Lolos dan Gagal di Ujian JLPT 

Lolos dan Gagal di Ujian JLPT

Sertifikat JLPT (by http://www.discovernikkei.org)

Sejak SMP aku sangat menggemari hal-hal yang berbau Jepang. Nggak heran ketika keinginan kuliah di jurusan Bahasa Jepang itu ada. Apalagi pergi atau tinggal di Jepang, wah keinginan tersebut benar-benar sudah mendarah daging. Tapi, impianku kuliah di jurusan itu harus kukubur dalam-dalam. Kala itu, di Solo nggak ada universitas yang punya jurusan Bahasa Jepang. Kalau harus ke luar kota aku nggak berani. Sebelum menjadi penyiar aku tuh penakut banget. Dasar penakut! Sekarang masih sih, takut hantu maksudnya.hehe… Sempat terbesit buat kursus gitu tapi biayanya mahal. Akhirnya aku tetap belajar Bahasa Jepang secara autodidak. Mulai dari belajar hiragana, katakana, sedikit kanji, kosakata, dan pola kalimat dasar. Hobiku yang mendengarkan lagu Jepang membuatku semakin akrab dengan Bahasa Jepang. Dengerin Bahasa Jepang udah kayak dengerin Bahasa Jawa. Saking akrabnya.hehe… Terus kemudian aku berpikir, kalau belajar sendiri kan nggak ada sertifikatnya. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk mengikuti ujian JLPT biar dapat sertifikat.

JLPT singkatan dari Japanese Language Proficiency Test dan dalam Bahasa Jepang bernama Nihongo Noryoku Shiken (日本語能力試験). JLPT adalah ujian kemapuan Bahasa Jepang buat warga non Jepang dengan masa berlaku sertifikat 2 tahun. Yah, mirip-mirip TOEFL gitu deh. Ujian ini pertama kali diadakan pada tahun 1984 dengan jumlah peserta sebanyak 7 ribu orang. Ujian ini dilaksanakan setiap bulan Desember dan memiliki 4 level (N1, N2, N3 dan N4). Namun sejak tahun 2010 sistemnya dirubah. Ujian ini ditambah satu tingkatan menjadi 5 (N1, N2, N3, N4 dan N5) dan dilaksanakan 2 kali dalam setahun (setiap Juli dan Desmeber). Dalam JLPT ujian paling dasar N5 dan paling mahir N1. Ujian JLPT dibagi menjadi tiga bagian yaitu moji, goi (文字・語彙) (kosakata), chokkai (聴解) (mendengarkan) dan dokkai, bunpou (読解・文法) (artikel). JIka ingin lolos, peserta harus mencapai batas nilai tertentu.

Nah, ujian ini aku pernah mengikutinya sebanyak 2 kali dengan jarak waktu yang begitu lama. Begini ceritanya.

JLPT di Tahun 2009

Aku pertama kali mengikuti ujian JLPT pada tahun 2009. Waktu itu adikku Bety masih SMA. Di sekolahnya tersebut ada mata pelajaran Bahasa Jepang. Kebetulan aku juga kenal dengan Sensei (guru) nya Bety. Aku juga sering bertanya mengenai bahasa Jepang kepada Sensei. Suatu hari, Sensei mengajakku dan Bety untuk ujian JLPT. Dengan senang hati Sensei mau mendaftarkan kami di Jogja. Tanpa pikir panjang kamipun mengiyakan. Tempat mengikuti ujian paling dekat adalah Jogja. Kalau di Jogja ini tempat ujiannya di Pusat Bahasa Asing, UGM. Sensei mendaftarnya juga di tempat itu. Biayanya cukup murah 30 ribu kala itu. Kami hanya menitip catatan data diri, uang dan pasfoto berwarna 4 x 4. Ukuran pasfotonya agak aneh tapi tenang biasanya dipotong oleh panitia biar pas. Peserta yang sudah mendaftar akan mendapat kuitansi, kartu peserta dan buku panduan JLPT yang berisi tata tertib, materi serta pelaksanaan ujian.

Aku dan Bety mengambil tingkatan paling dasar yaitu N4. Tempat ujain kami ada di lantai 2. Nggak nyangka ternyata peminat ujian ini sangat banyak. Waktu aku ke toilet aku mendengar percakapan sekelompok ibu-ibu dan bapak-bapak setengah baya. Dari percakapan itu aku tahu mereka mengambil ujian N1. Wow!

Seperti ujian pada umumnya, aku membawa pensil 2B, karet penghapus dan papan ujian. Lima belas menit sebelum ujian, kami dipersilakan masuk. Ruangan yang kutempati ini adalah ruang bahasa yang terdiri dari sekitar 20 kubikel lengkap dengan headphone-nya. Tas dikumpulkan di depan. Dilarang memakai jam tangan dan hape harus dimatikan. Nggak lupa kartu ujiannya dipersiapkan di meja. Soalnya pengawas akan mengecek satu per satu.

Ujian dimulai pukul delapan. Sesi pertama materinya tentang kosakata. Sebelum mengerjakan harus mengisi identitas dan menulis nama dengan pensil di sampul soal. Soal kosakata lumayan bisa mengerjakan. Kebanyakan yang kupelajari keluar. Cara mengerjakan di lembar jawabnya dihitamkan seperti waktu ujian SMA dulu. Setelah sesi pertama selesai, peserta diperbolehkan keluar istirahat selama 15 menit.

Sesi kedua adalah listening. Awalnya kupikir listening-nya bakal menggunakan headphone. Eh, ternyata pakai kaset yang diputar memakai radio. Udah gitu mutarnya cuma sekali doank. Terlanjur santai, soalnya Sensei bilang tahun sebelumnya listening bakal diputar 2 kali. Waktu itu kukerjakan yang paling mudah dulu, yang agak susah nantilah setelah pemutaran yang kedua. Memastikan dulu gitu maksudnya. Tenyata setelah kaset selesai diputar, pengawas mengatakan bahwa peserta boleh meninggalkan ruangan. Untungnya tempat dudukku agak belakang jadi masih ada sedikit waktu buat melingkari jawaban yang kosong. Jujur aku nggak sempat belajar listening-nya. Bismillah aja.

Sesi ketiga soalnya berupa teks yang kalimatnya banyak. Perlu pemahaman ekstra untuk menjawab soalnya. Maklumlah ya, nggak pernah kuliah ataupun kursus Bahasa Jepang.

Hasil JLPT akan dikirim ke rumah masing-masing. Jika amplopnya kecil berarti nggak lolos karena isinya hanya nilai. Jika amplopnya besar sudah dipastikan lulus karena isinya sertifikat. Amplop berisi sertifikat dan nilai milikku dan Bety sampai di rumah pada bualn Februari atau Maret. Alhamdulillah, untuk awal hasilnya baik. Meskipun mepet-mepet sih. Sesuai dugaan, nilai terendahku bagian chokkai atau listening.

JLPT di Tahun 2014

Setelah sekian lama semenjak ikut JLPT yang pertama. TIba-tiba aku diajak oleh adikku, Novi untuk mendaftar JLPT lagi. Ia akan menitip temannya untuk mendaftar ke Jogja. Karena sudah memasuki tahun 2014 maka aturannya sudah berbeda dari yang tahun 2009. Aku mengambil level N4, setingkat di atas dasar. Agak sembrono aku mengikuti ujian kali ini tanpa persiapan sama sekali. Akibat kesibukan aku jadi sudah jarang menyentuh buku-buku pelajaran Bahasa Jepang. Tapi akan kucoba yang terbaik.

Aku beserta Novi dan dua temannya berangkat pada bulan Desember. Dari 4 orang hanya aku yang mengambil ujian N4, yang lainnya ambil N5. Saking banyaknya peminatnya, ujian nggak bisa dijadikan satu gedung. Aku di UGM sedangkan mereka bertiga di SMP mana ya aku lupa.hehe… Pokoknya sekolah.

Ruang ujain yang aku tempati bukan ruang bahasa tapi ruang perkuliahan biasa. Ada sekitar 40 atau 50 peserta yang bisa ditampung di situ. Peserta duduk di kursi kuliah. Peraturannya tetap sama, hape harus benar-benar mati. Jika terdengar suara sedikit saja maka peserta langsung dikeluarkan dari ruangan. Di antara sekian puluh peserta ternyata banyak juga yang nggak bisa hadir. Bangkunya kosong.

Untuk tahun itu, dalam mengerjakan aku kebanyakan nge-blank. Nggak ngerti deh. Apalagi sesi listening, kaset diputar sekali.

Hasil ujian dikirim ke rumah. Untuk tahun itu amplopnya sama-sama besar, yang lulus maupun nggak. Udah bisa dipastikan kali ini aku gagal dalam ujian.haha….

JLPT bisa mengukur seberapa jauh pemahaman bahasa Jepang kita. Semenjak aku jarang belajar Bahasa Jepang, keinginan mengikuti JLPT juga nggak terlalu menggebu-gebu.

Advertisements

One thought on “Lolos dan Gagal di Ujian JLPT 

  1. Pingback: 29 Random Facts About Me! | Summer Ballads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s