Perdana Jadi Pengawas Silang

Perdana Jadi Pengawas Silang

Susana ujian di Jepang. Duh, nggak nyambung -__- (by http://www.japantimes.co.jp)

Aku terkejut ketika namaku dipanggil dalam rapat Bulan Maret lalu di sekolah. Bukan karena melakukan tindak kriminal penggelapan uang receh, melainkan ditunjuk sebagai salah satu dari empat pengawas yang akan keluar (ke sekolah) mengawasi ujian sekolah. Antara senang dan was-was. Tentunya aku senang menjalankan tugas tersebut karena ini adalah hal yang baru bagiku. Tapi was-was nanti nggak bisa melaksanakan dengan baik. Aku berharap nantinya akan dipasangkan dengan guru dari SD lain yang sudah senior karena mereka lebih berpengalaman. Di SD-ku sendiri yang ditunjuk adalah aku, Mbak Rini dan 2 orang guru PNS. Tahun ini harus menunjuk 2 orang guru honorer karena sekolahku sedang kekurangan guru, kurang 2 guru malah.

Seminggu sebelum melaksanakan tugas. Para calon pengawas mendapatkan pembekalan. Pembekalan dilaksanakan per gugus. Kebetulan tempatnya di SD sebelah tinggal lompat aja.hehe… Aku mencatat dan memperhatikan dengan seksama apa saja aturan-aturan menjadi pengawas yang disampaikan oleh Ibu PS. Aku bahkan mencatatnya hingga dua lembar! #AnakRajin. Beberapa hari kemudian edaran tentang penempatan sudah sampai di sekolah. Aku dan Mbak Rini ditugaskan di SD Negeri juga yang letaknya nggak jauh dari sekolah. Lalu aku membaca siapakah yang akan dipasangkan denganku dan Mbak Rini? Ternyata dari SD Swasta. Kelihatan dari namanya pasti orangnya masih muda. Apalagi SD Swasta pasti gurunya muda-muda donk ya. Aduh, gimana kalau mereka juga baru pertama kali sepertiku? Moga-moga aja nggak ya.

Jadi Pengawas Latihan USBN Tingkat Kota

Suasana di ruang panitia

Hari Pertama

Latihan USBN Tingkat Kota dilaksanakan pada hari Selasa hingga Kamis, 3 – 5 April 2018. Agak ganjil menurutku, masa’ ujian mulainya hari Selasa. Anti mainstream ya. Hari pertama mengawasi aku harus berangkat sebelum jam 7 karena biasanya ada pengarahan oleh Kepala Sekolah. Aku langsung meluncur ke TKP karena sehari sebelumnya aku udah survei dulu. Maklum, masih sering deg-degan kalau belum lihat secara langsung. Takut tersesat.haha…

Dari keempat pengawas aku datang paling akhir. Udah dibuka sama wali kelas 6 tapi belum kepala sekolah. SD tempatku mengawasi ini satu kompleksnya terdiri dari 3 sekolah. Nah, aku mengawasi di SD yang letaknya paling dekat dengan gerbang. Beberapa menit setelah aku tiba, Kepala Sekolah SD tersebut memasuki ruangan. Beliau memperkenalkan diri kemudian memberikan pengarahan. Begitu giliran kami para pengawas memperkenalkan diri, beliau malah shock karena mendapati kami berempat belum pernah mengawasi sebelumnnya. Nah! Kejadian! Yah, senyumin aja deh. Bismillah pokonya. Kepala Sekolah ini mewanti-wanti kalau kami ada yang kurang paham nggak perlu sungkan bertanya.haha….

Pada pukul 7 lebih 45 menit bel berbunyi sebanyak 3 kali tandanya para pengawas dipersilakan mempersiapkan diri di depan kelas. Menyambut anak-anak yang berbaris. Hari pertama aku mengawasi ruang II yang isinya hanya 8 anak. Sampai di dalam kelas agak blank gitu, kemarin urutannya gimana ya. Saking blank-nya ada dua hal yang terlewat seperti menunjukkan amplop naskah soal yang masih tersegel kepada anak-anak (aku sadar ketika amplop udah kubuka setengah dengan silet) dan menyuruh anak-anak membaca petunjuk pengisian soal terlebih dahulu (aku sadar ketika anak-anak sudah membaca seperempat dari keseluruhan soal). P-A-R-A-H

Jadi yang kuingat hal yang pertama kali dilakukan adalah berdoa, menyapa anak-anak dan memperkenalkan diri. Kemudian dengan sedikit ragu kami membuka amplop berisi LJK (Lembar Jawab Komputer) lalu membagikannya dan menyuruh anak-anak untuk mengisinya dengan penuh ketelitian. Karena LJK-nya berbentuk landscape aku meminta anak-anak untuk merubah posisi papan ujian menjadi landscape juga biar LJK nggak terlipat. Partner-ku juga sama newbie-nya kayak aku, mungkin karena grogi dan belum terbiasa aja. Jadi, yang kami lakukan berkeliling dulu memastikan bahwa anak-anak mengisi identitas dengan benar. Lalu bel sebanyak 2 kali berbunyi tandanya pengawas harus membagikan soal. Sebelum dibagikan aku tunjukkan dulu donk amplopnya masih tersegel. Hmm, sebenernya pura-puranya masih tersegel padahal udah terbuka setengahnya. Aduh, maaf! Ujian tahun ini sistemnya berubah, soal dibagi menjadi dua: pilihan ganda dan essay. Dua jenis soal tersebut dikoreksi di dua tempat yang berbeda. Yang LJK memakai komputer sedangkan yang essay (dikerjakan dengan bolpoin) dikoreksi oleh team korektor yang diambil dari guru-guru yang diajukan.

Kami tadi masuk membawa satu tempat pensil dengan isi komplit, satu map hijau berisi data anak, denah dan lain-lain serta dua amplop yang terdiri dari amplop naskah soal dan amplop LJK. Nah, di dalam amplop LJK isinya ada 10 lembar LJK, Pakta Integritas (2 lembar) dan amplop pengembalian berwarna coklat yang masih utuh. Sedangkan amplop naskah soal berisi 10 soal, daftar hadir siswa yang bersambung jadi satu dengan berita acara serta satu amplop pengembalian berwarna kuning yang masih utuh.

Jam 8 kurang 5 menit naskah dibagikan ke anak-anak dalam keadaan tertutup terbalik dan mereka dilarang menyentuh apalagi membukanya. Naskah soal biasanya terdiri dari tiga lembar yang terpisah sehingga sebelum membagikannya, pengawas menyusunnya terlebih dahulu tanpa membaca sedikitpun. Jika bel sudah berbunyi sekali berarti peserta ujian boleh mengerjakan. Sebelum mengerjakan kami meminta anak-anak untuk memeriksa apakah ada nomor yang hilang atau ada gambar yang kurang jelas. Sepertinya nggak ada. Fiuh~

Selama peserta mengerjakan, kami mengisi daftar hadir siswa, berita acara dan pakta integritas. Nggak seperti waktu pembekalan, ketiga kertas tersebut hanya ada dua seharusnya tiga. Dengan kata lain, pihak sekolah harus mengkopinya untuk arsip. Kami yang (agak) kebingungan melaporkan kepada kepala sekolah. Padahal kan seharusnya pengawas nggak boleh meninggalkan ruangan dan kepala sekolah nggak boleh masuk ruangan. Tapi di sini nggak masalah ya. Yang penting nggak memberikan bocoran ke peserta.

Waktu berjalan sangat lambat. Baru jam 9 peserta sudah selesai mengeejakan. Padahal ada essay-nya lho. Jadi peserta dan pengawas sama-sama krik krik selama satu jam itu. Untungnya pengawas diperbolehkan makan permen yang sudah disediakan. Selain makan permen selama mengawasi pikiranku liar kemana-mana. Aku malah merencanakan artikel apa yang akan kutulis di dalam blog. Lumayan, lumayan. Selama mengawasi pengawas dilarang keseringan jalan-jalan atau mengobrol dengan pengawas yang satunya. Kami jalan memeriksa kembali LJK dan lembar jawab essay lima belas menit sebelum waktu usai. Jika waktu kurang 5 menit pengawas wajib mengingatkan, kalau lupa tenang udah ada bel dua kali yang mengingatkan terlebih dahulu. Untuk masalah per-bel-an aku harus bolak balik melihat di kertasnya, maklum belum hafal.hehe….

Ketika bel satu kali kami melakukan kesalahan lagi. Peserta kami minta memisahkan lembar jawab dan naskah soal masing-masing sebelah kanan dan kiri meja. Kami membagi tugas, aku yang mengambil LJK dan pengawas satunya mengambil lembar jawab essay urut diambil dari belakang. Setelah mengambil semua lembar jawab kemudian dimasukkan ke dalam amplop masing-masing yang sesuai. Pakta integritas, berita acara dan daftar hadir dimasukkan ke dalam amplop pengembalian masing-masing satu lembar. Kemudian kami mengelem amplop tersebut, ditandatangani kedua pengawas di bagian lidah amplop lalu dicap dengan cap sekolah. Lalu yang terakhir menunjukkan ke peserta bahwa amplopnya sudah tersegel. Selanjutnya berdoa terus peserta diperbolehkan ke luar ruangan. Nah, letak kesalahannya di sini. Pengawas mengambil lembar jawab setelah peserta ke luar. Owalah…

Hari Kedua

Hari kedua aku sudah dapat gambaran dalam mengawasi ujian. Kupikir udah sedikit mengertilah step-step-nya. Hari itu aku mendapat tugas mengawasi ruang I. Di ruang I terdiri dari 20 peserta, lebih padat kelihatannya dan lagi ada beberapa biang kerok yang katanya sering bikin ulah. Biasalah ya di setiap kelas pasti ada. Pembagian lembar jawab dan naskah soal nggak ada masalah. Berhubung mapel yang diujikan matematika kami harus membagikan kertas buram sebagai orek-orekan. Kertas tersebut mereka lipat memanjang dan ternyata itu buat mengerjakan soal secara urut dan rapi. Oh…Hari kedua yang kupikir bakalan berjalan mulus ternyata nggak. LJK yang kami terima hampir sekelas ada bercak kotornya atau tersobek sedikit di pinggiran. Kalau begini caranya mana bisa ditukarkan dengan LJK sisa yang hanya dua. Anak-anak mulai bingung, kami akhirnya melaporkan kepada kepala sekolah dan diberikan 5 LJK yang bersih. Kemudian kami menukar LJK peserta yang paling kotor, hanya 4 saja.

Selain memastikan pengisian identitas peserta sudah benar. Kami juga bertugas mengingatkan peserta untuk berhati-hati dalam memperlakulan LJK. Tapi yah namanya juga anak-anak apalagi yang bandel. Seringnya mereka lupa menghitung di kertas buram atau menandatangani daftar hadir atau menulis jawaban essay di atas LJK! Terus juga ada peserta yang mengisi identitasnya ngawur, semua nama disambung tanpa spasi. Udah gitu kertasnya agak terlipat. Sembrono sekali ini anak.

Hari kedua nggak banyak nganggurnya soalnya nulis nama peserta aja udah makan waktu apalagi ditambah kasak-kusuk keringetan gara-gara LJK-nya nggak normal. Mengerjakan matematika membuat peserta nggak bisa tidur-tiduran seperti hari pertama. Ada juga lho yang kurang 15 menit tapi isian belum dikerjakan dan pilihan ganda masih bolong 5 atau 6 nomor. Duh!

Hari Ketiga

Belajar dari yang sudah-sudah, hari ketiga berjalan dengan lancar jaya. Aku mengawasi ruang II. Bisa sedikit santai bahkan sebelum setengah sembilan udah beres termasuk daftar hadir siswa. Tapi sayang aku lupa bawa permen. Bisa dibayangkan betapa krik krik nya saat itu.

Jadi Pengawas USBN

Karena pengawas nggak boleh bawa hp di ruang ujian. Jadi ini foto sekenanya

USBN atau Ujian Sekolah Berstandar Nasional yang sebenarnya jatuh di hari yang tak lazim. Biasanya ujian tuh mulainya hari Senin. Nah, kemarin itu ujiannya hari Kamis, 3 Mei hingga Sabtu, 5 Mei 2018. Anti mainstream banget. Di USBN aku kembali mengawasi di SD yang sama seperti ketika Ujian tingkat Kota. Bedanya hanya di bagian Kepala Sekolahnya. Berhubung Kepala Sekolah yang dulu sudah pensiun per 1 Mei jadi SD ini diampu oleh kepala Sekolah SD sebelah. Pengarahan hari pertama dilakukan bersama pengawas SD sebelahnya. Kepala Sekolah memberitahu pengawas bahwa ada yang sedikit berbeda dengan waktu ujian tingkat kota kemarin.

Selama 3 hari, nggak ada masalah berarti. Karena udah sedikit terbiasa, aku jadi menjalaninya dengan lancar jaya PKK. Amplop yang dibawa masuk ruang ujian ada 3: amplop yang berisi naskah soal, amplop yang berisi LJK dan amolop yang beisi LJ essay. Kedua amplop LJ dibiarkan menganga. Nah, di dalam amplop LJ terdapat 4 stiker panjang bertuliskan “DOKUMEN NEGARA” dengan lambang pendidikan di kanan kirinya yang nantinya direkatkan pada atas dan bawah amplop.

Dari ketiga hari, hari yang menyenangkan adalah hari terkahir. Kenapa? Yah, karena dapat ehem amplop. Meskipun isinya nggak seberapa tapi lumayanlah ya. Udshh gitu dapat pengalaman baru. Double senengnya! Asyik!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s