aku tenggerkan di atas bahu kiriku menambah beban lariku, aku sempat berpikir kalau tas tersebut akan kutinggal di rumah saja. Tapi setidaknya aku tidak melakukannya.

Rok kotak-kotak lipit warna biru marunku berkibar-kibar mengikuti irama kedua kaki panjangku melangkah, lebih tepatnya berlari. Bahkan rambutku, yang tak sempat kurapikan, melakukan hal yang sama menari-nari liar tak beraturan. Aku tak peduli berapa liter keringat yang aku tempelkan di bajuku. Yang aku pikirkan hanyalah gerbang besi sekolah yang besar segera mendekat padaku.

Lima belas detik kemudian.

Terlihat…terlihat…aku bisa melihatnya!

Tiba-tiba terdengar suara dari kejauhan yang memiliki bunyi seperti ini: ”KOIZUMI!!!”.

Eh? Sepertinya aku pernah mendengar suara itu di suatu tempat. Sebenarnya aku tidak berniat untuk memalingkan kepalaku untuk mengikuti arah suara. Tapi rasa penasaranku yang mendorongku untuk melakukannya. Dan setelah aku lakukan, dengan tanpa menghentikan lariku tentunya, ternyata yang kulihat adalah Atsushi Otani yang sedang melakukan hal yang sama denganku.

”KOIZUMI!!!”, teriaknya dengan ceria seraya melambaikan tangannya.

Aah, masa bodoh, aku akan mengacuhkannya, pura-pura tidak melihatnya, terus berlari kemudian aku akan sampai sekolah tepat waktu.

Yak, berlari….berlari….berlari…

Sedetik kemudian aku mendengar suara benda terjatuh dan….

”KYAAAAAAAA……Tiket Umibozu-nya!!!!!”

Umibozu! Aku menghentikan langkahku secepat kilat. Aku menoleh dan benar saja, aku melihat Otani separuh berdiri. Kemudian melompat-lompat berusaha meraih selembar kertas kecil yang menyangkut di atas atap mobil merah yang terparkir di sana. Akibat terjatuh tiket yang dipegang Otani terbang.

Tanpa berpikir panjang aku berlari menghampirinya.

”Otani, Umi…bozu…ma…na..?” aku bertanya dengan napas yang putus-putus.

”Tiketnya, Koizumi, tiketnya,” tangannya yang pendek tak mampu menggapai.

”Aku sengaja membelinya untuk kita berdua,” katanya tanpa mengalihkan pandangan dari tiket yang masih terparkir di atas atap mobil.

Aku yang setengah panik ikut menjulurkan tanganku. Tapi rasa panikku begitu cepat sirna karena aku tak perlu melompat untuk menggapai tiket itu.

Dengan ekspresi datar aku berkata, “Oh, cuma begini saja heboh.”

“Aah, syukurlah tiketnya tidak apa-apa. Aku sempat khawatir,” kata Otani dengan wajah ceria dan innocent. “Terima kasih ya, Koizumi.”

“Huh, dasar pendek. Selalu saja merepotkan orang lain. Sekali pendek tetap pendek! Bodoh!!” Tentu saja aku tidak mengatakan itu, atau tepatnya belum sempat karena bel sekolah dengan leluasa masuk ketelingaku dan Otani tentunya.

Aku segera melanjutkan lari marathon-ku tapi bedanya sekarang aku melakukannya bersama Otani. Kehebohan mulai terjadi ketika aku dan Otani memasuki area depan sekolah. Anak-anak dari kelasku menjulurkan kepala dan setengah bedan mereka di jendela lantai dua, menyemangati kita berdua seakakan-akan kita sedang benar-benar melakukan kejuaraan internasional.

“Ayo!!! All Hanshin Kyojin!!! Berjuanglah!!!”

Teriakan itu terdengar biasa saja. Tapi sesaat setelahnya semakin bersemangat dan menurutku malah menyerupai seperti teriakan supporter pada pertandingan baseball ketika aku dan Otani serempak mengatakan “Diam kalian!”.

Kami hampir menyelesaikan kegiatan lari kami ketika Pak guru sudah berpose di depan pintu seraya berkata, “kalian terlambat tujuh menit. Jadi silahkan berdiri di luar kelas selama dua jam pelajaran.”

Tanpa bisa berkata-kata. Aku dan juga Otani terpaksa melakukan instruksi Pak Guru. Dengan menggerutu aku memalingkan kepalaku kekanan dan enam puluh derajat lebih rendah untuk bisa menangkap wajah Otani yang masih belum bisa menetralkan napasnya.

Dan kita kemudian melakukan ritual pertengkaran, sampai-sampai seisi kelas berdesis panjang “sssssssttt!!”

****  ****

Keesokan harinya, dengan cerobohnya aku berangkat di jam yang sama dengan kemarin. Dan aku bakal melakukan olah raga yang sama juga. Tapi setidaknya aku tidak terlambat bangun gara-gara main game semalam suntuk. Yang paling berbahaya adalah si pendek Otani yang sempat membuatku terlambat.

Dengan belajar dari pengalaman, aku akan wasapada jika tahu-tahu Otani muncul. Sebelum memasuki gang, aku menjulurkan kepalaku menengok ke kanan dan ke kiri. Merayap perlahan-lahan berusaha menghindari gerakan yang mencolok. Saat kuyakin sepanjang jalan menuju sekolahan terbilang aman, saat itu juga aku berlari kencang…

Syukurlah sejauh ini tidak ada tanda-tanda kehadiran Otani. Tapi tidak untuk dua setengah menit kemudian. Aku mendapat berita baik dan berita buruk. Berita baiknya adalah dari sudut mataku, aku bisa merasakan ada seseorang yang berlari mengiringi aku. Setidaknya aku memiliki teman seperjuangan. Dan berita buruknya adalah orang itu bertubuh pendek dan firasatku mengatakan kalau dia Otani, setelah aku menolehnya.

“Hai, Koizumi! Mau lomba lari denganku,” sapanya dengan ceria.

“OK, baiklah. Aku yang lebih tinggi darimu sudah dipastikan akan menang.”

“Hmm, lihat saja nanti.”

Dengan kecepatan dua puluh kilometer per jam, aku dan Otani benar-benar melakukannya.

Tiba-tiba dia menunjuk ke arah jalan yang lain dan seraya bilang dengan bersemagat, “Lihat Koizumi! Ada Umibozu!”

“Mana?” aku menghentikan langkahku dan dengan antusias aku mencari dimanakah Umibozu berada. Nihil. Sejak saat itulah aku baru menyadari aku telah tertipu oleh Otani. Dengan pikiran yang tidak jernih aku mudah sekali tertipu dengan hal yang sepele.

Otani sudah ada berada jauh di depanku dan hampir menyentuh garis finishnya.

Dasar curang. Dia bisa lebih dulu sampai di kelas dan yang lebih menyebalkan lagi aku melaukan hal yang sama dengan kemarin yaitu berdiri di luar kelas karena terlambat. Aku mulai meledak! Bahkan aku butuh empat gallon air untuk mendinginkannya.

Ya, aku benar-benar marah dengan Otani. Saat istirahat berlangsung, seperti biasa kita melakukan tradisi bertengkar kita tapi kurasa ini yang paling hebat sepanjang sejarah.

Aku mengatakan, tapi lebih tepatnya memaki bahwa Otani pendek dan jelek. Tidak dapat dipungkiri memang benar. Dia membalasnya dengan kalimat-kalimat yang efektif langsung menusuk di hati setajam bambu runcing. Perdebatan kuakhiri dengan kalimat yang mengekspresikan bahwa aku berharap akan mendapat pacar yang badannya lebih tinggi dan berharap Otani enyah dari kehidupanku.

****  ****

Hari berikutnya, dengan mata setengah terpejam aku berhasil bangun satu jam sebelum bel sekolah berbunyi. Aku paksakan untuk menjaga mataku yang seperti tertindih batu tetap terbuka. Hawa dingin yang menusuk tulang hampir saja menenggelamkanku kembali ke alam mimpi. Dan hampir saja aku tergoda oleh buaian mesra tempat tidur untuk menemaninya sepanjang hari. Tapi, aku sadar aku tidak akan jatuh di lubang yang sama. Aku bergegas mempersiapkan semuanya.

Meski berat, aku melenggang santai ke sekolah. Yatta! Aku tidak akan bertemu degan Otani yang malas berangkat pagi.

Sesampainya di sekolah, aku pikir aku berhasil mengenyahkan Otani.

Dan benar saja untuk tiga hari kemudian Otani tidak menampakkan dirinya di sekolah. Aku tidak mendapatkan secuil informasi tentang berita terhangat Otani. Aku sempat khawatir sedikit sih tapi dengan begitu aku bisa lepas dari jerat yang membuatku terlambat.

Ada kabar baik, Yanagi dari kelas sebelah mengajakku kencan ke taman ria naik kereta. Dia sempat mengira bahwa aku dan Otani berpacaran, setelah aku memeberinya penjelasan singkat akhirnya dia bisa bebas mengajakku.

Selangkah lebih dekat untuk mendapatkan pacar dan aku bisa memamerkan pada Otani setelah dia masuk nanti. Cowok cakep berperawakan tinggi semampai sudah di depan mata. Tanpa berpikir lagi aku langsung berkata,”Ya!” tanpa paksaan.

****  ****

Aku berdiri di stasiun dengan perlengkapan siap meluncur untuk berkencan ke taman ria. Aku mengenakan baju paling cantik yang aku punya dan membawa serta bento yang aku siapkan sejak pukul lima pagi tadi. Sebetulnya itu ibuku yang membuatkan, tapi setidaknya aku berada di dapur saat itu—menjadi asisten ibuku.

Selang beberapa menit Yanagi datang dengan senyuman mautnya yang langsung efektif melelehkanku. Dengan gaya pakaian casual, dia mendekati aku dan berkata lembut, “Maaf sedikit terlambat”. Kemudian aku menggelengkan kepalaku sebagai tanda aku tidak keberatan.

Lalu perjalanan ke taman ria pun dimulai. Taman ria yang belum pernah aku kunjungi, memakan waktu dua setengah jam untuk mencapainya dengan kereta.

Sesampainya disana, kita berdua menaiki beberapa wahana yang kita pilih bersama dan makan siang romantis. Aku dan Yanagi sempat menaiki merry-go-round dan biang lala.

Meski tujuh puluh persen tiket kereta dan biaya masuknya aku yang bayar. Aku tetap bahagia dengannya. Yah, setidaknya dia bilang kalau dia lupa membawa uang lebih dan akan mengembalikan uangku besok.

Jam lima lebih sepuluh menit, aku  menunggu di taman ria sementara Yanagi izin ke toilet.

Lima menit…sepuluh menit…lima belas menit…

Aku mulai tidak sabar menunggu. Tiba-tiba ponselku bordering dan sms dari Yanagi masuk.

From: Yanagi

Sori aku pulang duluan. Ada keperluan mendadak.

Setelah membacanya aku langsung bergegas ke stasiun dan membeli tiket. Kupikir aku bisa menyusulnya dan kita bisa pulang bersama mengingat waktu sudah mulai petang dan tempat ini begitu asing bagiku.

Tapi ternyata dewi fortuna tidak berpihak padaku. Pintu kereta mulai tetutup dan keretanya mulai bergerak perlahan menjauh. Meski aku bisa berlari lebih cepat dari Otani tapi aku tidak mampu mengejarnya. Dan yang lebih menyakitkan daripada itu, aku bisa melihat Yanagi sedang duduk manis dan berbincang mesra dengan seorang cewek.

Dengan perasaan bercampur aduk. Aku mulai jongkok memeluk kedua lututku. Rasa kesal, capek, marah, khawatir, takut, menyesal telah ikut dengannya telah mendarah daging denganku saat ini. Alhasil, tanpa disadari wajahku sudah basah dengan air mata. Aku mulai terisak dan tidak bisa berpikir jernih lagi. Aku tidak peduli orang sekelilingku memandangku apa. Pokoknya mengangis ya menangis. Dan tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi padaku. Aku pikir ini adalah kereta terakhir yang menuju kotaku. Dan aku bakal menginap di stasiun dan menjadi gelandangan menunggu kereta datang keesokan harinya.

Tapi tiba-tiba isakannku terpecah oleh bunyi ponselku lagi. Aku berani bersumpah akan membuang ponselku di bantalan kereta yang berjalan kalau sms itu berasal dari Yanagi. Setelah aku buka.

From: Otani

Koizumi, apa kau sedang berada di stasiun X?

Aku memandang layar ponselku dengan bersemangat, sebelumnya tidak pernah kulakukan. Otani ada disini. Aku membalas sms-nya dengan pertanyaan “Kau ada di sebelah mana?

Aku berdiri dan berusaha mencari keberadaannya. Aku sempat khawatir aku tidak akan menemukannya dikerumunan orang banyak lantaran badannya yang kecil.

Tapi tidak! Aku melihatnya! Ya, aku benar-benar melihat Otani berdiri di seberang!

Aku melambaikan tanganku padanya. Tanpa ragu-ragu dia menghampiriku. Saking gembiranya aku hampir saja memeluk dan menciumnya.

“Sendiri?” aku bertanya, setengah menahan rasa bahagiaku yang berlebihan agar tidak terlalu kentara.

“Ya. Koizumi kau sedang apa disini?”

“Seharusnya aku yang bertanya sedang apa disini. Dan seenaknya tidak masuk sekolah.”

Otani mengatakan kalau dia mengunjungi neneknya yang tiba-tiba sakit tapi setelah sampai di kota ini dia ikut sakit akibat kelelahan. Karena sudah agak baikan hari ini dia memutuskan untuk pulang.

Beberapa menit kemudian kereta datang.

Meski aku dan Otani berdiri di dalam kereta karena tidak mendapat tempat duduk, aku merasa nyaman bersama Otani.

Aku mulai menceritakan kepada Otani kisahku seharian bersama Yanagi yang bikin senewen. Tapi dia malah menertawaiku. Sepenjang perjalanan dua setengah jam, Otani malah mengatakan hal-hal yang membuatku tertawa lepas dan sejenak melupakan Yanagi.

Walaupun Otani sering membuatku jengkel tapi aku sadar pertemanan yang tulus dari dalam hati yang akan membuat diri kita bahagia. Dan tidak ada yang bisa menggantikan sosok Otani didalam hatiku.

Kemudian aku teringat dengan pertengkaranku dengannya beberapa hari yang lalu dan mengatakan dengan ragu “Anou, Otani, aku minta maaf atas perkataanku waktu itu. Aku benar-benar menyesal.”

“Lho? Memangnya kita sedang marahan ya?” dengan wajah innocent Otani berkata dengan nada lebih tinggi satu oktaf denganku tadi.

“Eh?”

“Oh ya, Koizumi. Masih ingat tiket Umibozu yang terbang waktu itu?” Otani merubah topik pembicaraan dan bersemangat.”Aku benar-benar membelinya untuk kita berdua.”

“Sungguh?”

Aku yang masih setengah berpikir. Mungkin Otani sengaja melakukannya karena dia menjaga perasaanku. Sejak saat itulah aku menyadari satu-satunya orang yang mengerti aku adalah Otani. Dan tempat yang membuat kehidupanku berubah adalah kereta ini. Kita benar-benar menikmatinya. Berdua saja.

*THE END*

Disclaimer

  • Lovely☆Complex oleh Aya Nakahara
Advertisements

One thought on “Fan Fiction Story: Romancing Train

  1. Pingback: Fan Fiction Story: PRC48 Audition  | Summer Ballads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s