Day 1: Mencuri Waktu Untuk Liburan Sejenak

Day 1: Mencuri Waktu Untuk Liburan Sejenak

Masjid Agung Jawa Tengah

Selasa, 4 Juli 2017

Kebahagiaan 110 km 

Terkadang kenyataan memang nggak sesuai dengan ekspektasi. Contoh sederhananya adalah liburan. Waktu masih sekolah dan kuliah, rasanya ingin cepat lulus dan segera mendapat pekerjaan. Supaya bisa beli ini itu dan yang penting bisa dapat duit segunung buat bisa plesir kemana-mana. Tapi setelah bekerja, nyatanya justu malah penuh dengan dilema dan drama #lebay. Di saat aku awal bekerja, aku overdosis waktu luang dan bisa izin cuti sesuka hati tapi honornya nggak bisa seenak jidat buat dijadiin modal liburan. Lalu di saat aku nyari tambahan penghasilan di tempat lain tapi kendala waktu yang membebani. Nggak bisa bebas liburan di saat-saat low season karena pasti lagi rame-ramenya jadwal les. Jadi pas kemarin itu ada jatah libur akhir tahun ajaran ditambah libur lebaran kumanfaatkan untuk pergi ke Jogja, Wonogiri dan Semarang. Mumpung nggak ada jadwal les jadi bisa bebas kemana-mana. Yiihaaaa~ Meski bukan low season sih.

Seminggu sebelum lebaran aku pergi mengunjungi Jogja selama dua hari karena penasaran sama De ARCA dan Taman Sari. Lalu lanjut piknik ke tempat Simbah di Wonogiri setelah sholat Ied. Nah, mau kemana lagi bingung kan? Sebenernya banyak bucket list yang belum tercoret tapi kembali lagi, aku belum bisa pergi agak jauhan karena masalah finansial. Pada akhirnya diputuskan untuk pergi ke Semarang sajalah. Daripada nggak pergi sama sekali.

Rombonganku kali ini adalah aku, Bety, Novi dan Ibuku api entahlah ternyata Mbak Aan juga ikut. Kami membeli tiket Kereta Api Kalijaga pulang pergi seharga Rp 20,000. Seperti biasa tiket bisa dibeli sebelum hari keberangkatan. Rencana kami akan jalan-jalan selama 3 hari 2 malam. Soalnya jadwal keretanya hanya satu kali dalam sehari. Berhubung kami harus menginap di Semarang selama dua malam maka mau nggak mau kami harus nyari hotel. Aku coba download aplikasi booking.com buat nyari hotel yang murah tapi nyaman. Di booking.com ini bisa dibayar via kartu kredit atau bisa juga dibayar belakangan pas udah sampai di hotelnya. Rasanya kok malas kalau harus menggunakan jasa booking online seperti Goodview Travel yang kugunakan memesan penginapan di luar negeri. Jadi kupilih saja yang bayar di tempat. Tapi pilihannya nggak sebanyak yang bisa dibayar dengan kartu kredit. Akhirnya kami pesan kamar ata lebih tepatnya pesan bed di The Backpacker Semarang. Bukan hotel tapi hostel. Soalnya agak bingung juga kalau personilnya lima. Di booking.com kalau berlima harus pesan dua kamar. Oh ya, pemesanan bisa di-cancel tapi maksimal sehari sebelum tanggal menginap.

Pada hari-H kami harus meluncur langsung ke Stasiun Balapan yang jaraknya jauh dari rumah kalau ditempuh dengan jalan kaki -__-; Jadwal keberangkatan kereta lumayan pagi sekitar jam 5-an lebih. Sebenernya mau nyari Uber tapi kok nggak yakin jam segitu udah ada yang beroperasi. Jadi akhirnya kami naik taksi aja. Karena takut ketinggalan kereta maka kami sholat Subuh di stasiun.

Suasana Stasiun Balapan di Pagi Hari

Kereta Api Kalijaga itu lumayan bersih dan nyaman. Cuma karena cuacanya masih pagi terus keretanya juga belum ada yang menempati sebelum kami dan AC yang nagkring tepat di atasku maka aku jadi kedinginan. Berasa di dalam kulkas. Brrrrr! Untungnya dari rumah aku udah membawa setermos kopi panas. Lumayanlah ya buat menghangatkan badan. Tapi aku sangat menikmati perjalanan berjarak seratus sepuluh kilometer ini. Maklumlah lama nggak traveling. Berasa rindu banget.

Angkor Wat? Bukan! Ini Kota Lama

Bangunan Tua di Kota Lama

Kami sampai di stasiun Poncol sekitar pukul 9 pagi. Sesuai dengan itinerary yang telah dibuat dari rumah, perjalanan hari pertama dimulai di daerah Kota Lama. Kota Lama sendiri terletak di Jalan Letnan Jenderal Suprapto, Tanjungmas, Semarang Utara, Tanjung Mas. Jadi sekitar 1,6 km atau 17 menit jalan kaki. Pokoknya keluar stasiun belok kiri. Aku nggak tahu itu arah ke Timur atau Barat.hehe…

Sudah sampai di Kota Lama. Asyik!

Kawasan Kota Lama yang memiliki luas 31 hektar ini disebut juga “Outstadt” atau “Little Netherland” karena jika dilihat secara geografis kawasan ini terpisah dari daerah yang lain. Kota Lama ini dulunya merupakan pusat perdagangan pada abad ke 19 – 20. Secara umum, bangunan-bangunan yang berada di Kota Lama mengikuti arsitektur bangunan yang terletak di Eropa tahun 1700-an. Bangunan yang ada di antaranya mercusuar, Jembatan Mberok, Stasiun Semarang Tawang, Gereja Blenduk, Susteran Ordo Fransiskan, Bank Export Import Indonesia, PT Djakarta Lloyd, PT. Pelni, Kantor Gabungan Koperasi Batik Indonesia dan PT. Perkebunan XV.

Sekarang ini, bangunan-bangunan tua yang menjadi saksi bisu sejarah Indonesia di masa kolonial Belanda masih utuh seperti aslinya. Namun, lebih banyak digunakan untuk kantor perbankan. Di kawasan itupun berdiri berbagai tempat kuliner hingga Old City 3D Trick Art Museum.

Old City 3D Trick Art Museum

Gereja Blenduk

Yang paling menarik, di kawasan Kota Lama ada tempat yang ditumbuhi akar-akar besar yang menjalar hampir memenuhi tembok. Mirip akar-akar yang ada di Angkor Wat. Ini nih spot instagrammable. Btw, kok jadi baper pengen ke sana ya. Oh, Angkor Wat. ;P

Mirip Angkor Wat. Cantik! Hmm, maksudnya akarnya yang cantik. ;P

Sebenarnya di setiap sudut kawasan Kota Lama spotnya keren sih. Cuma nggak bisa ngambil foto dengan bebas soalnya banyak berseliweran kendaraan. Misalnya aja waktu kami pengen foto di depan gereja Blenduk sebagai latarnya. Kami harus menunggu hingga nggak ada kendaraan yang lewat. Sumpah susah banget.

Kaki Terpanggang di Pelataran Masjid Agung Jawa Tengah

Arsitekturnya keren! Love it!

Petualangan mencari spot cantik di Kota Lama nggak berlangsung lama soalnya kami tinggal Ibu di depan bank Mandiri. Langsung aja kami meluncur ke destinasi selanjutnya dengan Go-car. Yang searah dengan Kota Lama adalah Masjid Agung Jawa Tengah. Go-car yang kami tumpangi meminta tambahan Rp 5,000 karena kami berlima. Entahlah, aku nggak tahu kalau perusahaannya punya kebijakan seperti itu.

Matahari sudah mulai meninggi di atas ubun-ubun. Kebayang nggak sih panasnya kayak apa. Kami mencari tempat duduk yang teduh di antara pilar-pilar megah. Nah, nanti kalau mataharinya geser maka kami juga ikut geser biar nggak kepanasan. Kami di situ selonjoran sambil makan nyemil sambil menikmati keindahan Masjid Agung ini.

Rukun Islam

Masjid Agung Jawa Tengah ini mulai dibangun pada tahun 2001 dan selesai pada tahun 2006. Masjid yang berdiri di atas lahan 10 hektar ini diresmikan pada tangggal 14 November 2006 oleh presiden SBY. Arsitek dari masjid yang memiliki gaya campuran Jawa, Islam dan Romawi ini adalah Ir . H. Ahmad Fanani dari PT. Atelier Enam Jakarta yang memenangkan sayembara desain MAJT tahun 2001. Pilar-pilar bergaya Romawi tempat kami berteduh itu berjumlah 25 yang mempresentasikan 25 Nabi dan Rosul. Lalu ada tulisan syahadat dan tertulis huruf Arab Melayu “Sucining Guno Gapuraning Gusti” di bagian atasnya.

Yang paling menarik adalah enam buah payung elektrik raksasa berwarna putih yang berdiri kokoh di pelataran masjid. Memiliki tinggi 20 dan 14 meter dan otomatis terbuka setiap hari Jumat ketika sholat Jumat dilaksanakan. Katanya sih, payung ini terinspirasi dari Masjid Nabawi.

Payung elektrik yang bisa otomatis terbuka

Di luar dugaanku, ternyata Masjid Agung ini punya 36 penginapan buat para pelancong, cafe muslim di dalam menara dan stasiun TV bernama MAJT-TV yang siarannya bekerjasama dengan TVKU Semarang. Namun sayang, waktu kami ke sana menara Al Husna atau Al Husna Tower nggak dibuka. Pupus sudah harapan kami bisa melihat kota Semarang di atas ketinggian 99 meter dengan angle 360 derajat. T___T

Al Husna Tower

Bedug di halaman masjid

Ini batu apa ya?

Puas berselonjor ria, aku, Bety dan Ibu memutuskan sholat dulu di Masjid Agung. Dengan santainya kami berjalan menuju pelataran masjid. Eh ternyata ada batas sucinya. Otomatis kami melepas alas kaki. Tapi begitu menginjak pelataran masjid kaki langsung “nyos!” Panas banget! Kami berlari sekencang yang kami bisa. Lalu berhenti di tempat teduh, menetralkan kaki. Kemudian berlari lagi terus berteduh lagi. Begitu seterusnya hingga sampai di Masjidnya. Duh, rasanya berlari di atas bara api. Tahu gitu pakai kaos kaki dari rumah. Dan lebih bodohnya lagi, kenapa tadi nggak lewat samping aja yang jarak batas suci dan masjid cukup dekat, teduh lagi. Nggak usah ada acara kaki terpanggang. T__T

Tempat wudhunya di bawah dekat parkiran. Ngademin kaki -_ -;

Tapi kaki dan hati rasanya adem banget begitu masuk masjid. Al Quran raksasa langsung tertangkap oleh mata karena dipajang paling dekat dengan pintu masuk seakan ada di sana untuk menyambut tamu. Al Quran berukuran 145 x 95 cm² dan ditulis tangan oleh Drs. Khyatudin, dari Pondok Pesantren Al-Asyariyyah, Kalibeber, Mojotengah, Wonosobo. Selain Al Quran ada juga bedug raksasa yang merupakan replika bedug Pendowo Purworejo. Dibuat oleh para santri pondok pesantren Alfalah, Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, asuhan KH Ahmad Sobri, menggunakan kulit lembu Australia.

Al Quran Raksasa

Bedug Raksasa

Pemandangan dari lantai dua

Ada liftnya

Sebelum sholat, kami sempat naik ke lantai dua, bukan penasaran sih cuma kami kira lantai dua itu buat jamaah perempuan. Ternyata kosong dan karpetnya udah gulungan semua. Hadeh!

Di Balik Hostel Ada Simpang Lima

The Backpacker Semarang

Karpet hijau tua di Masjid Agung ini mewah, berasa tebal dan lembut di kaki. Pengennya tiduran di sana. Tapi kami nggak bisa berlama-lama karena Mbak Aan dan Novi nungguin barang-barang dengan kepanasan. Setelah ini kami berencana ke hostel dulu.

Karpetnya Lembut dan Super Tebal

Seperti biasa Go-car menjadi andalan kami. Kami menunggu di depan gerbang Masjid Agung. Nggak disangka, driver-nya mbak-mbak berhijab modis nan cantik jelita. Kayak mahasiswa yang part time karena lagi libur perkuliahan. Mobilnya kecil jadi kami berempat dusel-duselan di jok belakang. Mbaknya ini ramah banget malah ngasih saran harus kemana dan tempat-tempat menarik di Semarang. Sebenarnya semua tempat yang direkomendasikannya memang sudah masuk itinerary-ku. Ya sudahlah. Sayangnya, mbaknya ini nggak jago masalah menemukan jalan. Padahal udah pakai google map. Ternyata google map-nya nggak tahu kalau jalannya searah. Alhasil tambah bingung si mbaknya. Mbaknya bingung apalagi kami yang bukan warga Semarang. Akhirnya tanya orang baru bisa sampai. Udah gitu jadi nambahin biaya sama si mbaknya karena harus ngulang rute dari jalan besar. Kukira jalanan yang searah cuma di solo ternyata Semarang juga banyak yang dijadiin searah.

The Backpacker Hostel berada di Jalan Anggrek, masuk gang. Belakang Mall Ciputra atau sering disebut dengan Citra Land. Hostel ini dulunya berupa guest house jadi bangunan rumah bertingkat biasa. Begitu sampai staffnya sudah menyiapkan kamar untuk kami, deket kamar mandi dan pintu masuk. Kami bayar untuk malam pertama dulu seharga Rp 85,000/bed/orang. Nah, ternyata si mbaknya resepsionis bilang harga aslinya itu Rp 75,000/bed/orang. Karena aku booking-nya online jadi beda Rp 10,000. Mbaknya bisa kasih harga asli tapi harus cancel booking online-nya. Ya nggak mungkin di-cancel. Mbaknya juga bilang kemarin itu harusnya booking-nya lewat telepon aja. Owalah baru tahu. Yowis, buat pengalaman.

Kamar Hostel

Sebenarnya kami pesan yang dorm room berisi 8 bed tapi ini dikasih 6 bed karena emang lagi sepi. Ibu, Novi dan Bety dapat bed bawah. Sedangkan aku dan Mbak Aan dapat bed atas. Tempatnya bersih, nyaman banget, kasurnya empuk banget bikin betah. Sprei dan sarung bantal udah dipasangin. Beda waktu di Singapura dulu masang sendiri, nyopot sendiri. Selimutnya yang berwarna merah hati juga hangat dan lembut. Terlebih lagi dapat fasilitas handuk (dipinjemin) dan seplastik kecil berisi sabun, sikat gigi dan pasta gigi (bisa dipakai dan dibawa pulang).

Dapet bed atas

Dapat beginian

Hostel ini juga dekat banget dengan Simpang Lima. Jadi malam harinya kami jalan-jalan ke sana sambil nyari makan. Seneng lihat suasana malamnya Simpang Lima. Ternyata kebahagiaan itu sederhana, cukup curi waktu sejenak untuk berekreasi.

Day 1 Budget

  • Tiket Kereta Kalijaga Balapan → Poncol PP : Rp 20,000
  • Taksi ke stasiun: Rp 6,000 (sudah dibagi 5)
  • Go-car Kota Lama → Masjid Agung: Rp 4,200 (sudah dibagi 5)
  • Go-car Masjid Agung → Hostel: Rp 6,000 (sudah dibagi 5)
  • Hostel Malam Pertama: Rp 85,000
  • Teh dan White Coffee: Rp 1,600 (sudah dibagi 5)
  • Pop Mie: Rp 7,500
  • Makan malam: Rp 11,600
  • Total Pengeluaran Hari Pertama: Rp 141,900

Read Complete Story of “Sweet Escape to Semarang”

Advertisements

2 thoughts on “Day 1: Mencuri Waktu Untuk Liburan Sejenak

  1. Pingback: Day 2: Sejarah, Meriah, Ibadah | Summer Ballads

  2. Pingback: Day 3: 2 Jam 45 Menit | Summer Ballads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s