Day 2: Sejarah, Meriah, Ibadah

Day 2: Sejarah, Meriah, Ibadah

Foto Hitam Putih di Lawang Sewu

Selasa, 5 Juli 2017

Menilik Sejarah di Lawang Sewu

Kalau boleh jujur, hostel yang kutempati ini sangat nyaman. Meskipun rugi Rp 20,000 tapi bisa tidur dengan nyenyak sampai bisa ngorok. Eh, nggak gitu juga sih. Pokoknya feel like home deh. Banyak kelebihannya seperti  AC yang bisa dengan bebas dinyalain dan dimatiin sesuka hati karena nggak ada orang asing yang menempati. Terus bisa beli makan di luar buat sarapan terus dibawa di kamar. Nggak apa-apa yang penting nggak mengotori lantai, kasur dan properti lainnya. Tapi meskipun nyaman, kami nggak boleh terlena berlama-lama di kamar. Kami harus melancarkan aksi babak kedua mengunjungi tempat yang iconic di Semarang. Hari kedua ini kami akan mengunjungi tiga tempat sekaligus yang arahnya sama. Tujuan yang pertama adalah Lawang Sewu yang terkenal angker itu.

Setengah sembilan kami keluar hostel dan menunggu jemputan Go-car di daerah Jalan Anggrek Raya yang tempatnya cuma beberapa langkah dari hostel. Nggak butuh waktu lama, Go-car sudah menurunkan kami di depan Lawang Sewu. Lawang Sewu ini terletak di depan bundaran Tugu Muda yang disebut juga Wilhelminaplein. Berhubung masih pagi Lawang Sewu juga belum banyak yang mengunjungi. Wah, bisa bebas foto-foto ini *mata berbinar*

Harga Tiket Lawang Sewu

Tiket Masuk Lawang Sewu

Lawang Sewu adalah salah satu dari 102 gedung tua dan bersejarah yang dilindungi di kota Semarang. Dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907. Dulunya gedung ini merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Selain itu, gedung ini juga menjadi saksi bisu pertempuran lima hari di Semarang pada 14 Oktober hingga 19 Oktober 1945. Setelah kemerdekaan gedung ini sempat dipakai untuk Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia, Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Perhubungan Jawa Tengah.

Bangunan dua lantai ini memang terkenal angker karena dipercaya banyak makhluk astral yang menunggu setiap sudutnya. Terlebih lagi, tempat-tempat seram seperti sumur tua, penjara jongkok, lorong-lorong, penjara berdiri dan ruang penyiksaan. Yang dulunya dipakai untuk menyiksa para tahanan. Namun sekarang bangunan ini nggak terlalu menyeramkan, soalnya sudah dipugar kemudian diresmikan oleh Mantan Presiden SBY pada tanggal 5 Juli 2011 sebagai obyek wisata. Saking kerennya, tempat ini kerap untuk lokasi pre-wedding dan resepsi pernikahan.

Di halaman Lawang Sewu. Ada papan penunjuk arah

Bangunan Lawang Sewu

Masih di kawasan Lawang Sewu

Sihlouette

Julukan Lawang Sewu diberikan karena bangunan ini memiliki banyak sekali pintu dan jendela-jendela besar yang menyerupai pintu yang tak kalah banyaknya. Padahal apa benar jumlah pintunya seribu? Ada yang mengatakan 342 dan daun pintu 1.200, ada juga yang menghintung 425 pintu dan 850 daun pintu, ada juga yang dapet angka 600 pintu. Jadi sebenarnya pintunya ada berapa? Nggak pasti soalnya kalau dihitung selalu berubah-ubah dan hal tersebut dikait-kaitkan dengan sesuatu yang mistis. Kalau menurutku nggak sih ya, mungkin yang menghitung kurang teliti aja. Menghitung pintu, daun pintu dan lubangnya segitu banyaknya siapa sih yang nggak mupeng. Oh oke, mungkin cuma aku aja yang mupeng. -_-;

Lubang pintunya aja ada banyak

Di Lawang Sewu ini, isinya nggak melulu pintu. Ada ruangan yang berisi foto-foto Lawang Sewu dan setiap sudutnya dengan warna hitam putih. Ada juga museum perkeretaapian yang berisi, diorama Stasiun Kereta Ambarawa, peta jalur kereta zaman dulu dan barang-barang yang berhubungan dengan kereta api versi tempo dulu. Di sana dipajang juga replika seragam dinas pegawai KAI.

Museum KAI

Benda bersejarah

Kampung Pelangi, Kampung Meriah yang Berwarna-warni

Jembatannya meriah

Puas berpose di Lawang Sewu (dan berdoa semoga nggak ada penampakan yang ikut nyempil foto), kami meninggalkan kawasan ini pada pukul setengah sebelas. Jam segitu semakin banyak pengunjung yang datang, kami merasa beruntung bisa datang pagi.

Destinasi wisata yang paling dekat dengan Lawang Sewu adalah Kampung Pelangi. Bisa dijangkau dengan jalan kaki. Jaraknya cuma 640 meter. Setelah keluar dari pintu exit Lawang Sewu belok aja ke kiri atau ke arah Selatan. Lurus terus di Jalan Sutomo IV hingga menemukan toko-toko bunga. Nah, Kampung Pelangi ada di belakangnya. Jika ingin mengunjungi Kampung ini, tidak dimintai tiket masuk kok. Cuma bayar buat parkirnya aja.

Kampung Pelangi ini dulunya adalah kampung kumuh dengan aliran sungai di sekitarnya. Lalu sekitar 232 rumah telah dicat berwarna-warni seperti pelangi. Bukan hanya rumah, jembatan, pelataran dan tangga juga tak kalah meriahnya. Karena tempat ini jadi ngehits di kalangan anak muda yang doyan foto maka perekonomian warga di kampung ini jadi membaik. Ketika kami datang ke sana, jembatan yang dipakai untuk menyebrang sungai terlihat sangat ramai. Ramai akan bola-bola plastik dan umbul-umbul yang berwarna-warni juga. Udah mirip tujuh belasan gitu deh. Di sana ada peminjaman properti foto gratis juga lho yang disediakan oleh salah satu warga, seperti topi-topi unyu, papan penanda yang tulisannya gokil dan bunga-bungaan palsu. Lumayan deh buat seru-seruan.

Pinjam gratis

Karena penasaran yang amat sangat #LebaynyaKumat, kami akan naik-naik hingga ke puncak. Untuk mencapai puncak, kami harus mendaki entah berapa anak tangga. Yang jelas banyak banget. Dan curam dan sempit  pula. Hati-hati terpeleset. Harus bersabar ketika bersimpangan dengan orang lain.

Sweet Heart di anak tangga

Pelatarannya juga meriah

Sepanjang perjalanan menuju puncak itu tadi, aku bisa melihat bermancam-macam pola yang dilukis di tembok-tembok rumah warga, ada hewan, kartun, polkadot, garis-garis hingga yang lukisan abstrak. Ketika kami melewati sebuah rumah, ada nenek-nenek yang memberikan petunjuk kami kalau mau sampai ke atas. Oke, kami ikuti aja. Ternyata eh ternyata, kami harus melewati kuburan dulu. Terus ternyatanya lagi yang dimaksud dengan puncak itu cuma begini doank. Well, naik ke salah satu rumah warga dan foto. Padahal background-nya juga nggak kelihatan pelangi-pelangi banget. Apa kami yang emang salah angle. Entahlah.

Pemandangan dari puncak

Dari atap rumah warga

Karena kaki udah mulai protes meraung-raung minta pulang jadinya kami balik aja ke tempat semula. Turun ke bawah maksdunya. Dan segera mengakhiri kemeriahan ini.hehe…

Sam Poo Kong, Tempat Ibadah Berwarna Merah 

Bangunan Sam Poo Kong didominasi dengan warna merah

Jarak antara Kampung Pelangi dan Sam Poo Kong cukup jauh maka kami memanggil Go-car untuk mengantarkan kami. Kali ini mobil yang kami tumpangi hampir mirip dengan mobilnya si Mbak cantik tapi buta arah yang kami tumpangi kemarin. Kecil. Sori nggak hafal merek mobil. Dan driver-nya Mamas muda yang sopan banget. Dari belakang kelihatan mirip aktor Dion Wiyoko gitu. Tapi ini KW 5.haha…

Begitu sampai di Sam Poo Kong, kami mencari makan siang dulu di warung depannya. Dan melanjutkan ke loket buat beli tiket setelah perut berhenti main keroncong. Ternyata di Sam Poo Kong tiketnya di bagi menjadi dua. Yang pertama Tiket masuk luar dan tiket masuk semua area. Tiket masuk luar hanya bisa mengunjungi area Patung Zheng He dan panggung. Sedangkan tiket masuk semua area meliputi area Patung Zheng He, semua klenteng, goa batu, gedung batu, relief, akar rantai dan film Zheng. Di sana juga disediakan foto kostum ala-ala Putri Huan Zhu gitu. Tapi mahal, sekitar seratus ribu per orang. Kami memilih yang tiket masuk luar aja dan nggak jadi foto kostum jadi Putri Huan Zhu deh. T___T

Sudah sampai Sam Poo Kong

Parkirnya

Harga Tiket Sam Poo Kong

Tiket Masuk Sam Poo Kong

Sam Poo Kong adalah tempat petilasan atau persinggahan Laksamana dari Tiongkok yang beragama Islam bernama Laksamana Zheng He atau Cheng Ho. Dulu ketika Laksamana Zheng He ini berlayar melewati Laut Jawa, banyak awak kapalnya yang jatuh sakit. Sehingga ia merapatkan kapalnya di pantai utara Semarang dan berlindung di dalam goa. Ia kemudian membangun masjid di tepi pantai. Namun, masjid ini sekarang difungsikan sebagai klenteng dan menjadi berada di bagian tengah soalnya Laut Jawa mengalami pendangkalan.

Patung Laksamana Zheng He

Sam Poo Kong memiliki arsitektur seperti bangunan di Tiongkok dengan dominasi warna merah. Jadi berasa ada di luar negeri.hehe…. Di dekat pintu masuk sudah dapat dijumpai toilet dan mushola. Lalu lebih dalam lagi, ada area sewa kostum dan perpustakaan. Beberapa patung berdiri kokoh di sana seperti patung Laksama Zheng He dan patung hewan-hewan mitologi. Kalau dilihat secara detail, di bagian gentingnya berjajar rapi hewan-hewan yang melambangkan shio berjumlah 12.

Salah satu bangunan di Sam Poo Kong

Sebenernya Sam Poo Kong ini, spot instagrammable banget tapi karena cuacanya begitu terik dan banyak orang pula. Hasil fotonya nggak terlalu memuaskan. Yowilah. Kamipun hanya bereliling sekitar area luar saja. Dari pojok ke pojok. Yaiyalah kan tadi beli tiket ya cuma lima rebu. ;D

Setelah Sam Poo Kong ini, kami berencana pulang ke hostel. Ada kejadian menyebalkan ketika kami memesam Go-car. Pas mobilnya datang tiba-tiba ada ibu-ibu dengan rompi mirip tukang parkir langsung menodong Rp 2,000 karena mobil ini adalah angkutan online. Lah, datang darimana ibunya tadi, kayaknya tadi nggak ada deh. Padahal di situ nggak ada spanduk atau keternangan tentang aturan malasah angkutan online. Menyebalkan sekali. Akhirnya dengan terpaksa driver-nya bayarin dua ribu.

Berlima ke Simpang Lima

Kawasan Simpang Lima

Malam terkahir di Semarang, kami berlima jalan-jalan ke Simpang Lima lagi. Aku pakai baju santai yang akan kupakai biar tidur plus pakai sandal jepit pula. Nggak tahunya malah mau nyari jalan pintas lewat Citra Land. Duh, baru kali ini jalan ke mal kayak gembel.haha…

Simpang Lima ini ramai banget, berasa semua makanan ada. Yang paling membuatku tertarik adalah warung HIK-nya. Beda sama yang di Solo. Kalau di sini nasi bungkusnya sudah dikasih tulisan dan pilihannya banyak. Di dalamnya ada nasi dan lauk, lauknya ini diplakstik sendiri. Jadi nggak masalah kalau lauknya pakai kuah. Yah, meskipun sedikit sih. Biasanya aku porsinya dua bungkus. Udah gitu murah meriah lagi. Wow, mantab jiwa!

Penampakan nasi bungkusnya

Day 2 Budget

  • Sarapan: Rp 6,800
  • Hostel Malam Kedua: Rp 85,000
  • Go-car Hostel → Lawang Sewu: Rp 2,000 (sudah dibagi 5)
  • Tiket Masuk Lawang Sewu: Rp 10,000
  • Cilok: Rp 1,000 (sudah dibagi 5)
  • Go-car Kampung Pelangi → Sam Po Kong: Rp 2,000 (sudah dibagi 5)
  • Makan Siang: Rp 11,400
  • Tiket Masuk Sam Po Kong: Rp 5,000
  • Es Krim: Rp 3,500
  • Go-car Sam Po Kong → Hostel: Rp 3,200
  • Makan Malam: Rp 6,800
  • Total Pengeluaran Hari Kedua: Rp 136,700

Read Complete Story of “Sweet Escape to Semarang”

Advertisements

2 thoughts on “Day 2: Sejarah, Meriah, Ibadah

  1. Pingback: Day 3: 2 Jam 45 Menit | Summer Ballads

  2. Pingback: Day 1: Mencuri Waktu Untuk Liburan Sejenak | Summer Ballads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s