Ikut Tes JLPT Tingkat Dasar Lagi Setelah 10 Tahun Berlalu

Ikut Tes JLPT Tingkat Dasar Lagi Setelah 10 Tahun Berlalu

Ikut Tes Tingkat Dasar Lagi?

Meskipun aku guru Bahasa Inggris (abal-abal) tapi aku justru pernah mengikuti JLPT atau Japanese Language Poficiency Test ketimbang TOEFL. Aneh, mau bagaimana lagi aku lebih tertarik Bahasa Jepang sih. Hati memang nggak bisa bohong, ya kan? Tes JLPT pertama yang kuikuti tahun 2009, aku ambil tingkat paling dasar yang waktu itu N4. Kemudian tahun 2014 aku coba ikut tes yang tingkat N4 (saat itu tingkat paling dasar N5) tapi gatot alias gagal total. Setelah itu aku berhenti belajar Bahasa Jepang karena sibuk ini-itu dan nggak mikirin buat ikut JLPT lagi. Akan tetapi, tiba-tiba saja aku menjadi bersemangat ikut JLPT lagi di tahun ini. Motivasiku saat ini adalah aku harus menguasai Bahasa Jepang supaya bisa menerjemahkan artikel di majalah, men-subtitle YouTube, dan mengerti apa yang anak-anakku bicarakan. Aku ingin membantu fans yang nggak ngerti Bahasa Jepang gitu lho. Ah, aku lupa bilang yang kumaksud anak-anak itu Bi Shonen ya, grup Johnny’s Jr yang baru aku stan tahun lalu. Nggak tahu mereka tuh memberikan postive vibe di hidup aku akhir-akhir ini. Lebay aku ya 😅 Eh, tapi bener, aku jadi rajin skincare-an, semangat cari nafkah dan punya alasan kuat untuk belajar Bahasa Jepang.

Terus tahun ini aku akan memulainya dari tingkat dasar. Meski aku udah belajar sejak belasan tahun silam tapi karena jarang dipakai jadi mudah terlupa. Aku ambil N5. By the way, sepuluh tahun yang lalu aku sudah ambil yang paling dasar dan lulus. Tapi aku ingin mengulanginya lagi. Alasannya ada 2: pertama, aku ingin benar-benar menguasai Bahasa Jepang jadi aku akan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh sampai nyantol di kepala. Sedangkan alasan kedua, aku terinspirasi oleh salah satu mbak-mbak kebangsaan Singapura yang ada di YouTube, meski dia bukan orang yang tinggal di Jepang tapi dia berhasil mengoleksi sertifikat JLPT dari N5 hingga N1. Wow!

Jadi, sekitar bulan Oktober aku mendaftar JLPT secara online untuk ujian tanggal 1 Desember 2019. Sekarang biayanya Rp 130,000 dulu masih Rp 70,000 waktu pertama kali aku ikutan. Apakah aku persiapan belajar setiap hari selama 2 bulan itu? Jawabannya nggak lah! Sebesar apapun motivasiku tapi rasa kantuk dan lelah setelah bekerja dapat mengalahkan niatku belajar. Jadi yang awalnya niatnya: 1 bulan pertama belajar dan 1 bulan berikutnya latihan soal full. Eh, berubah jadi: Lho? Tinggal 2 minggu? Cepet banget! Ya udah dibaca tiap hari entar juga hafal. Latihan soalnya nanti aja kalo ada waktu.haha… Parah memang 😂

JLPT N5 itu kan tingkat dasar, sebagian besar aku hanya me-review pelajaran yang pernah aku pelajari pada zaman purba dulu. Sebagian besarnya sudah hafal sih jadi nggak terlalu takut gimana-gimana. Tapi tetep aja ada banyak hal yang baru aku mengerti akhir-akhir ini seperti fungsi partikel dan tata bahasanya. Aku print-out kosakata N5 yang aku copy dari website-nya evergreen. Aku fotokopi juga kosakata N5 dari buku sebagai pelengkap. Buku yang kupakai bukan Minna no Nihongo karena aku hanya punya yang versi full kanji. Tapi yang kupakai itu buku dengan penjelasan Bahasa Indonesia. Lebih mudah dimengerti. Selain itu, aku baca-baca lagi buku catatan yang telah kubuat. Supaya kanji dan kosakata bisa diingat, aku membacanya setiap hari. Yang sudah aku hafal aku beri tanda ceklis. Kalo dipelototi tiap hari lama-lama juga hafal. Aku ada cara lagi untuk belajar yaitu menerjemahkan artikel di majalah lalu kutulis di Twitter. Memang aku belum menguasai dan masih bergantung dengan Mbah Google, Google Tranlate, dan aplikasi Weblio tapi dengan begitu aku bisa hafal kanji dan penggunaan partikel sedikit demi sedikit. Karena nanti terjemahan bakal dibaca orang, jadi aku harus benar dong terjamahinnya. Artikelnya tentang apa? Ya, Bi Shonen dong. Lagi ngebucin anak-anak itu.hehe…

Eh, Sekarang Nggak Boleh?

Sekitar bulan November, panitia JLPT mengumumkan tempat dan jam untuk ujiannya. Peserta tes N5 yang berjumlah 583 ditempatkan di SMKN 3 Yogyakarta seluruhnya. SMKN 3 terletak di daerah Jetis. Oh iya lupa bilang, aku tesnya nggak sendirian tapi bareng kedua adikku Bety dan Novi. Mereka ambil N5 juga jadi kita bisa belajar bersama. Kami bertiga pergi hari Sabtu supaya nggak terburu-buru. Karena ada kosnya adik jadi bisa santai.

Tes dimulai pukul 10.00 tapi peserta harus datang paling telat jam 09.30 untuk penjelasan peraturan tes. Kami ke TKP sekitar jam 09.00 dari kos nggak jauh kok cuma 15 menit naik gocar. Hal pertama yang kulakukan setelah sampai di lokasi adalah mencari ruangan tes. Aku dan Novi dapat ruang 95 sedangkan Bety jauh sendiri yaitu ruang 45. Padahal daftarnya sama yang membuat kami terpisah itu karena bayarnya di jam yang berbeda. Ruang 95 terletak di lantai 2 paling pojok kanan. Setelah mengantar Bety di ruangannya yang jauh banget itu, aku dan Novi langsung ke ruang 95. Nggak perlu waktu lama, dua orang pengawas yang terdiri dari wanita muda dan bapak-bapak datang memasuki ruangan. Peserta diperbolehkan masuk. Tas ditaruh di depan kelas. Aku membawa papan alas ujian, kartu ujian, KTP dan tempat pensil. Tapi pengawas yang wanita menegaskan dengan suara lantang kalau yang boleh dibawa di tempat duduk hanya kartu ujian, KTP, pensil, rautan dan karet penghapus saja. Selain itu nggak boleh. Terpaksanya papan yang baru kubeli harus kukembalikan ke dalam tas. Padahal mejanya nggak rata dan berdebu. Aku lap aja pake tangan biar nggak kotor kertasku. Lalu nggak lama setelah itu pengawas yang wanita itu datang ke mejaku dan bilang “tidak boleh pakai tempat pensil.” Terus satu lagi peraturan yang bikin aku kaget, penghapus nggak boleh ada pembungkusnya kalau ada silakan dilepas. Ya ampun. Dikira kita sempet nyontek dengan waktu tes segitu mepetnya. Heran. Dulu kok boleh bawa papan dan tempat pensil. Apa sekarang sudah beda peraturannya. Lebih ketat begitu.

Pukul 09.35 pengawas membacakan peraturan tes dan membagikan lembar jawab. Lembar jawab terdiri dari 3 lembar kertas yang disatukan. Jadi nanti di peel off dulu sebelum diisi identitasnya. Lembar paling atas berwarna merah untuk mojigoi dan kanji (kosakata dan kanji), lembar kedua berwarna ungu untuk bunpo dan dokkai (tata bahasa dan wacana) serta lembar warna coklat untuk chokkai (pendengaran). Peserta diperbolehkan mengisi sambil mendengarkan penjelasan dari pengawas. Lembar jawabnya boleh diisi identitasnya sekaligus atau boleh juga diisi yang warna merah dulu. Nggak usah khawatir nanti pergantian tes ada waktu jedanya kok. Identitas yang harus diisi adalah nama lengkap dengan huruf balok, tanggal lahir dengan penulisan tahun – bulan – tanggal dan nomor peserta yang harus dihitamkan. Lembar soal sudah dibagikan tapi peserta nggak boleh membukanya sebelum waktu yang ditentukan. Yang boleh dilakukan hanyalah mengisi nama dan nomor di cover lembar soalnya.

Sebelum dimulai pengawas yang ketat itu kembali mengingatkan untuk menonaktifkan ponsel dan melepas jam tangan beralarm. Karena bunyi sekecil apapun adalah fatal, peserta bisa dikeluarkan dan nggak diperbolehkan mengikuti tes.

Duh, Kenapa Begini Ya?

Bentuk soal nggak berubah sama sekali. Persis dengan apa yang kukerjakan di rumah sebagai simulasi. Aku mengerjakannya dengan penuh percaya diri. Nggak ada kesulitan berarti. Meskipun untuk kanji dan mojigoi ada satu dua yang terlupa. Sesi pertama cukup singkat yaitu 25 menit. Setelahnya ada istirahat 15 menit. Kupikir boleh keluar ruangan, lumayan bisa buka buku sebentar. Eh ternyata peserta tetap berada di dalam kelas. Tapi diperbolehkan buat yang mau ke toilet.

Sesi kedua waktunya 50 menit karena kalimatnya panjang-panjang. Aku nggak ada kesulitan yang berarti dan hanya mengkhawatirkan tipe soal menyusun kata, yang ada tanda bintangnya itu lho. Itu bagian yang paling terakhir kukerjakan. Setelah bel tanda berakhir, peserta diperbolehkan keluar ruangan. Luamayan bisa buat minum dan baca buku sekilas.

Sesi terakhir adalah chokkai atau pendengaran. Nah, kelemahanku di sesi ini. Aku sempat berlatih sih tapi kurang maksimal. Sepuluh tahun yang lalu tes chokkai dilakukan menggunakan radio tape portable gitu. Sekarang pakai speaker yang ada di dalam kelas. Jadi suaranya ngebass banget dan nggak jelas. Beda kalau latihan di rumah pakai headset sehingga ngerti apa yang dibicarakan. Parah banget. Sebenernya aku tahu maksud dari pertanyaannya tapi dialognya nggak ngerti lagi deh. Kebanyakan ngawur tuh jawabku. Sebel banget! Oh ya, chokkai waktunya 30 menit dan hanya diputar sekali. Pasrah. Dan tahu nggak setelah tes selesai kepala langsung cenat cenut. Duh!

Oh iya, hampir lupa. Setelah selesai tes aku tanya Bety tentang pengawasnya apakah sama ketatnya dengan pengawas di ruanganku. Ternyata nggak lho! Di ruangannya dia boleh bawa papan dan tempat pensil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s